Serupa Sampul Tak Sama

Menarik juga bagaimana buku kumpulan cerpen yang cerita pembukanya tentang seseorang memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri (“A Perfect Day for Bananafish”) sampulnya malah ditiru plek-plekan untuk terjemahan sebuah buku motivasional tentang menjalani hidup, “menghadapi rasa lesu dan putus asa”, yang diyakini oleh penerbitnya sebagai sebuah sumber “jang memantjarkan [sic] optisme” (tentu maksudnya optimisme) dan juga “kegembiraan hidup” serta inspirasi. Buku kumcer Nine Stories karangan J.D. Salinger dengan sampul dominan warna merah itu adalah edisi cetakan ke-12, terbit pada 1962. Edisi awalnya terbit pada 1954 dengan desain sama persis desain-desain berikutnya tapi warnanya dibalik, dominan warna kuning. Ini copy kesekian dari Nine Stories yang saya simpan, terakhir saya melihatnya di pasar kaget pagi-pagi di depan kampus. Tiap kali menemukan buku tersebut saya akan selalu otomatis memastikan di cerpen terakhir ada kalimat yang saya suka, “Poets are always taking the weather personally. They’re always sticking their emotions in things that have no emotions.” Sementara buku Pola Kehidupan dan Perdjuangan dari Dr. Orison Swett Marden terbit tanpa info tahun, tapi bisa dipastikan itu setelah pertengahan 1963. Kata pengantarnya mengutip pidato Bung Karno “dihadapan MPRS pada bulan Djuni 1963” yang menyebutkan “nation building sekarang ini meningkat pada ‘character building’, jakni pembentukan watak”. Di kata pendahuluan itu diceritakan pula bagaimana Bung Karno di pidato lainnya pada akhir 1962 mengaku bahwa sejak muda dia “gemar membatja buku2 Orison Swett Marden” dan betapa kata-kata di buku tersebut masih membekas di ingatannya (semboyan “gantungkanlah tjita2mu setinggi bintang2 dilangit” dia temukan dari Dr. Marden ini). Tidak diketahui persisnya dalam bahasa apa Sukarno membaca buku-buku dari penulis Amerika tersebut, tapi di halaman kolofon buku terbitan Magic Centre Djakarta ini tertera sumber terjemahan, yakni versi bahasa Belanda dengan [sic] “Djudul asli : Worstelen en Overwinnen”, yang “di-Indonesiakan oleh : Purnawidjaja, No. 708 – B”. Sepenelusuran saya di internet, itu terjemahan dari karya pertama Marden, Pushing the Front (1911). Di masanya, buku-buku self-help Marden disebut “inspirational”, seperti pada reklame di sebuah majalah lawas terbitan 1912, “these inspirational books by Marden”, “the Marden inspirational library now complete in 12 volumes — 3663 pages”, dsb. Bab pembuka dari buku Pushing the Front, “The Man and the Opportunity”, dimulai dengan, “If we succeed, what will the world say?” asked Captain Berry in delight, when Nelson had explained his carefully formed plan before the battle of the Nile.” Purnawidjaja menerjemahkannya jadi agak lebih panjang, “’Seandainja kita berhasil, apa kata orang?’ Bertanja Kapten Berry, ketika laksamana Nelson mendjalankan rentjananja sebelum terdjadi pertempuran di Aboukir, dimana armada Inggeris mengalahkan armada Perantjis Napoleon.” Di buku terjemahan bahasa Belanda, pertempuran itu memang tidak disebut sebagai “battle of the Nile” melainkan “slag bij Aboukir”, pertempuran di Aboukir. Purnawidjaja merasa perlu menambahkan ke dalam versi bahasa Indonesia keterangan siapa melawan siapa sebetulnya Battle of the Nile/Aboukir Bay itu, yaitu Inggeris vs. Perantjis, yang sebetulnya tidak dijelaskan di versi bahasa Inggris maupun versi bahasa Belanda. Begitu pula tambahan “Laksamana”, pangkat Nelson yang bahkan oleh Marden tidak disebutkan sama sekali; meski mungkin tidak sepenuhnya akurat, karena bukankah Rear-Admiral Sir Horatio Nelson mustinya Laksamana Muda Nelson? Inisiatif itu menarik karena jangan lupa ini semua dilakukan di sebuah era jauh sebelum ada internet. Yang tak kalah menarik, “what will the world say?” (atau “wat zal dan de wereld wel zeggen?”) malah tidak diterjemahkan mentah-mentah sebagai “apa kata dunia?” Apakah Asrul Sani juga membaca buku Marden ini, lantas menjadikan kata-kata itu sebagai kalimat ikonik tokoh si Naga Bonar di skenario filmnya? Dan kenapa “in delight” (atau “opgetogen”) lenyap di versi Indonesianya? Kalau kita simak lagi betapa miripnya dua sampul buku ini, akan terlihat perancang sampul buku terjemahan Marden hanya mengubah sedikit desain sampul buku Nine Stories, yakni bidang datar belah ketupat di situ bertambah jumlahnya, sebagai konsekuensi dari kata-kata judul yang lebih panjang. Marden oleh The New York Times (1905) disebut sebagai “a cheerful optimist” sementara Salinger justru terkenal sebagai penulis fiksi yang kerapkali menciptakan karakter-karakter pesimis, kesepian, dan dirundung depresi. Marden rajin menggelontorkan nasihat-nasihat baik, sementara Salinger, sebaliknya, mengulik batas-batas kusut antara kegilaan dan wisdom. Di halaman awal buku Nine Stories punya saya itu (yang saya beli dalam kondisi bekas di loakan) masih tertempel label harga dari sebuah toko buku di Jakarta, yaitu Rp500. Dari situ kita tahu buku Salinger itu di masanya pernah beredar resmi di toko-toko buku di Indonesia. Sementara di halaman pertama buku terjemahan Marden tadi ada stempel harga, Rp1200, sayangnya tidak ada keterangan tahun kapan tepatnya buku itu dibandrol di harga tersebut. Sebetulnya bisa saja kita kroscek lewat majalah-majalah yang terbit di era itu, yang seringkali memuat iklan-iklan penerbitan buku, lengkap dengan info harga. Majalah, dan juga surat kabar seperti koran, tabloid, dsb., memang adalah internet sebelum internet. Tapi saya belum sempat. Mungkin kapan-kapan. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *