April 19th, 2012 »

.
(cerita pendek oleh Misbach Jusa Biran)
“Kalau Bung seorang seniman, jangan tinggal di kampung,” kata seorang pemuda dengan penuh kesungguhan. Pemuda itu belum pernah saya kenal dan pada suatu malam kami ditakdirkan Tuhan duduk berhadapan di warung kue putu merek “Cirebon” yang menetap dekat teng bensin di Pasar Senen. Dari cara dia duduk yang semaunya itu, dari semula sudah saya duga bahwa ini tentunya termasuk bangsa-bangsa seniman. Oleh karena malam itu saya mengenakan baju yang siangnya saya tidur, lecek, maka saya pun tidak menyalahkan kalau dia sebaliknya mengira saya seniman pula. Dan memenuhi kebiasaan di antara seniman, yakni meskipun belum pernah kenal atau berkenalan dapat saja bicara dengan intimnya, maka saya tidak ragu-ragu lagi.
“Kenapa?” tanya saya sambil menghembuskan asap rokok dengan gaya bebas, menggaruk-garuk rambut semaunya. Gaya yang saya sesuaikan dengan keadaan saya malam itu: seniman. » Read the rest of this entry «
October 1st, 2011 »
.
(cerita pendek oleh Eka Kurniawan)

Edi Idiot menjaga kampus siang dan malam, tapi ia bukan satpam. Terutama kalau malam, ia adalah raja yang berkuasa di kegelapan pohon-pohon rindang, tapi sungguh, ia bukan jin Iprit. Ia seperti kita juga: suka makan, beol, bercerita, berteriak menyanyikan Obladi Oblada, atau jika ia sedang tidak bersemangat, ia akan duduk manis menatap jauh pada segerombolan gadis yang tengah duduk berkerumun: berharap satu atau dua orang tersingkap roknya.
Ia tinggal di satu sudut fakultas yang nyaman—senyaman kandang babi. Dulu ruangan itu dipakai untuk mengoperasikan mesin stensil yang belakangan tergusur setelah penemuan teknologi komputer yang edan-edanan. Kematian mesin stensil adalah berkat bagi Edi Idiot yang berharap menghemat banyak dengan pondokan gratis. Di sanalah ia tidur kalau ngantuk, bercinta kalau punya kekasih, atau mencoba bunuh diri kalau sedang gila. » Read the rest of this entry «
September 1st, 2011 »

.
“return i will
to old brazil”
» Read the rest of this entry «
June 10th, 2011 »
.
(cerita pendek oleh Asrul Sani)

Cerita ini mulai sebulan yang lalu, yaitu waktu saya memperoleh sebuah kamar baru. Kamar itu baik. Agak besar, cukup luas untuk tempat tidur dan rak-rak buku saya. Hawanya pun baik. Kalau hari siang ia amat panas dan kalau hari malam ia amat dingin. Sekiranya angin tidak ada, terbau bau tengik yang mesti saya atasi dengan bau obat nyamuk. Selain dari itu, ada lagi tikus. Tikus-tikus ini berusaha untuk hidup dan untuk dapat beranak-bercucu. Jadi mereka tidak lebih dari kaum proletar. Saya juga seorang proletar. Dan karena proletar seluruh dunia harus bersatu, maka akan dapatlah kami sekiranya hidup rukun dalam kamar itu. Tetapi kawan-kawan serikat saya ini, suka berpesta. Kalau kegembiraan mereka sudah naik marak, maka dimakannya buku-buku saya. Sehingga tak mengherankan, jika saya pagi-pagi harus menemui de Maupassant tak berkepala atau Dos Passos tak berpunggung. » Read the rest of this entry «
November 16th, 2009 »

.
“I’m not vegetarian because I love animals. I’m vegetarian because I hate plants.”
—A. Whitney Brown, “Saturday Night Live” cast member, Season 11-16, 1985-1991.
Saya punya banyak teman vegetarian, tapi saya tidak punya satu pun teman kanibal. Hannibal Lecter cuma hidup di dunia rekaan Hollywood, dan saya juga tidak kenal Sumanto dari Purbalingga—sebagaimana saya berharap dia juga tidak kenal saya. Hmm, apa hubungannya vegetarian dengan kanibal? Jawabannya: mungkin memang tidak ada. Saya cuma tiba-tiba ingat, ada teman saya, seorang perempuan vegetarian yang mengaku moviefreak sejati, pernah membuat review film Korea berjudul 301, 302 (Cheol-su Park, 1995) dengan penuh semangat. Dan kebetulan, film itu tentang kanibal. Oops, spoiler. Saya sendiri juga suka film itu, sebuah drama tentang kesepian dan dendam, yang disajikan dengan sinematografi yang indah, dramatik, dan terus terang bikin saya lapar. Haa! » Read the rest of this entry «
December 15th, 2008 »
.
(cerita pendek oleh Umar Kayam)

