“Hari Ini, Hari Milikku..”

MentariKalikausar12'

Setiap mendengar lagu “Mentari”, atau bahkan hanya membaca judulnya saja, ingatan saya selalu langsung terlempar jauh ke masa-masa Ospek masuk ITB di tahun reformasi. Sebagai mahasiswa baru, kami dicekoki panitia dengan lagu ini, diajari untuk menyanyikannya bareng-bareng bersama ratusan mahasiswa baru lainnya, yang memang bikin merinding bulu kuduk saking bagusnya. Dalam waktu singkat kami langsung bisa menguasai nada dan liriknya, yang memang mudah sekaligus indah. Tak terasa air mata sering berlinang di pipi—saya melirik teman-teman senasib sepenanggungan ternyata banyak juga yang diam-diam ikut sesenggukan—mungkin terbawa emosi antara serunya berkerumun, rasa haru dan heroik (yeah, namanya juga tahun reformasi) sekaligus bercampur jengkel dan capek gara-gara disuruh push-up melulu.

Seorang panitia ospek yang belagu dan sok tahu berkoar-koar lewat toa megaphone dengan nada bangga lebay yang susah dipahami, “Kalian tahu nggak, lagu ini tentang Bung Karno! Melawan ketertindasan! Camkan itu!” Mungkin briefing di antara panita tidak betul-betul lengkap, karena kalimat pertama tersebut masih harus diperiksa lagi kebenarannya, meski kalimat keduanya memang betul. (Sementara kalimat ketiga, itu murni perintah, maklum ospek :p) Ya, sidang pembaca yang budiman, “Mentari” adalah memang soal perlawanan, sebuah lagu protes yang sangat subtil, puitis dan mendalam.

Ketika ratusan mahasiswa baru itu kemudian dibagi-bagi ke kelompok-kelompok, saya ingat betul, kelompok saya sejumlah belasan orang disuruh berbaris konvoi ke jalan, melewati Dipati Ukur. Di depan salah satu kampus UNPAD itu, kami dibisiki, atau dicekoki (lebih tepatnya, dipaksa) untuk menyanyikan lagu ejekan yang sepertinya sudah menjadi lelucon klasik bagi mereka, “..U.N.P.A.D. B.U.T.U.T…” *diulang-ulang* Konyol betul aksi itu, sejenis arogansi yang tak perlu. Saya sih nggak mau ikutan nyanyi. Okay, bisa jadi yang memprovokasi itu hanyalah oknum panitia, tapi ada satu hal yang langsung terang benderang di benak saya saat itu: panitia bego itu pasti tidak tahu bahwa lagu “Mentari” yang mereka agung-agungkan itu adalah ciptaan Iwan Abdulrachman, yang jelas-jelas anak UNPAD! Di era 1960an-1970an, Fakultas Pertanian UNPAD terkenal cukup hip di Bandung karena banyak mahasiswanya yang malah lebih menekuni dunia seni ketimbang mendalami ilmu bercocok tanam, dan melahirkan nama-nama besar di industri musik Indonesia, seperti Benny Soebardja dan Abah Iwan tadi itu.

Ketika lagu ejekan dari kami yang konon dimodifikasi dari Mars/Hymne UNPAD (yang juga ciptaan Abah Iwan, tolong dikoreksi jika salah) itu terus berkumandang di depan kampus Dipati Ukur tanpa ada gelagat bakal berhenti, saya makin yakin: panitia tolol itu—seperti kebanyakan panitia lainnya—pasti tidak tahu sedikit pun sejarah lagu itu! Bahkan si oknum tersebut ketawa-tawa nggak jelas di belakang sambil terus memprovokasi kami agar tidak berhenti bernyanyi. (Saya membayangkan dia punya problem kejiwaan, atau setidaknya masalah akademik di kelas.) Kesal bukan kepalang, akhirnya saya nekat berteriak ke panitia, “Kami disuruh menghapal lagu “Mentari” tapi sekaligus disuruh bernyanyi mengejek UNPAD. Apa panitia tidak tahu kalau lagu “Mentari” itu ciptaan anak UNPAD?” Beberapa panitia tampak kaget mendengarnya, saling pandang, dan terlihat jelas usaha keras mereka untuk tetap jaga wibawa. Alhasil, saya diseret keluar dari barisan, lalu dihukum push-up lebih banyak. Brengsek memang, tapi rasa puas ‘menelanjangi’ kebodohan panitia itu.. uh, priceless!

* * *

Lagu “Mentari” ada di album Mentari dari Kalikausar, band bentukan Iwan Abdulrachman setelah dia ‘berpisah’ dengan Bimbo, dalam format kaset rilisan Whisnu Records, circa late ’70s or ’80s. Pada 2006 lagu legendaris itu direkam ulang dengan aransemen baru, dan muncul dalam dua versi (salah satunya akustik) di album ‘solo’ Iwan Abdulrachman yang juga dijuduli Mentari, semacam kumpulan rekam-ulang greatest hits ciptaan Abah Iwan, dirilis dalam bentuk kaset dan CD. Versi anyar yang lebih sederhana itu tetap tidak bisa mengalahkan keindahan versi aslinya, yang melibatkan sedikit choir pada aransemennya. Herry Sutresna aka Ucok Homicide menyebut “Mentari” sebagai lagu protes lokal terbaik yang pernah ada. Berikut ini lagu “Mentari” versi lama Kalikausar, saya ambil dari koleksi piringan hitam saya (tanpa cover, side A berisi lagu-lagu Kalikausar, side B berisi lagu-lagu dari band lain):

 

* * *

3 thoughts on ““Hari Ini, Hari Milikku..”

  1. herry

    Waktu OSKM ITB 2003 Abah Iwan sempet jadi bintang tamu memainkan “Mentari” di atas panggung di atas kolam Indonesia Tenggelam. Sungguh lagu yg mengharukan sekaligus rebel. Pelantikan di himpunan pun kakak kakak senior kompak paduan suara pakai lagu ini. Aduh, jadi kangen Ganesha. Kangen Bandung.

    >>> Kalau jaman saya, OSKM’98, bintang tamu utama di malam penutupannya adalah Harry Roesli. Tapi saya malah nggak gitu inget karena ketika dia manggung, saya ketiduran gara-gara kecapekan, di antara kerumunan mahasiwa baru yg disuruh duduk berbaris di lapangan basket, dengan lampu-lampu dimatikan. Suasana temaram syahdu. Jadinya ya malah ngantuk, hehe. [BW]

    Reply
  2. Herdy

    wah, anda berhasil membuat sy terhanyut ke kenangan 11 tahun yang lalu…
    lagu yg masih terngiang2 sampe sekarang…

    >>> Berarti OSKM 2003? Ternyata lagu itu masih dipakai terus ya. [BW]

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *