December 15th, 2009 »
.
(cerita pendek oleh Umar Kayam)

Pagi itu tidak banyak orang yang berkerumun di sekitar carousel Central Park. Hanya ada beberapa orang anak kelihatan bertengger di atas kuda-kudaan, seperti biasa tidak sabar menunggu lonceng tanda carousel berjalan berbunyi. Di bangku-bangku sekitar carousel, ibu-ibu atau pengasuh anak-anak itu duduk mengobrol sambil sesekali mengawasi anaknya. Teng-teng-teng. Lonceng berbunyi, wajah anak-anak berseri-seri, dan carousel pun bergerak. Kuda-kuda mulai naik-turun diiringi musik waltz.
Dari arah kebun binatang kelihatan seorang kakek berlari tergopoh. Di tangannya dijinjingnya sebuah kantong. Waktu sampai di muka loket, dengan napas sengal-sengal diberikannya uang lima puluh sen kepada perempuan yang menjual karcis.
“Lima, seperti biasa, Charlie?” » Read the rest of this entry «
November 16th, 2009 »
.

“I’m not vegetarian because I love animals. I’m vegetarian because I hate plants.”
—A. Whitney Brown, “Saturday Night Live” cast member, Season 11-16, 1985-1991.
Saya punya banyak teman vegetarian, tapi saya tidak punya satu pun teman kanibal. Hannibal Lecter cuma hidup di dunia rekaan Hollywood, dan saya juga tidak kenal Sumanto dari Purbalingga—sebagaimana saya berharap dia juga tidak kenal saya. Hmm, apa hubungannya vegetarian dengan kanibal? Jawabannya: mungkin memang tidak ada. Saya cuma tiba-tiba ingat, ada teman saya, seorang perempuan vegetarian yang mengaku moviefreak sejati, pernah membuat review film Korea berjudul 301, 302 (Cheol-su Park, 1995) dengan penuh semangat. Dan kebetulan, film itu tentang kanibal. Oops, spoiler. Saya sendiri juga suka film itu, sebuah drama tentang kesepian dan dendam, yang disajikan dengan sinematografi yang indah, dramatik, dan terus terang bikin saya lapar. Haa! » Read the rest of this entry «
August 17th, 2007 »
.
Perihal ingatan selalu menduduki tempat istimewa dalam kerumitan peradaban manusia. Berbagai penemuan tercipta demi ‘menolak hilang ingatan’: jam pasir di era Mesir kuno hingga jam weker modern buatan Swiss; lukisan purba di gua prasejarah hingga tulisan blog di dunia maya; kamera pertama ciptaan Joseph Niépce hingga piranti tercanggih di katalog terbaru Canon. Semakin maju teknologi, semakin kompleks pula pemikiran manusia: ranah ingatan kemudian melebar dari ’sekadar upaya mengawetkan’ menjadi ’sekaligus media berekspresi’. » Read the rest of this entry «
January 17th, 2007 »
.

“We all know that nostalgia is dangerous,
but I remember those days with a clear conscience.”
—The Toughest Indian in The World. Sherman Alexie, 2000.
Meskipun sudah diperingatkan, saya masih keukeuh ber-nostalgia (nostalgila?) mengingat dengan jelas hari-hari saya bisa sampai ke hadapan kutipan sendu ini. Masa-masa itu adalah periode di mana saya, yang baru lulus setelah 5 tahun berkutat di bangku perkuliahan, dan akibat ketakutan irasional untuk masuk dunia kerja malah terjun bebas ke dalam dunia malam, maksudnya, dunia begadang; atau kerennya: dunia insomnia. Dunia malam dan dunia maya layaknya partners in crime, menggoda saya untuk bergaul dengan makhluk-makhluk gentayangan yang eksis di dua dunia tersebut. Salah satunya bernama Budie. » Read the rest of this entry «
October 2nd, 2006 »
.
Ketika diwawancarai sebuah majalah musik, Elvis Costello pernah mengatakan, “Writing about music is like dancing about architecture.” Lebih jauh lagi, “It’s a really stupid thing to want to do.” Satu pernyataan menohok dan pesimistis. Tapi pada kenyataannya, buku-buku tentang musik akan tetap ditulis dan diburu orang. Benarkah menulis tentang musik itu hal yang bodoh? » Read the rest of this entry «
August 7th, 2006 »
.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002), kata ’skandal’ berarti “perbuatan yang memalukan; perbuatan yang menurunkan martabat seseorang”. Tapi jika dilekatkan pada nama-nama rockstar—yang seolah-olah identik dengan keliaran—masihkah itu berarti martabat turun? Dalam wacana popularitas dan industri musik yang hingar-bingar, names make news, dan tentu saja bad news is good news. Semakin heboh skandal yang mereka ciptakan, justru semakin tinggi ketenaran terdongkrak. Dan skandal itu tak pernah jauh dari selangkangan, botol bir, dan zat-zat terlarang. Setelah menghiasi headline beberapa surat kabar dan tabloid kuning, puluhan kisah skandal terbesar itu dikumpulkan oleh David Cavanagh, diramunya menjadi buku tipis ber-layout buruk yang layak dibaca setiap orang yang mengaku dirinya penggemar musik. Atau lebih tepatnya, penggemar gosip musik. Para penggila The Doors, misalnya, ‘wajib’ mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dengan Jim Morrison di hari naas di Paris, 5 Juli 1971. Atau benarkah Sid Vicious, pentolan Sex Pistols yang konon tak bisa bermain musik sama sekali, menusukkan pisau berkali-kali ke tubuh pacarnya hingga mati di sebuah kamar hotel di New York? » Read the rest of this entry «
October 2nd, 2003 »
.
(a short story by Martin Amis)

SUDDENLY DENTON REALIZED that there would be three of them, that they would come after dark, that their leader would have his own key, and that they would be calm and deliberate, confident that they had all the time they needed to do what had to be done. He knew that they would be courtly, deferential, urbane—whatever state he happened to be in when they arrived—and that he would be allowed to make himself comfortable; perhaps he would even be offered a last cigarette. He never seriously doubted that he would warm to and admire all three at once, and wish only that he could have been their friend. He knew that they used a machine. As if prompted by some special hindsight, Denton thought often and poignantly about the moment when the leader would consent to take his hand as the machine began to work. He knew that they were out there already, seeing people, making telephone calls; and he knew that they must be very expensive. » Read the rest of this entry «
July 13th, 2002 »
.
(cerita pendek oleh Joni Ariadinata)
.
Seperti dalam film, Oto dan Wiwik pasti bahagia. Artinya, tidak susah-susah lagi cari tempat sembunyi kalau hanya sekedar mau main-main porno; bisa berlari-larian di tepi pantai sambil membawa bunga dari pagi sampai sore, main kuda-kudaan, tamasya sesuka hati kemana pun tanpa khawatir nginap di losmen: semuanya pasti oke. Boleh. Jelas karena semua tujuan hidup kini telah berakhir. Dunia penuh bunga, cekikik geli, bisikan cinta, dan sebangsanya yang bagus-bagus. Yang senang dan suka. Sungguh, kalau tidak percaya silahkan tanya sama Ujang, pada Bohim, terutama pada Agus yang kini dipenjara karena berkelahi. Apa saja yang mereka pikirkan ketika berpacaran dengan Siska? Apa cita-cita mulia mereka berdua ketika senang-senang di tepi hutan waktu jam pertama lonceng berdentang. Dan Bohim lantas menculik Linda karena dulu Pronocitro juga menculik Roro Mendut.
“Wik sayang, ijinkan nanti membuka bengkel motor. Bengkelku pasti laris. Terkenal, dan kita akan banyak uang buat nonton film.”
“Bagus. Ah, pasti kamu sangat capek. Tapi jangan takut, aku akan membantumu dengan jualan gado-gado!”
“Di depan bengkelku? Jangan jauh-jauh.”
“Ya. Bila perlu, kita satukan dengan bengkelmu.” » Read the rest of this entry «