Category Archives: Musik

Satisfeksyong

 

Apa yang bikin sebuah cover version menjadi sebuah cover version yang bagus? Jawaban males paling praktis adalah: entahlah, seperti alam semesta, musik bekerja dengan cara misterius, nggak ketebak, bola itu bundar, tak terukur, dsb., dst. Sudah banyak teori atau artikel ditulis mengenai resep-resep agar cover version itu ‘berhasil’, seperti sebaiknya ada unsur “pemaknaan baru”, “harus terdengar sangat kamu”, Continue reading

Bersatulah Kaum Kera Seantero Jagat

Dari baca-baca National Geographic saya baru tahu ada yang namanya International Monkey Day alias Hari Munyuk Sedunia dan itu jatuh pada hari ini, 14 Desember. Sebagai primata eh maksud saya pria matang (primatang!) bershio Monyet saya hapal banyak trivia facts soal munyuk, tapi sudahlah, buat apa pamer hal-hal unfaedah seperti itu. Saya juga bisa dengan cepat menyebutkan ehmm, sekian puluh album musik bersampul monyet, bahkan sekian ratus (lebay) lagu bertema monyet, Continue reading

Gundala oh Gundala

*mungkin mengandung spoiler

Persis di hari Friday the 13th kemarin di mana bulan purnama lagi bulat-bulatnya saya malah teringat kembali tokoh Ghazul di film Gundala-nya Joko Anwar (2019), diperankan oleh the one and only Ario Bayu. Menurut saya Ario Bayu adalah salah satu aktor terbaik Indonesia dengan jatah-jatah peran yang kerapkali memble, tapi begitu dia dapet karakter yang pas, Continue reading

Iringi Deru Mesin-mesin, Iringi Tangis yang Kemarin


Kalau ada semacam daftar “lagu-lagu yang dibawakan sejelek apapun tetap masih lumayan” menurut saya lagu ini harus masuk, bahkan kalau perlu di posisi teratas. Saya pernah beberapa kali merekam di handphone lama saya, lagu “Terminal” dicover oleh para pengamen di atas bis kota, di depan lampu merah perempatan, di angkringan, stasiun sepur, dan ya, tentunya di terminal; nggak ada satu pun yang gagal bikin saya merinding. Termasuk yang paling baru, Continue reading

Yang Dulu Damai dan Tak Gersang

Pada sekitar pertengahan dekade ‘80an, perawakan dan tangan saya sudah cukup besar untuk bisa memegang sapu lidi sendiri dan tugas harian saya adalah sore-sore menyapu halaman rumah, yang seingat saya cukup luas waktu itu, dipenuhi pohon mangga, jambu, dan nangka. Dua kakak saya tugasnya mengepel lantai dan menimba air sumur untuk mengisi bak mandi. Saya lebih memilih nyapu latar karena menurut saya itu lebih praktis, Continue reading

Bandempo dan bandempo-bandempo lainnya

Akhirnya nemu juga foto Bandempo! Ini pelawak Srimulat era 1970an yang dijadikan nama band di scene Institut Kesenian Jakarta (IKJ) 2000an. Setelah lama mencari-cari ke sana-sini akhirnya saya mendapati fotonya di sudut kanan bawah salah satu halaman di majalah Tempo edisi 1974. Sebetulnya di kaset-kaset lama Srimulat sering ada foto show mereka di atas panggung, Continue reading

Film Akhir Pekan: Kipas-kipas Cari Angin

Di film keluaran 1989 ini sutradara Nja’ Abbas Akup (yang oleh kritikus Salim Said pernah disebut “tukang ejek nomor wahid”) menyandingkan Deddy Mizwar dengan Nurul Arifin; aktor dan aktris yang nyaris 30 tahun kemudian sama-sama ikut berlaga di ajang pilgub Jabar dan pilwalkot Bandung, 2018. Juga ada Pak Tile—di credit title tertulis Tile bin Bayan—yang di menit-menit awal sudah muncul dan langsung mencuri perhatian, Continue reading

Oom Dolby

Tiga plat 7-inch ini saling berhubungan. Begini. Dulu sekitar pertengahan 1998, di sela-sela nonton siaran langsung Piala Dunia 1998 bareng tukang-tukang bangunan yang memperbaiki rumah bapak saya (favorit mereka Davor Suker!), saya sering mendengar lagu “Video Killed the Radio Star” Continue reading