Selamat Jalan, Lupus

Buku Lupus pertama saya Topi-Topi Centil. Kakak saya membelinya mungkin di Jogja circa 1990, saya baca-baca di rumah kami di Jateng bersama beberapa judul lain yang sepertinya tertukar-tukar timelinenya di ingatan saya. Mungkin sekaligus dengan buku Tangkaplah Daku Kau Kujitak!, atau malah Idiiih, Udah Gede ya? Itu kali pertama saya, umur 10 dan ndesit, menyerap dengan sadar kisah remaja kota besar yang jelas latar geografisnya yaitu Jakarta (“Terminal bis Grogol dipindahkan ke Kalideres, itu lho, dekat Kalifornia”!), karena cerita-cerita bersetting lokal di majalah anak-anak Bobo yang biasa saya baca waktu itu hampir selalu dikaburkan nama kota atau desanya. Di fase kurang lebih bersamaan saya juga sedang terkesima dengan kolom-kolom Pak Kayam soal hal-hal keseharian Pak Ageng yang remeh temeh, “busa”, yang banyak menyebutkan nama-nama tempat mulai dari mBantul hingga Geneva, dari Rumbai lalu ke Paris, di koran Kedaulatan Rakyat yang bapak saya langganan di rumah. Judul-judul di buku Lupus yang kocak dan buih-buih di kolom Pak Kayam yang cosmopolitan itu membuka mata dan pikiran saya yang cosmondesitan ini betapa tulisan keren tidak harus dijuduli secara ngoyo, atau ‘mbentoyong’ kalau istilah kami dulu. “Mobil Boim Butut Sekali”, “Hari Paling Sial Dalam Hidup Nyit-Nyit”, “Nyontek Itu Usaha”, “Vita Lagi ke Salon”! Kenapa judul-judul Lupus itu selalu punya vibes yang childlike tapi juga sekaligus bisa deep? Ketika harus menjuduli naskah-naskah tak berjudul dari banyak draft tulisan di laptop untuk dimasukkan ke buku, yang terbayang di benak saya malah judul-judul Lupus di Topi-Topi Centil. “Gusur, Masih Ada Becak yang Bakal Mangkal” misalnya—plesetan dari film Arini, Masih Ada Kereta yang Akan Lewat (1987), sebagaimana Tangkaplah Daku, Kau Kujitak! di buku pertama Lupus, dari film Deddy Mizwar—adalah plesetan-plesetan judul yang paling awal saya kenal dalam hidup yang fana ini. Cinta pertama selalu lekat, dan kalau cinta sudah melekat, tai kucing rasa coklat. Tulisan saya soal Gombloh dan topi-topinya hampir saya juduli “Topi-Topi Gombloh”, haha, tapi kemudian saya ganti jadi “Di Studio, Aku Incar Topi Kesayanganmu”. Bahkan itu pun masih mengekor modus plesetan ala Hilman! Pak Kayam saya ingat juga pernah menjuduli salah satu kolomnya, “Di Radio, Aku Dengar”, di mana Beni Prakosa menyanyikan lirik Gombloh dengan suara cadel sehingga Pak Ageng menyebut si bocah tengil itu telah dimasukkan oleh Mr. Rigen, “jadi kader Gombloh”. Ketika ada seorang kawan lama mengirim pesan via WhatsApp ke saya begini, “Bukumu ini kan Mangan Ora Mangan Kumpul ditulis pakai gaya Lupus..”, saya anggap saja itu pujian. Menurut dia, saya sering menjejerkan yang lokal dengan interlokal dan internesyenel, mengingatkannya ke judul esai Pak Kayam, “Haagen Dasz vs. Es Tung-Tung”. (Penyandingan itu, meski sedikit berbeda, dirasakan pula oleh seorang teman lain, mereka tidak saling kenal, yang mengulas buku saya di blognya.) “Lha itu judul ‘Ki Alit Ricet’, halo ‘Ki Urip Prasojo’?” Sejujurnya saya malah sudah lupa judul Pak Kayam yang terakhir itu, tapi saya iya-iya aja. Perasaan justru komik mbambung di majalah MOP dari Semarang—bukan kebetulan saya konsumsi di era itu juga—yang lebih mempengaruhi penjudulan obituari saya untuk Little Richard itu? Ada satu panel di halaman komik itu yang awet di ingatan saya: seorang manusia laba-laba, digambarkan pakai blangkon, nangkring di pohon. Sosok superhero mashup itu oleh komikusnya dinamai Ki Ageng Spiderman, dus keluarlah judul “Ki Alit Ricet” di tulisan saya. Meski komentar teman lama tadi itu tidak sepenuhnya akurat (saya tidak merasa menulis dengan gaya mereka, kecuali cara penjudulan tadi itu; lagipula tidak ada karakter Boim/Gusur/Anto/Fifi Alone di buku saya, begitu pula Mr. Rigen, Prof. Dr. Lemahamba, M.A., M.Sc., Ph.D, dan saya lebih banyak membahas remah-remah musik ketimbang sate usus atau penggeng eyem), dada ini tetap menghangat. Air mata saya menetes tadi pagi membaca berita kepergian Hilman, dari link yang dikirim kakak saya di WhatsApp group keluarga. Di Instagram saya mendapati orang-orang seumuran saya (kira-kira plus minus tiga tahun) banyak berduka dengan menulis caption mengharukan sambil mention akun IG almarhum Hilman. Makin ke sini saya makin bisa mengerti kenapa orang-orang di socmed sering mengenang idola mereka yang baru saja meninggal dengan lebih bercerita soal dirinya sendiri. Cara berkabung semacam itu ungkapan terima kasih karena sang idola sangat berjasa bagi perjalanan hidup mereka para penggemarnya, sekaligus barangkali pengingat pada diri sendiri bahwa kita semua akan menyusul sewaktu-waktu? Tulus atau tidak ucapan terima kasihnya (sedikit bercampur dengan hasrat pamer koleksi, misalnya) itu urusan masing-masing. Saya tadi juga tergopoh-gopoh mengeluarkan dari rak, laserdisc Makhluk Manis dalam Bis (1987), yang saya dapati sudah sama berdebunya dengan alat pemutarnya di bawah televisi. Saya menimang-nimang keping disc raksasa itu bersama keping-keping mungil VCD dua film Lupus lainnya (Tangkaplah Daku Kau Kujitak dan Topi-Topi Centil) yang sampul-sampul plastik tebal di covernya sudah saling lengket dimakan lembab. Rasanya saya hanya pernah memutar film-film itu masing-masing satu kali sejak menemukannya di loakan beberapa tahun lalu. Film Topi-Topi Centil, judul ketiga si Lupus di layar lebar, untuk pertama kalinya (sekaligus satu-satunya) memasang Hilman sendiri sebagai pemeran Lupus. Sebelum dan sesudahnya, kita tahu, peran itu identik dengan aktor legendaris alm. Ryan Hidayat. Salah satu flyer film itu mencoba menggaet calon penonton lewat copywriting meyakinkan, “Lebih Paten, Lebih Keren, Lebih Trendy dari Lupus 1 & 2”. Perangkat pemutar VCD lungsuran dari perpus kami yang sudah lama tidak dipakai pun sekarang sudah entah ada di mana. Saya buka YouTube untuk kembali memastikan bahwa Inneke Koesherawati memang mendapat peran kecil di film keempat Lupus, Anak Mami Sudah Besar, sebagai salah satu dari gerombolan anak SMA teman-temannya alm. Nike Ardilla. Artinya, Inneke sudah tampil di layar lebar setidaknya dari tahun 1990, bukan 1991 seperti yang tertera di sebuah database perfilman nasional. Dari dulu sampai sekarang saya belum mahir-mahir juga menggelembungkan permen karet dari mulut sebagaimana ciri khas karakter Lupus, bahkan sampai si penciptanya berpulang ke Sang Maha Pencipta hari ini. Saya bisa bikin balon ludah dan melambungkannya lewat ujung lidah ke udara, apakah itu dihitung? Satu hal yang sepertinya juga tidak akan bisa saya lupakan sampai nanti giliran saya tiba: Hilman Hariwijaya wafat tepat di Hari Musik Nasional. Jadi saya putar saja seharian ini kaset musik dia bersama teman-temannya. Trims, Pus!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *