Ticket to Ride

Bioskop di sebuah mall di Solo sekitar 1995-1998 saya amati membedakan warna-warna teks di karcisnya: font merah untuk tiket masuk studio 1, biru untuk studio 2, dan ungu untuk studio 3. Nomor kursi yang dipilih penonton ditulis di karcis secara manual oleh petugas loket memakai spidol, dengan warna-warna yang juga dibedakan dari font-font utama di desain karcisnya. Mungkin supaya lebih mudah terbaca di bawah lampu yang meredup di pintu masuk. Info tanggal pemutaran dibubuhkan dengan cap stempel, begitu pula jam tayangnya. Sebagai perbandingan, di karcis bioskop sebuah mall di Bandung di era kurang lebih sama, info tanggal tidak dicantumkan, nomor kursi ditempel di karcis dengan stiker label, dan tertera harga tiket masuk (yaitu Rp8.000 di tahun 1998). Di Solo malah tidak tercantum info HTM di karcisnya, tapi saya masih ingat nilai nominalnya untuk tahun-tahun tersebut karena persis seharga majalah Hai terbaru kala itu, Rp3.500. Film-film Hollywood yang saya tonton ketika itu pun banyak dipengaruhi ulasan-ulasan di Hai, seperti Con Air (saya ingat di radio di Solo sempat mengudara lagu “How Do I Live” dalam dua versi sekaligus, Trisha Yearwood dan LeAnn Rimes), Independence Day (jam tayangnya rada kagok karena durasi hampir 2.5 jam, banyak teman SMA saya yang datang ke bioskop masih berseragam sekolah, tidak sempat pulang ganti baju dulu), The Fifth Element (space opera dengan Chris Tucker stealing the show; saya bergegas ke bioskop begitu tahu ini sutradara Léon: The Professional!), The Jackal (ada yang ngeh karakter yang muncul sebentar sebelum dibombardir superbazooka itu Jack Black?), dsb., dst., bahkan termasuk, ehm, Titanic. Untuk judul terakhir itu sebetulnya saya lebih tertarik pada surat pembaca di majalah Hai, di mana pengirimnya mengaku kakeknya adalah salah satu anak kecil penumpang kapal Titanic, yang karena mendapat prioritas untuk duluan naik sekoci darurat, berhasil selamat dari tragedi tenggelamnya kapal pesiar itu, April 1912. Sayang sekali edisi itu malah luput saya kliping. Dari kebiasaan menyimpan tiket-tiket bioskop di masa remaja, terutama menambahkan catatan alakadarnya dengan tulisan tangan di sisi kertas sebaliknya, setidaknya sekarang saya jadi tahu film Romeo + Juliet (sutradara Baz Luhrmann) yang di sononya rilis di akhir 1996 ternyata baru mendarat di jaringan bioskop 21 di Solo sekitar setengah tahun lebih setelahnya. Saya ingat di akhir film terdengar satu lagu Radiohead yang perasaan kok nggak pernah ada di kaset-kaset mereka? Ternyata itu memang lagu baru, “Exit Music (for a Film)”, nantinya bakal muncul di album OK Computer (1997), yang kasetnya baru beredar di toko-toko musik di Solo setelah film Romeo + Juliet tadi tayang di bioskop-bioskop. Scene terkenal dari film itu, baku tembak di pom bensin, yang oleh sebuah ulasan disebut “a 90s MTV version of High Noon” memang terasa lebih gimanaa gitu di layar lebar, daripada ketika saya tonton ulang lewat format laserdisc beberapa waktu setelahnya. John Leguizamo, si pemeran Tybalt Capulet sepupunya Juliet, juga tampil keren di film lain, Spawn (1997), di mana dia harus menekuk lututnya sepanjang syuting untuk memerankan sosok mengerikan Clown yang memang digambarkan berkaki pendek. Film Leguizamo lainnya, To Wong Foo, Thanks for Everything! Julie Newmar (1995), saya temukan dalam bentuk kaset VHS di sebuah bekas rental video yang sudah berubah jadi apotek. Dari tempat itu, lebih tepatnya lewat kartu namanya, saya pertama kali mengenal langsung istilah ‘palwa’, tempat rental film. (Saya tidak ingat pernah melihat kata itu di Kamus Besar Bahasa Indonesia dari era itu, tapi malah