.
Pagi itu tidak banyak orang yang berkerumun di sekitar carousel Central Park. Hanya ada beberapa orang anak kelihatan bertengger di atas kuda-kudaan, seperti biasa tidak sabar menunggu lonceng tanda carousel berjalan berbunyi. Di bangku-bangku sekitar carousel, ibu-ibu atau pengasuh anak-anak itu duduk mengobrol sambil sesekali mengawasi anaknya. Teng-teng-teng. Lonceng berbunyi, wajah anak-anak berseri-seri, dan carousel pun bergerak. Kuda-kuda mulai naik-turun diiringi musik waltz.
Dari arah kebun binatang kelihatan seorang kakek berlari tergopoh. Di tangannya dijinjingnya sebuah kantong. Waktu sampai di muka loket, dengan napas sengal-sengal diberikannya uang lima puluh sen kepada perempuan yang menjual karcis.
“Lima, seperti biasa, Charlie?” » Read the rest of this entry «
August 17th, 2007 »
.
Perihal ingatan selalu menduduki tempat istimewa dalam kerumitan peradaban manusia. Berbagai penemuan tercipta demi ‘menolak hilang ingatan’: jam pasir di era Mesir kuno hingga jam weker modern buatan Swiss; lukisan purba di gua prasejarah hingga tulisan blog di dunia maya; kamera pertama ciptaan Joseph Niépce hingga piranti tercanggih di katalog terbaru Canon. Semakin maju teknologi, semakin kompleks pula pemikiran manusia: ranah ingatan kemudian melebar dari ‘sekadar upaya mengawetkan’ menjadi ‘sekaligus media berekspresi’. » Read the rest of this entry «
January 17th, 2007 »
.
“We all know that nostalgia is dangerous,
but I remember those days with a clear conscience.”
—The Toughest Indian in The World. Sherman Alexie, 2000.
Meskipun sudah diperingatkan, saya masih keukeuh ber-nostalgia (nostalgila?) mengingat dengan jelas hari-hari saya bisa sampai ke hadapan kutipan sendu ini. Masa-masa itu adalah periode di mana saya, yang baru lulus setelah 5 tahun berkutat di bangku perkuliahan, dan akibat ketakutan irasional untuk masuk dunia kerja malah terjun bebas ke dalam dunia malam, maksudnya, dunia begadang; atau kerennya: dunia insomnia. Dunia malam dan dunia maya layaknya partners in crime, menggoda saya untuk bergaul dengan makhluk-makhluk gentayangan yang eksis di dua dunia tersebut. Salah satunya bernama Budie. » Read the rest of this entry «
October 2nd, 2006 »
.
Ketika diwawancarai sebuah majalah musik, Elvis Costello pernah mengatakan, “Writing about music is like dancing about architecture.” Lebih jauh lagi, “It’s a really stupid thing to want to do.” Satu pernyataan menohok dan pesimistis. Tapi pada kenyataannya, buku-buku tentang musik akan tetap ditulis dan diburu orang. Benarkah menulis tentang musik itu hal yang bodoh? » Read the rest of this entry «
August 7th, 2006 »
.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002), kata ‘skandal’ berarti “perbuatan yang memalukan; perbuatan yang menurunkan martabat seseorang”. Tapi jika dilekatkan pada nama-nama rockstar—yang seolah-olah identik dengan keliaran—masihkah itu berarti martabat turun? Dalam wacana popularitas dan industri musik yang hingar-bingar, names make news, dan tentu saja bad news is good news. Semakin heboh skandal yang mereka ciptakan, justru semakin tinggi ketenaran terdongkrak. Dan skandal itu tak pernah jauh dari selangkangan, botol bir, dan zat-zat terlarang. Setelah menghiasi headline beberapa surat kabar dan tabloid kuning, puluhan kisah skandal terbesar itu dikumpulkan oleh David Cavanagh, diramunya menjadi buku tipis ber-layout buruk yang layak dibaca setiap orang yang mengaku dirinya penggemar musik. Atau lebih tepatnya, penggemar gosip musik. Para penggila The Doors, misalnya, ‘wajib’ mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dengan Jim Morrison di hari naas di Paris, 5 Juli 1971. Atau benarkah Sid Vicious, pentolan Sex Pistols yang konon tak bisa bermain musik sama sekali, menusukkan pisau berkali-kali ke tubuh pacarnya hingga mati di sebuah kamar hotel di New York? » Read the rest of this entry «