Category Archives: Buku

Mohon Maaf Leher & Beton

Foto dijepret dari halaman majalah Tempo, 1989

Seperti kebanyakan anak kecil lainnya, sebelum masuk TK saya sudah punya cita-cita yang oh wow sungguh mulia gitu deh: pengen jadi astronot. Klise banget. Ini pasti karena saya terlalu sering mengulang-ulang menyimak profil Pratiwi Sudarmono di majalah Bobo. Tapi ketika harus ikut pawai tujuhbelasan di alun-alun, Continue reading

Gundala oh Gundala

*mungkin mengandung spoiler

Persis di hari Friday the 13th kemarin di mana bulan purnama lagi bulat-bulatnya saya malah teringat kembali tokoh Ghazul di film Gundala-nya Joko Anwar (2019), diperankan oleh the one and only Ario Bayu. Menurut saya Ario Bayu adalah salah satu aktor terbaik Indonesia dengan jatah-jatah peran yang kerapkali memble, tapi begitu dia dapet karakter yang pas, Continue reading

Bandempo dan bandempo-bandempo lainnya

Akhirnya nemu juga foto Bandempo! Ini pelawak Srimulat era 1970an yang dijadikan nama band di scene Institut Kesenian Jakarta (IKJ) 2000an. Setelah lama mencari-cari ke sana-sini akhirnya saya mendapati fotonya di sudut kanan bawah salah satu halaman di majalah Tempo edisi 1974. Sebetulnya di kaset-kaset lama Srimulat sering ada foto show mereka di atas panggung, Continue reading

James Brown dan Soto Betawi

Tadi pagi setelah mengantar si kecil ke sekolah dan mengurus ini itu di beberapa tempat, saya mampir ke pasar kaget di depan kampus lama saya. Dua puluh tahun yang lalu saya lumayan sering beli kaset-kaset bekas di situ, Continue reading

Res volans ignota

Cerpen ke-12 di antologi Muslihat Musang Emas (2017), “Bangsawan Deli dan Delia”, menurut saya memang terlihat sengaja mencampurkan fakta dan fiksi, sebuah teknik kreasi yang tujuannya cukup benderang yakni menulis kisah yang meyakinkan pembaca dan syukur-syukur berterima. Caranya antara lain dengan membubuhkan penanda waktu di awal cerpen, “—Jakarta, 1950”, Continue reading

kurs sants

di beberapa whatsapp group yang saya ikuti, selalu saja ada satu orang (atau malah lebih) yang hobinya mengoreksi penggunaan bahasa orang lain. yang paling digemari oleh tokoh-tokoh kurang santai ini adalah “di” sebagai kata depan dan “di” sebagai awalan. contoh: ada wargagrup lagi senang trus laporan ke temen-temennya dengan nada riang Continue reading

RIP Margot & Margono

Saya ingat Margot Kidder dari film Superman IV (1987) yang saya tonton di bioskop dekat rumah waktu SD, dimana si Manusia Baja harus kepayahan melawan si Manusia Nuklir; sementara Margono alias Gogon pastinya saya ingat dari gaya berdiri ‘sedhakep’-nya yang khas dan bikin gemes pengen njenggit jambulnya. Kumis Gogon tentu saja diilhami dari kumis ‘sapu ijuk’ Chaplin, Continue reading