mendapatinya di sebuah artikel tentang kaset video di majalah TEMPO edisi akhir dekade ’80an. Di kemudian hari, Kamus Lengkap Indonesia-Inggris oleh Alan M. Stevens dan A. Ed. Schmidgall-Tellings terbitan Mizan, 2008, di hlm. 698 memuat entry ‘palwa’, yang diartikan “[penjualan dan penyewaan]” dan diterjemahkan sebagai “(video) sales and rentals”.) Di punggung VHS, judul film ditulis lebih ringkas dengan mesin tik menjadi To Wong Foo saja, dan saya lihat pita kasetnya sudah mulai berjamur. Gambarnya di layar kaca jadi penuh semut ketika saya putar di klub film di kampus, bersama laserdisc film-film lainnya dari era itu seperti The Little Rascals, Don Juan DeMarco (videoklip lagu “Have You Ever Really Loved a Woman?” yang tayang di televisi Indonesia saat itu kena banyak sensor), Ed Wood-nya Tim Burton, Heavenly Creatures, Shallow Grave-nya Danny Boyle yang saya tonton justru setelah Trainspotting (adegan openingnya agak mirip), dsb., dst. Di karcis-karcis bioskop Solo tadi terkadang saya bubuhkan juga nama-nama dengan siapa saya biasa nonton bareng waktu SMA, seringnya pakai pulpen populer saat itu merk Pilot, beberapa kawan baik seperti Sigit dan Akbar. Misalnya di karcis film Space Jam (1996), ditonton akhir April 1997. Saya ingat kurang menikmati film itu. Sepertinya saya menaruh kepercayaan berlebih pada Akbar yang memang menggemari film-film animasi, apalagi dulu kami pernah nonton bareng Toy Story (1995) setelah pekan tes sumatif selesai dan itu memang keren, yang dari sisi teknologi maupun pencapaian estetika melesat jauh meninggalkan kolega-koleganya di liga box office seperti Aladdin (1992) atau Lion King (1994). Saya pikir Space Jam bakal seasyik Toy Story, salah besar. Dari beberapa animated movies di masa itu, mungkin cuma The Nightmare Before Christmas (1993) yang bikin saya takjub. Di karcis Turbulence (1997), ditonton di bulan Juli 1997 bersama seorang teman lainnya, saya nggak ingat kenapa ada catatan “ribut, keluar sebelum film kelar”. Rasanya lebih seru disaster movie lainnya, Twister (1996), yang endingnya jadi terasa kocak lantaran di hari-hari itu saya hampir selalu bawa masuk Pepsi kaleng ke bioskop. Ada film lain yang saya juga walkout sebelum selesai, G.I. Jane (1997), kalau yang ini masih ingat kenapanya: saya datang dengan badan basah kuyub setelah kehujanan di atas motor seseorang, sementara pendingin ruangan di dalam bioskop—fasilitas yang dengan bangga mereka sebutkan di karcis, “Central AC dan Dolby Stereo”—hanya bikin kami tambah menggigil kedinginan. Film Demi Moore digunduli itu kelak dijadikan referensi Chris Rock melempar jokes di malam Oscar 2022 sehingga Will Smith merasa berhak menamparnya. Tiket film G.I. Jane itu tidak saya simpan, keburu hancur oleh air hujan yang menerobos saku celana. Salah satu yang masih tersimpan baik adalah karcis bertanggal 13 Agustus 1997. Seperempat abad berselang, 14 Agustus 2022 lalu, Joko Anwar bikin marketing gimmick untuk film horor terbarunya, Pengabdi Setan 2: Communion, dengan mengadakan pemutaran khusus di sebuah bioskop tua di Solo yang sudah beberapa tahun tidak lagi beroperasi. Itu bioskop langganan saya dulu! Terpantau di IG stories, penggemar yang antusias datang berbondong-bondong, mengular di lorong bioskop. Saya malah terbayang seseorang diam-diam ikut mengantri, wajahnya tidak begitu jelas karena menunduk di balik hoodie dan terhalang masker. Di bawah keremangan cahaya lampu, dia sodorkan karcis tua persis seperti yang saya simpan selama ini ke penjaga pintu. Tak seorang pun menyadari, sampai beberapa saat kemudian, karcis itu berubah menjadi daun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *