Punk Pink Ponk!

Majalah Gadis di edisi 24 April 1978 memuat ulasan album Never Mind the Bollocks. Artinya, kurang dari setengah tahun sejak album The Sex Pistols itu dirilis akhir 1977, sudah ada ulasannya di media lokal Indonesia. Majalah Aktuil tentu juga sudah membahas punk saat itu, tapi ini Gadis, majalah remaja putri! Saya terlambat belasan tahun membaca Gadis edisi tersebut, pertama kali saya temukan di sela-sela tumpukan majalah bekas di loakan buku di dekat bioskop, sekitar 1989, ketika saya masih kelas 3 SD. (Bioskop sedang memutar Tjoet Nja’ Dhien, dan yang paling menancap di ingatan dari film itu adalah adegan Christine Hakim sudah nyaris buta saat harus bergerilya masuk ke hutan belantara, kehujanan dan kelelahan.) Saya ingat saya membuka-buka acak halamannya, jari mendarat di rubrik Gadisco dan di situ ada satu kalimat yang langsung mencuri perhatian saya, “”No Feelings” misalnya, adalah suatu refleksi dari masyarakat yang egosentris dan apatis.” Di masa itu saya sudah mengenal kata “apatis” dari judul lagu yang dinyanyikan Benny Soebardja di kaset Lomba Cipta Lagu Remaja (LCLR) 1978 yang sampulnya warna oranye, tapi bagaimana dengan “egosentris”? Saya hanya bisa menebak-nebak artinya, dan tidak ada jawaban cukup terang dari kakak saya. Mungkin kata tersebut tak pantas diucapkan, apalagi dibahas, di era Orba yang serba harmoni, tepa selira, gotong royong dan kerja bakti? Ulasan itu lama bersemayam di ingatan saya. Tiga dekade kemudian, tepatnya beberapa hari lalu, dari gerobak tukang loak saya bertemu kembali dengan majalah Gadis dalam edisi nomor yang persis sama. Tampak pinggiran sampulnya sudah geripis dimakan waktu. Saya salut bagaimana Gadis terutama pada edisi-edisi akhir ‘70-an awal ‘80-an rajin membahas musik Indonesia, padahal mereka bukan majalah musik. Porsi artikel tentang musik-musik Barat juga lumayan. Wajar kalau saya dulu sering menganggap redakturnya sangat paham musik, bahkan terdepan, dan mengonsumsi langsung rilisan-rilisannya dari tangan pertama? Namun di zaman internet seperti sekarang ini, hal-hal yang dulu tampak seru sering mendadak anyep karena verifikasi adalah sesuatu yang teramat mudah dilakukan. Lewat mesin pencari Google saya mendapati ulasan singkat album Never Mind the Bollocks di majalah Gadis tahun 1978 tadi itu ternyata cuma terjemahan mentah-mentah dari kolom review di sebuah majalah Amerika, Cash Box, edisi November 1977. Kalimat dengan kata “egosentris” itu aslinya begini, “The narcissism in “No Feelings”, for instance, is merely a reflection of a egocentric, apathetic society in general.” Kenapa terjemahan Gadis menghilangkan kata “narcissism”? Termasuk tabu jugakah pada masa itu? Perhatikan pula kalimat pembuka di review aslinya, “The Sex Pistols, the premier voice in the British punk/new wave movement, have finally made it in the U.S.” Pada versi terjemahan Gadis, kata “punk” juga lenyap, menjadi hanya [sic] “The Sex Pistols, suara pertama dalam gerakan baru di Inggris akhirnya membuat p.h. di A.S. juga.” Istilah ‘p.h.’ di situ adalah singkatan dari piringan hitam. Apakah redaktur Gadis saat itu masih belum memahami sepenuhnya arti ‘punk’, atau mereka enggan mencantumkan? Majalah Aktuil, tentu saja, lebih cuek dan blak-blakan. Istilah ‘punk rock’ sudah mereka cantumkan di edisi-edisi tahun 1976, saat membahas Ramones dan The New York Dolls. Mereka juga pernah memuat ilustrasi kolase foto berisi apa saja ciri-ciri gelombang musik baru itu, ditulis dan disusun sesuai urutan abjad. Puncaknya Mei 1977, kontributor Aktuil yang menetap di Inggris bernama A. Djohari melakukan reportase langsung dari sana. Dia datangi Roxy Club di London, banyak band punk rock sering tampil di situ, dia wawancarai band Siouxsie and the Banshees, bahkan berfoto sambil mendekap sang vokalis, kemudian dijadikannya artikel berjudul [sic] “Aktuil London Lima Malam Disarang Punk-Rock”. Di rak musik saya masih tersimpan dengan baik, piringan hitam favorit saya, The Roxy London WC2, kompilasi live band-band punk yang tampil di klub itu selama Januari-April 1977. Riuh rendah suara penonton yang ikut terekam tak pernah mati di vinyl itu selalu bikin saya merinding, apakah itu termasuk tepuk tangan dan suara teriakan dari A. Djohari? Selain Aktuil tentu ada majalah TOP. Ini majalah musik lokal favorit saya. Remy Sylado resmi keluar dari Aktuil pada 1975, berlabuh di TOP dan langsung geber menggarap nomor-nomor terbaik majalah itu. TOP di edisi akhir 1976 sudah membahas musik punk lewat cover story berjudul “Punk, Apa Pula Itu?” Naskahnya ditulis oleh Theodore K.S. bersama Robani Bawi, dilengkapi kata pengantar dari meja redaksi paling jujur yang pernah saya baca dari masa-masa itu, bahwa artikel tadi itu “dihimpun dari berbagai tulisan yang dimuat dalam majalah dan koran-koran di Inggris, Amerika, dan Jerman”, ditambah laporan koresponden mereka dari Kanada dan Inggris. Format tulisannya berupa kumpulan deskripsi pendek-pendek yang disusun secara alfabetis. Slot huruf ‘U’ dikosongkan dengan keterangan lucu, “Untuk huruf ini, belum ada grup bersedia mengawali namanya.” Berarti para redaktur itu belum terpapar nama-nama seperti U.K. Subs dan The Undertones? Sementara itu, majalah MIDI edisi 16 Desember 1976 mengangkat berita singkat tentang “jenis musik yang kini lagi diperbincangkan”, saat Johnny Rotten, dkk. dari Sex Pistols bahkan belum merilis album penuh mereka, alias baru mau akan. Tagline MIDI adalah “majalah muda-mudi”, kelak di kemudian hari mereka berubah menjadi majalah HAI (di usia berapa Anda tahu itu singkatan dari “Hibur, Asuh, Ilmu”?). Berita tentang kemunculan musik punk rock terselip di antara berita-berita mengenai semakin maraknya tren folk song di Indonesia, yang ditandai dengan kontes musik folk dan vocal group kian menjamur di berbagai kota. Lanskap musik pop Indonesia ketika itu memang sudah diwarnai musik folk. MIDI di edisi lain menulis bahwa salah satu yang memulai tren itu di Indonesia adalah Bimbo. Awal 1973, majalah TEMPO sudah mengangkat Bimbo sebagai cover story. Pertengahan 1974, redaktur TEMPO menggambar sosok Iwan Abdulrachman—pemimpin GPL Unpad, Grup Pencinta Lagu Universitas Padjadjaran—memetik gitar kopong sebagai ilustrasi sampul depan untuk artikel utama berjudul “Kini Lagu Rakyat”. Menurut majalah TOP, 1975–1976 adalah “tahun keemasan bagi rekaman rock di Indonesia”. Album debut God Bless dan Superkid memang muncul di tahun-tahun itu, bukan kebetulan Deep Purple juga konser di Senayan pada akhir 1975; tapi menurut saya tahun-tahun itu sekaligus masa keemasan folk karena dua album musik folk paling menarik di Indonesia juga dirilis: 1) Folk Rock Vol. 1 oleh Remy Sylado Company (istilah saat itu ‘gulayak cadas’, padanan lokalnya folk rock), dan 2) Nyanyian Fajar dari Konser Rakyat Leo Kristi (dirilis oleh majalah Aktuil; yang kalau berdasarkan penuturan Naniel Yakin, musisi asal Surabaya yang ikut terlibat di rekaman, kaset Nyanyian Fajar adalah “rekaman indie pertama di Indonesia”, dan diedarkan lewat agen-agen majalah). Lirik-lirik lagu gulayak cadas Remy Sylado cukup keras dan berani, amatan sosial yang tajam dan jauh lebih bernyali ketimbang musik-musik rock lokal saat itu, misalnya di lagu “Surat Seorang Putera Buat Ibunya”, sehingga radio-radio tidak mau memutarnya. Tahun 1977 tentu menarik karena ada OST Badai Pasti Berlalu karya Eros Djarot, album yang disebut-sebut telah mengubah wajah musik pop Indonesia. Estetika lagu-lagu pemenang kontes LCLR ‘78 bahkan jadi ke-Eros-Eros-an semua; ditambah pula Yockie Suryoprayogo ada di belakang meja arranger kontes tersebut. Bahwa musik punk rock tidak segera menjadi gelombang tren di Indonesia pada awal kemunculannya di Amerika dan Inggris, apakah semata- mata karena minimnya akses lokal ke rilisan-rilisan musiknya, atau ada faktor lain? Soal ini belum bisa diketahui dengan pasti. Sebagai wacana, atau lebih tepatnya berita, musik punk masuk ke Indonesia awalnya lewat majalah anak muda terbitan 1976–1978 seperti Aktuil, TOP, Gadis, MIDI, dan lain sebagainya. Tapi sebagai produk (rilisan musik), saya pribadi belum pernah kenal oom-oom atau tante-tante yang di koleksi platnya terselip rilisan-rilisan awal punk yang mereka beli saat itu juga, persis di masanya. Pada Januari 1976 di Jakarta muncul band bernama Contrapunk, bikinan Tono Supartono (eks pemain bass Bigman Robinson) mengajak Ajie Bandy, seorang pemain biola berlatar belakang musik klasik. Tidak seperti dugaan sebagian orang, nama ‘Contrapunk’ tidak ada kaitan dengan kemunculan punk rock di Inggris dan Amerika, ataupun penolakan terhadapnya (‘kontra’ terhadap ‘punk’), apalagi jika nama tersebut dianggap mengindikasikan kegusaran Yockie S. pada musik punk. Nama band itu bahkan bukan Yockie yang bikin. Ketika itu Yockie masih di God Bless, baru belakangan diajak bantu Contrapunk, menggantikan kibordis sebelumnya. Putri Mohon Diri (1976), satu-satunya album Contrapunk, mencatat kontribusi Yockie itu di sleeve kaset, “Dibantu: Jocky (God Bless)”. Di situ nama Ajie Bandy dieja “Adji Bandi”. Menurut penuturan Ajie Bandy ke majalah Aktuil, nama Contrapunk berasal dari ‘kontrapung’, sebuah istilah di musik klasik, yaitu “[…] berarti saling mengisi. Jadi dalam grup ini, tak ada kekosongan suasana.” Meski tempo musiknya lambat, “Aransemen sengaja saya bikin sedemikian rupa sehingga musiknya nampak padat, montok namun enak didengar.” Aliran musik ini mereka sebut ‘klasik-Bach-rock’. Untuk pendengar yang awam atas jenis musik itu, kata Ajie, “Boleh saja mereka menyebut ‘Contrapunk’ dengan ‘kontrapun’ saja.” Di era itu, dekade 1970-an, salah satu istilah slang untuk menyebut konsumsi morfin adalah ‘ngepun’. “Jadi andaikata ada yang mengartikan nama Contrapunk sebagai anti-narkotik, anti-ngepun, kami juga setuju!” ujar Ajie. Musik-musik klasik karya Bach dirasa Ajie cocok dengan alam Indonesia, sehingga Titiek Puspa dan Grace Simon pun diajak mengisi vokal untuk eksperimentasi klasik-Bach-rock itu di kaset Putri Mohon Diri. Sementara itu, album-album punk rock gelombang pertama Inggris seperti London Calling (1979) dari The Clash, muncul kaset bootlegnya di label Mona Lisa dari Bandung, juga