April 20th, 2012 »
.
Ada satu dua momen dimana secara tak terduga Anto Arief tiba-tiba muncul di depan pintu kantor saya—ruangan di sudut sebuah perpustakaan di Bandung—dan prasangka yang selalu berkelebat di kepala saya adalah: apakah itu Dian Pramana Poetra, sedang berkunjung mau pinjam buku? Di beberapa kondisi tertentu, misalnya kurang tidur atau alpa memakai kacamata, penglihatan saya (dan mungkin juga Anda) sekilas bakal terkecoh mengiranya sebagai Dian Pramana Poetra dalam versi yang tertukar; lebih muda, langsing, sedikit canggung dan peragu. Tapi memang selalu begitu: Anto akan tetap berdiri mematung tepat di depan pintu, seperti ragu-ragu harus menyapa dulu atau lebih baik menunggu, hingga akhirnya saya benar-benar menoleh dan melambaikan tangan; dan dia pun nyengir, senyumnya setipis kumisnya.
Akhir-akhir ini saya mulai sering membicarakan musik funk bersamanya, membahas film-film blaxploitation, menghadiahi laserdisc konser Gil Scott-Heron (salah satu pahlawan musik terbesarnya) di hari ulang tahunnya, tapi minat Anto Arief terhadap genre musik itu rasanya sudah diketahui banyak orang. » Read the rest of this entry «
December 18th, 2011 »
.
Di saat yang hampir berbarengan dengan seorang kawan baik menuliskan pengamatannya yang jeli tentang tren saksofon di kancah musik populer 2011, saya membuka-buka koleksi majalah tua saya yang menumpuk di gudang dan menemukan sesuatu. Majalah Intisari no. 52, Nopember [sic] 1967 memuat artikel lima halaman tentang sejarah penemuan saksofon. Ceritanya seru dan mengundang rasa haru. Penuh semangat saya mengetiknya ulang—secara manual, bukan memindainya dengan perangkat lunak tertentu—untuk di-post di sini. Saya sengaja mempertahankan ejaan lamanya. Eh, maksud saya: Saja sengadja mempertahankan edjaan lamanja. Selamat membatja. » Read the rest of this entry «
November 10th, 2011 »
.
Aku senam, maka aku ada.
Mengenang kembali Senam Kesegaran Jasmani (SKJ), senam wajib yang sempat populer di era Orde Baru, sejatinya adalah mengulang pengalaman-olahraga-empat-menit yang absurd. Atas nama nostalgia, saya mengunduh file musik pengiring SKJ ’88 dari internet, berdurasi 04:19, lalu menyetelnya keras-keras di kamar.
Mendapati intro lagunya berupa bunyi peluit yang bersahut-sahutan—saya baru menyadarinya sekarang—langsung muncul prasangka di kepala saya: jangan-jangan itu semacam perlambang obsesi Orde Baru atas ketertiban dan stabilitas, karena bukankah itu gunanya peluit? Pak Polantas nan gendut meniupnya di jalan raya demi menyetop sepeda motor yang melanggar lampu merah. Wasit sepakbola memakainya di lapangan untuk menyemprit bek kiri yang terlalu keras mengganjal penyerang lawan. Dan bagaimana mungkin saya lupa guru olahraga di SD dulu, yang setelan baju training dan wibawanya terasa kurang afdol jika tanpa kalung peluit di lehernya? Dialah yang biasa berteriak-teriak lewat pengeras suara setiap Jumat pagi, sambil sesekali membunyikan peluit saktinya, gusar karena murid-muridnya sangat susah untuk sekadar berjejer rapi di halaman sekolah. Setelah barisan dirasa cukup solid dan enak dipandang, barulah semuanya—guru, murid, karyawan TU, tanpa terkecuali—dengan semangat “tiada hari tanpa olahraga” tunduk patuh pada tape compo butut yang mengumandangkan komposisi gagah karya N. Simanungkalit itu. » Read the rest of this entry «
October 2nd, 2011 »
.
Di jadwal RRRec Fest pada peringatan 10 Tahun ruangrupa awal Januari 2011 lalu, tertera jelas: Zeke Khaseli bakal bermain di panggung outdoor setelah Bangkutaman. Dari kejauhan terdengar intro lagu “Blue Bird Taxi”, saya langsung bergegas sambil menyesal kenapa datang terlambat. Sesampainya di sana, ada pemandangan mengherankan. Tak ada Zeke di situ. Di atas panggung, sekelompok anak muda tampak cuek memainkan lagu itu dengan gaya indie-rock lo-fi ala Pavement. Lagu-lagu berikutnya pun dibawakan tanpa basa basi, semuanya bergulir cepat, ringkas, tanpa penjelasan. Dan tak satupun dari mereka mengenakan kostum-kostum aneh: tak ada Boylien, Obama berkepala besar, pria dengan helm dan piyama, bunyi sirene, ataupun poster salak. Ada apa ini? Kenapa bukan Zeke Khaseli dan pasukan bertopengnya yang memainkan repertoire Salacca Zalacca? » Read the rest of this entry «
September 1st, 2011 »

.
“return i will
to old brazil”
» Read the rest of this entry «
August 14th, 2011 »
.
“Set your guitars and banjos on fire,
and before you write a song: smoke a pack of whiskey
and it’ll all take care of itself.”
—Beck
Kami bertiga (Budi, Bada, dan Badu) di Kompleks Timbuktu Permai ini merasa melihat betapa nge-band sepertinya cool. Padahal tak satupun dari kami yang bisa memainkan instrumen musik apapun dengan benar. Tapi kami cuek, karena denger-denger ‘cuek’ itu juga cool.
Segepok rencana pun disusun, dan rencana kami paling dekat adalah: ‘menjadi band terkenal’. Kalau bisa secepatnya. Karena itu kami berniat untuk berlatih keras di garasi tua bobrok di bawah rumah pohon kami, sebab denger-denger banyak band terkenal yang memulai karirnya dari tempat-tempat cool semacam itu. » Read the rest of this entry «
August 1st, 2011 »

“The grunge ended when everyone in Seattle discovered dry-cleaning.”
— Mo Rocca
» Read the rest of this entry «
July 15th, 2011 »
May 21st, 2011 »

Hmm, lucu juga idenya. 10 Penyanyi Perempuan Terfavorit? Baiklah, daftarnya diubah sedikiiit menjadi: » Read the rest of this entry «
March 23rd, 2011 »

dina-dina kepungkur sing nyenengake, saiki muspra lan sirna. saben dak cedhaki, sliramu mesthi nutupi. ana apa ta ya, tresnamu lan tresnaku, aku kandhanana. mbiyen tanpa susah, mbiyen tansah bungah. nalika ing sisihmu, apa sliramu ora krungu: “S.O.S.” tresnamu marang sliraku, ora ana liya kejaba iku, sing bakal nyelametake aku: “S.O.S.” » Read the rest of this entry «