Category Archives: Buku

Bandempo dan bandempo-bandempo lainnya

Akhirnya nemu juga foto Bandempo! Ini pelawak Srimulat era 1970an yang dijadikan nama band di scene Institut Kesenian Jakarta (IKJ) 2000an. Setelah lama mencari-cari ke sana-sini akhirnya saya mendapati fotonya di sudut kanan bawah salah satu halaman di majalah Tempo edisi 1974. Sebetulnya di kaset-kaset lama Srimulat sering ada foto show mereka di atas panggung, Continue reading

James Brown dan Soto Betawi

Tadi pagi setelah mengantar si kecil ke sekolah dan mengurus ini itu di beberapa tempat, saya mampir ke pasar kaget di depan kampus lama saya. Dua puluh tahun yang lalu saya lumayan sering beli kaset-kaset bekas di situ, Continue reading

Res volans ignota

Cerpen ke-12 di antologi Muslihat Musang Emas (2017), “Bangsawan Deli dan Delia”, menurut saya memang terlihat seperti mencampurkan ‘fakta’ dan fiksi, sebuah teknik kreasi yang tujuannya cukup benderang yakni membikin fiksi yang meyakinkan pembaca dan syukur-syukur berterima. Caranya antara lain dengan membubuhkan penanda waktu di awal cerpen, “—Jakarta, 1950”, lalu menjejalkan hal-hal ‘faktual’ di seputaran era itu, Continue reading

kurang santai

di beberapa whatsapp group yang saya ikuti, selalu saja ada satu orang (atau malah lebih) yang hobinya mengoreksi penggunaan bahasa orang lain. yang paling mereka sukai adalah “di” sebagai kata depan dan “di” sebagai awalan. contoh: ada wargagrup lagi senang trus laporan ke temen-temennya dengan nada riang Continue reading

RIP Margot & Margono

Saya ingat Margot Kidder dari film Superman IV (1987) yang saya tonton di bioskop dekat rumah waktu SD, dimana si Manusia Baja harus kepayahan melawan si Manusia Nuklir; sementara Margono alias Gogon pastinya saya ingat dari gaya berdiri ‘sedhakep’-nya yang khas dan bikin gemes pengen njenggit jambulnya. Kumis Gogon tentu saja diilhami dari kumis ‘sapu ijuk’ Chaplin, Continue reading

Kaset Djoenaidhi di Cerpen Mas Yusi

Si tokoh utama cerpen “Ular-ular Temanten” karangan Yusi Avianto Pareanom dari buku Muslihat Musang Emas (2017) diceritakan sengaja mendengarkan kaset lawas ini dengan niatan “untuk mencuri gagasan” (hlm. 208), karena ia diminta memberi ular-ular temanten atau nasihat perkawinan pada pesta pernikahan kawan lamanya. Saya cuplikkan audionya lewat potongan rekaman di bawah ini, Continue reading

>> Mana Tau Mau Klik :) .02

Budi started collecting or, as he prefers to call it, “archiving” old Indonesian music on vinyl records after he graduated high school and moved to Bandung to go to college.

“The first plat [vinyl record] I bought was a 12-inch album by Oslan Husein called ‘Hanja Ada Satu.’ At that time, it only cost me Rp 10,000 [70 cents],” Budi said.

Continue reading