Sex Pistols di label bootleg lainnya, tetapi apakah itu betul dirilis persis di tahun-tahun tersebut, ataukah baru beberapa tahun setelahnya, katakanlah pada awal dekade 1980-an? Di sebuah diskusi beberapa waktu lalu di Jakarta, Eros Djarot mengaku pernah ikut konferensi punk di Inggris (dia sekolah film di London tahun 1976), dan reuni musikal pertamanya dengan Yockie-Chrisye sejak sengketa hukum OST Badai Pasti Berlalu adalah album Resesi (1983), yang disebut Eros “ada pengaruh punk”. Di kuping saya, album itu lebih terpengaruh musik The Police ketimbang punk. Menariknya, Remy Sylado di sebuah wawancara di Bogor juga beranggapan The Police itu punk. Album debut dari The Police, Outlandos d’Amour (1978) dibuka dengan lagu yang cukup punkish, “Next to You”, tapi selebihnya mereka lebih terdengar seperti perpaduan reggae dan power pop. Di Indonesia, debut The Police itu muncul sebagai kaset bootleg rilisan label Saturn dari Jakarta, digabung di satu kaset bersama album kedua Reggatta de Blanc (1979). Seperti tradisi kaset bootleg era pra-lisensi pada umumnya, urutan tracklist diacak-acak dan “Next to You” malah ditaruh di tengah-tengah kaset, ditukar dengan nomor gemulai yang jelas-jelas tidak terdengar seperti musik punk, “Can’t Stand Losing You”. Trio The Police tumbuh jadi band besar dan kerap tampil di stadion- stadion raksasa dengan penonton membludak. Tampaknya ketenaran The Police inilah yang mempengaruhi musisi-musisi pop Indonesia di paruh pertama dekade 1980-an, seperti album Resesi-nya Chrisye tadi itu (simak lagu “Resesi” dan “Lenny”), dan kaset solo Yockie S. yang berjudul Punk Eksklusif (1983). Nama album Yockie itu bikin saya bertanya-tanya, dengan lirik lagu yang malah bercerita soal “naik Merci/ haram naik taksi”, bagaimana sebetulnya pemahaman konsep ‘punk’ dalam benak para musisi Indonesia saat itu? Stewart Copeland, si drummer The Police, belakangan menyebut bandnya sendiri itu sebagai “a Prada suit made of barbed wire”. Apakah falsafah punk yang mula-mula diserap musisi Indonesia justru ‘punk gedongan’ model The Police? Musik-musik dari luar negeri yang di sini dianggap punk selama paruh pertama 1980-an, secara estetika pun lebih condong ke apa yang kemudian disebut genre musik new wave. Kompilasi Punk Rock dari Hins Collection misalnya, sekitar 1982, kebanyakan malah diisi nama-nama musisi new wave, synth-pop, electronic, dsb. Dua nama favorit saya dari kaset itu: Devo “Beautiful World” dan Orchestral Manoeuvres in the Dark “Enola Gay”. Macam-macam majas sudah diajarkan di pelajaran Bahasa Indonesia sejak bangku sekolah menengah, tapi contoh sarkasme paling menarik justru pertama kali saya dapatkan di lagu Devo itu. Dari lirik di sleeve kasetnya saya langsung tahu bahwa “a beautiful world” di situ tidak seindah kelihatannya. Lagu OMD, “Enola Gay”, tentu judulnya diambil dari nama pesawat yang menjatuhkan bom atom di Hiroshima dan mengakhiri Perang Dunia II. Di masa kurang lebih sama juga muncul kaset unik dari Bonnie Rollies, berjudul Punk Reog (Beatles Jaipongan). Tertulis prakata dari Bonnie di situ, “Di tengah-tengah blantika permusikan masa kini, saya berusaha menyuguhkan sesuatu ramuan musik baru yang saya namakan Punk Reog.” Bonnie mengartikan istilah ‘punk reog’ sebagai [sic] “penyatuan antara irama musik tradisionil kita dan irama musik Barat” sambil menyebutkan perkawinan itu berangkat dari “lagu-lagu Barat yang sudah ada dengan ramuan musik tradisionil terutama unsur perkusi.” Di sampul kaset ada foto kendang reog Sunda. Meski tertulis Beatles Jaipongan, Bonnie Rollies juga membawakan lagu-lagu bukan dari The Beatles, seperti lagu The Police versi bahasa Indonesia (di tracklist tertulis “Do Do Do”) dan “I Shot The Sheriff”-nya Bob Marley and the Wailers. Di beberapa track terdengar suara rebab. Tak ada atmosfer punk rock di kaset ini, kecuali jika lagi-lagi musik The Police dianggap musik punk. Di majalah HAI tahun 1984 ada profil Punk Modern Band asal Jakarta, namanya terdengar punk tapi musiknya malah bukan punk. Lagu mereka “Perang Bintang”, memadukan lirik bertema astronomi perbintangan khas Neil Peart (mereka dikenal sebagai band spesialis cover Rush) dan atmosfer Perang Dingin lewat musik bergaya Duran Duran, dimuat di kompilasi rilisan Team Records, 1987. Saya selalu suka selera humor dari band-band yang memakai nama genre musik sebagai nama grup tetapi malah tidak memainkan genre itu; seperti The Pop Group, The Psychedelic Furs, Rock N Roll Mafia, The Folk Implosion, dll. “Ever get the feeling you’ve been cheated?” ujar Johnny Rotten di show terakhir Sex Pistols, 1978. Denny Sakrie lewat akun Twitter-nya di tahun 2012 pernah mencuit begini, “Remaja Indonesia (1975–1979) tidak bergeming dengan wabah punk.” Almarhum Densak memang berusia 12-16 tahun di rentang 1975–1979 itu; saya hanya tidak yakin apakah melalui cuitan tersebut dia berbicara mewakili seluruh remaja di negeri ini, atau cuma teman-teman di sekitarnya, ataukah malah hanya dirinya sendiri? Seorang kontributor Aktuil dari London, Stephen Lim, dalam artikelnya tentang musik punk rock di Inggris yang dia kirim ke meja redaksi di Bandung, pada November 1976, menulis, “Mungkin material-material mereka sukar didapatkan di Indonesia, tetapi kalau ada kesempatan dengarkanlah!” Saya sendiri memang belum pernah berjumpa langsung dengan orang yang sudah membeli rilisan punk di era awal-awal kemunculannya; tetapi tidak pernah ketemu bukan berarti tidak ada. Di internet saya mendapati seseorang di Jakarta (saya perkirakan usianya kini sekitar 53 tahun) bercerita melalui akun Facebook-nya, bahwa dia dulu mendengarkan Sex Pistols dari piringan hitam persis di masanya. Menurut kesaksiannya, musik punk sudah masuk ke Indonesia sekitar 1979. Pada masa itu, dia bahkan pergi ke tukang cukur demi rambut bergaya punk dan bersama beberapa temannya memasang peniti-peniti di celana, di saat kebanyakan teman mereka sedang terkena demam disko. Dari foto piringan hitam Never Mind the Bollocks yang dia unggah, samar-samar terdeteksi vinyl koleksinya itu termasuk cetakan awal, bukan edisi reissue. Negeri ini memang negeri serba mungkin. Saya juga pernah mendengar satu kisah lain yang sering diulang- ulang secara dramatis, soal piringan hitam cetakan pertama Television album Marquee Moon (1977) yang ditemukan pada 2011 sudah lama teronggok di gudang bekas stasiun radio tua di kota Malang. Yang tidak dibicarakan ketika membicarakan temuan itu adalah justru bagaimana album penting postpunk New York itu dulunya bisa sampai mendarat di sana? Kapan persisnya itu terjadi? Apakah lagu-lagu dari piringan hitam itu sempat diputar lewat siaran radionya? Mungkinkah si pemilik tertarik mengimpornya gara-gara artikel tahun 1977 di Aktuil, “Television: Menghasilkan Keseimbangan Antara Energi Dan Kehalusan”? Atau sesimpel seseorang membelinya saat berada di luar negeri lalu membawanya pulang ke tanah air; seperti halnya ayah teman saya membeli piringan hitam album-album Lou Reed ketika dia kuliah di Eropa akhir dekade 1970-an, lalu empat dekade kemudian menghibahkan kepada saya plat-plat first pressing itu karena dia mau beralih ke format CD? Seorang kenalan mengaku pernah melihat di loakan Jakarta, piringan hitam cetakan pertama dari debut The Red Krayola, The Parable of Arable Land (1967). Album itu cukup rare, saya sendiri cuma punya edisi reissuenya. Di antara nama-nama the godfathers of (proto)punk lainnya seperti Iggy Pop, Captain Beefheart, Lou Reed, The Fugs, atau Bob Dylan saat pertama kali bermain elektrik lewat lagu “Maggie’s Farm” di Newport Folk Festival 1965, menurut saya justru sosok Mayo Thompson dari The Red Krayola yang perlu dicermati. Coba putar “Hurricane Fighter Plane” dalam volume maksimal. Lagu itu dulu pernah sengaja saya pasang di ponsel sebagai ringtone khusus, untuk nomor kontak yang saya malas angkat panggilan teleponnya. Album kedua, God Bless the Red Krayola and All Who Sail With It (1968) malah terdengar seperti musik postpunk satu setengah dekade setelahnya! Mayo Thompson kelak ikut memproduseri album- album punk/postpunk penting di Inggris, 1979, seperti debut dari Stiff Little Fingers dan The Raincoats, bahkan dia sempat bergabung di band art-punk/avant-garage Pere Ubu. Di dekade 1960-an, kata ‘punk’ muncul di beberapa lagu, seperti Frank Zappa (“Hey punk, where you goin’ with that flower in your hand?/ I’m goin’ up to Frisco to join a psychedelic band!”—parodi atas “Hey Joe”-nya Jimi Hendrix), dan Bonzo Dog Doo-Dah Band (“A punk stopped me on the street/ He said, “You got a light, mac?”), dengan warna musik yang sangat berbeda dari apa yang nantinya disebut musik punk rock. Band-band garage rock banyak bermunculan di dekade 1960-an, dan dari sound mentah mereka itulah sebetulnya cikal bakal musik punk rock; mulai dari band Los Saicos di Peru, sampai The Sonics dan The Stooges di Amerika Serikat. Dekade 1970-an ditandai dengan duo eksperimental Suicide sudah memasang titel “Punk music by Suicide”—tanpa bermaksud sarkasme atau olok-olok—di poster-poster pertunjukan mereka, bahkan sebelum scene punk terbentuk. Bagaimana mungkin mereka mengolok-olok sesuatu yang belum mewujud secara jelas, yang bahkan mereka sendiri tidak sangka istilah itu kelak jadi nama subgenre musik cadas? Mereka tergerak memakai frasa itu setelah baca tulisan Lester Bangs di majalah Creem yang mengulas The Stooges. Sejarah kata ‘punk’ sendiri secara etimologis amatlah panjang dengan beragam versi, dari abad ke-16 (‘punck’, artinya ‘a prostitute or harlot’), berkembang dan berubah-ubah konotasi maknanya. Demikian pula pemakaiannya di ranah musik. Jurnalis seperti Lester Bangs, Dave Marsh, Greg Shaw, saling klaim merekalah yang mula-mula memunculkan istilah ‘punk rock’. Ed Sanders, yang merilis album solo Sanders’ Truckstop (1969) setelah The Fugs bubar, terbawa ke dalam pusaran adu klaim itu karena di awal 1970 dia sudah menyebut albumnya ‘punk rock’. Secara estetika sebetulnya itu lebih cocok dilabeli ‘a mocking country album’. Simak bagaimana Sanders menyelipkan ke dalam track pembuka, satu himne tua dari 1868 yang di Indonesia pernah diadaptasi jadi lagu nasional “Ibu