Hari ini ada tumis kangkung di meja makan, beserta informasi, “Ini metik dari kebun kita sendiri lho.” Woohoo! Di kepala langsung terbayang panen raya berkarung-karung dan varian menu serba kangkung sampai sekian minggu ke depan. Ternyata, oh ternyata, “Dua bulan nanem kangkung hasilnya cuma jadi sepiring ini.” Waduh. Dari mulut manis saya sudah hampir keluar kata-kata penghiburan ke istri, semacam “Tak apa cuma sepiring, yang penting sepiring berdua.” tapi rayuan gombal semacam itu tidak selalu dibutuhkan. Sambil mengunyah makan siang kami, saya malah terbayang istilah “lenggang kangkung”, lalu bertanya-tanya sendiri dalam hati: kenapa gerakan santai, cuek, effortless disebut melenggang kangkung? Hasil googling santai, dinamika melenggang itu mirip gerak-gerik kangkung diterpa air. Hmmm, puitis juga. Saya jadi teringat lagu lawas “Lenggang Kangkung”, terutama versi Mus D.S. di piringan hitam Papaja Mangga Pisang Djambu, yang liriknya antara lain “…lenggang, lenggang kangkung/ kangkung di rawa-rawa…” Setahu saya tidak ada rawa-rawa di belakang rumah kami, dan kangkung sepiring berdua itu (sebetulnya bertiga, termasuk anak kami) ditanamnya cuma di pot-pot, di dekat tiang jemuran yang sering dipakai si kecil berayun-ayun seolah dia Tarzan dan kami adalah Jane-nya. Ada pula lagu perihal sayur tapi selain kangkung, “Sayur Asem Kacang Panjang” dari Leo Kristi. Liriknya masih bermain-main dengan rima di bagian sampiran dan isi, “Sayur asem kacang panjang/ Hari esok akan panjang/ Sayur asem kacang panjang/ Hari esok cahaya terang/ Hidup mengembang.” Dari katalog sangat panjang Leo Kristi yang kebanyakan berbentuk kaset, hanya dua album yang sempat dicetak ke piringan hitam, salah satunya vinyl yang memuat lagu di atas. Jika harus ada daftar “songs about sayur asem” versi saya, di peringkat teratasnya akan saya taruh lagu dangdut tentang misteri jodoh, pernah dicetak versi reggae-mix ke dalam piringan hitam, dinyanyikan dengan cemerlang oleh si centil Ine Sinthya, “Hoo, cinta bukan sayur asem/ bumbu ini ditambah itu/ lalu dicobain…” Lagu-lagu mengenai sayur, atau lebih luas lagi, soal makanan dan minuman, selalu menarik karena pada dasarnya mereka bercerita tentang polah tingkah manusia. Seperti kata Kasino di theme song “Warung Kopi”, spesies manungsapiens dengan segala tindak tanduknya berupaya memahami diri sendiri sambil menyesap kafein, “…ngobrol sane-sini/ sambil ngaduk-ngaduk kupi/ e.. jangan bawa ke hati (ntar sakit)…” Keresahan jelas amunisi terbesar manusia menciptakan seni, bahkan mungkin melebihi obsesi atas keindahan. Lagu-lagu tentang restoran, kafe, bar, warteg, tempat memasukkan sesuatu ke mulut (asupan makan/minum) adalah sekaligus tempat mengeluarkan sesuatu darinya (curhat/gosip, amarah, dsb.), yang tak jarang muncul justru dari sudut-sudut tergelap jiwa kita. Di lagu Pulp “Bar Italia” (1995) misalnya, si penyair urban Jarvis Cocker menyelipkan pesan-pesan halus tentang #lyfe “let’s get out of this place/ before they tell us that we’ve just died…” dan kalimat yang terasa makin jleb hari-hari ini “…oh look at you, you/ you’re looking so confused/ what did you lose?/ oh, it’s ok it’s just your mind…” Ouch. Kesepian, atau rasa suwung, tema abadi seni manusia, juga muncul lewat puisi “Di Restoran”-nya Sapardi Djoko Damono, yang dilagukan oleh Umar Muslim dan didendangkan oleh Nana Tatyana di kaset Hujan Bulan Juni (1989), “…aku memesan rasa sakit/ yang tak putus dan nyaring lengkingnya…” Ada pula “O’Malley’s Bar” (1996), lagu seperempat jam dengan lirik depresif yang melibatkan kisah pembunuhan dimana Nick Cave di situ terdengar seperti Tom Waits. Dan tentu saja lagu protes dari tahun 1967 ini, “Alice’s Restaurant” dari Arlo Guthrie, kisah 18 menit tentang kekonyolan berkepanjangan—masih salah satu spoken words terbaik yang pernah ada di sejarah musik.

__
Leave a Reply