Pertiwi”. Tapi secara spirit, poin Sanders di situ cukup jelas. “In writing about punk rock,” kata Brian Cogan dalam bukunya, Encyclopedia of Punk (2006), “certain contradictions must be considered, because no two people seem to agree on an exact definition of the term.” Salah satu favorit saya adalah tulisan Greil Marcus atas album Horses Patti Smith, yang dimuat di The Village Voice, 1975; di situ dia menyandingkan “the beatnik hipster pose” dengan “the dark side of the street punk soul”. Dari satu lapak Instagram, saya membeli buku seri 33 1/3 Ramones (Nicholas Rombes, 2005), di situ tercatat bahwa kata ‘punk’ sudah muncul di cerpen Ernest Hemingway (1933), lalu di novel debut William S. Burroughs (1953). Istilah ‘punk’ sendiri saya kenal pertama kali di tahun 1992, menjelang Ebtanas kelas 6 SD, justru dari buku Winnetou Gugur Djilid II karangan Karl May: di edisi terjemahan bahasa Indonesia 1950-an ada kata ‘punks’, diartikan sebagai sejenis alat pembuat api di prairie, berisi “rabuk serta kulit kaju jang telah kering”. Tak seberapa lama dari keasyikan saya melahap semua kisah Winnetou ejaan lawas itu melalui taman bacaan langganan saya di dekat rel sepur, kakak saya pulang dari luar kota menenteng majalah HAI terbaru, Maret 1992, ada cover story “Nirvana: Punk Metal Nomor Satu”. Saya ingat waktu itu saya langsung berpikir keras mencari benang merah di kedua bacaan yang jelas tidak saling berhubungan itu, apakah “punk metal” itu sejenis musik metal tapi lebih berapi-api, memercik dan mudah terbakar? Lucunya, musik synth-and-voice Suicide, yang isinya ‘cuma’ bunyi-bunyian bising dari mesin rakitan Martin Rev ditimpali teriakan histeris Alan Vega (di “Frankie Teardrop” misalnya) kemudian malah dianggap terlalu punk (!) untuk ukuran kancah punk itu sendiri, kala itu di dekade 1970- an. Posisi mereka istimewa dan unik di sejarah musik: Suicide adalah protopunk, punk, dan postpunk sekaligus. Di masa itu, pertunjukan Suicide kerap berakhir rusuh dan berdarah-darah; gara-gara penonton terbakar amarahnya dan terganggu dengan apa yang mereka lihat. Pernah di Glasgow, Skotlandia, sebuah kapak (!!) dilempar oleh penonton ke arah panggung dan nyaris menyambar kepala Alan Vega. Ketika itu Suicide tampil sebagai band pembuka untuk The Clash. Tidak banyak yang percaya soal insiden kapak ini, demikian kata Alan Vega di buku Simon Reynolds, Totally Wired: Post-Punk Interviews and Overviews (2009). Sampai suatu hari di 1987, Alan Vega datang ke Inggris untuk konser solo di kota Leeds; para personel dari band The Jesus and Mary Chain menghampiri Alan di backstage. Mereka berkata bahwa mereka dulu ada di konser Glasgow itu, dan menyaksikan sendiri betapa kapak memang melayang di dekat kepala Alan! Kisah itu menggiring saya ke adegan horor yang juga melibatkan kapak, dari sebuah episode serial Friday the 13th, tayang di TVRI akhir dekade ’80-an. Kebetulan hari ini juga persis Jumat tanggal 13, walau bukan Jumat Kliwon (saya tadi sudah cek di penanggalan Jawa). Tidak pernah satu episode pun saya lewatkan sejak serial itu muncul, tiap Kamis malam pukul 20:00 WIB. Lagu pembukanya yang seram, mengiringi monyet melambaikan tangan di pojokan toko antik sebelum sangkar kacanya pecah berantakan, masih terngiang di kepala saya sampai hari ini. Di hari-hari pra-internet, televisi adalah jendela rumah kita menatap dunia Barat. Karakter antagonis bernama Bebop di serial kartun Teenage Mutant Ninja Turtles, dulu tayang di TVRI setiap Selasa sore pukul 15:30 WIB, adalah karakter punk pertama yang pernah saya kenal dalam bentuk gambar bergerak. Bersama rekannya, Rocksteady, mereka ini adalah kaki tangan Shredder, musuh terbesar kura-kura ninja. Meskipun namanya berbau jazz, si Bebop ini mutan punk, hasil sebuah eksperimen biokimia yang kurang sukses oleh Shredder. Wujudnya setengah manusia (seorang bandit jalanan berambut mohawk warna ungu), setengah hewan (sejenis babirusa yang dicuri dari kebun binatang). Sebetulnya ada film Menggapai Matahari (1986), Rhoma Irama bersama kelompok dangdutnya, Soneta, terpaksa menghadapi kesumat dari geng rock Crazy Waves, pimpinan Ikang Fawzi. Beberapa anggota geng Ikang di situ digambarkan berpakaian punk. Sayangnya saya masih terlalu kecil waktu itu untuk bisa melewati loket bioskop. Jika Anda seumur kakak-kakak saya, mungkin sempat mengalami serial CHiPs dari Erik Estrada (1977-1983) ditayangkan TVRI. Atau kalau Anda setua kakak-kakak sepupu saya dari keluarga pakdhe, ada serial dari Telly Savalas, Kojak (1973-1978), juga di TVRI. Pernah di satu episode Kojak, saya tonton beberapa hari lalu di YouTube, Kojak menangkap penjahat dan dia menyebut si bandit itu “you dirty punk!” Istilah ‘punk’ dengan konotasi makna semacam itu memang sudah lama dikenal di kamus. Saya periksa dari rak saya, The Advanced Learner’s Dictionary of Current English cetakan tahun 1958, lema ‘punk’ di situ dicatat sebagai istilah slang untuk “anything worthless”. Saat istilah ‘punk rock’ mulai sering dipakai media massa Barat di paruh kedua dekade 1970-an untuk menyebut musik baru yang ofensif (berlirik tajam dan blak-blakan, dalam tempo rapat berdurasi singkat, ditingkahi fashion khas dan polah para pengikutnya yang tak tahu aturan), serial CHiPs pun sampai merasa perlu memproduksi beberapa episode soal itu. Satu episode di tahun 1982, “Battle of the Bands”, bahkan sudah membedakan antara ‘punk’ dan ‘new wave’. Diceritakan di situ, seorang perempuan berambut merah jambu dari sebuah band new wave bernama Snow Pink, tidak ingin Erik Estrada punya anggapan kalau dia tergabung di band punk, “Come on, there’s a whole different attitude to the music, man.” Menurut perempuan tadi, “Punk is into an angry thing,” sementara “New wave, hey we’re just having fun!” Di periode itu, Kamus Lengkap Inggeris–Indonesia & Indonesia–Inggeris yang disusun oleh Prof. Drs. S. Wojowasito dan Drs. Tito Wasito W., dalam edisi lux terbitan tahun 1982 masih belum menyertakan ‘punk rock’ di bawah lema ‘punk’. Definisi ‘punk’ di situ pun masih definisi umum, yakni “omong kosong”. Kamus Inggris–Indonesia (John M. Echols dan Hassan Shadily) di edisi cetakan tahun 1982 juga sama, yang dipakai masih definisi lama, “seorang (muda) yang tak berpengalaman/berarti”. Baru pada tahun 1985, sub-lema ‘punk rock’ akhirnya muncul juga di kamus-kamus lokal terbitan Indonesia. Diawali oleh edisi pertama dari The Contemporary English-Indonesia Dictionary yang teramat tebal (lebih dari 2300 halaman), disusun oleh Drs. Peter Salim, ‘punk rock’ termuat di halaman 1532: “musik rock yang ditampilkan dengan gaya yang agresif dan gaduh”.

13 Desember 2019

#nowplaying: X-Ray Spex – “Oh Bondage Up Yours!” (vinyl 12” The Roxy London WC2, 1977, side 2 track 4)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *