kurang santai

di beberapa whatsapp group yang saya ikuti, selalu saja ada satu orang (atau malah lebih) yang hobinya mengoreksi penggunaan bahasa orang lain. yang paling mereka sukai adalah “di” sebagai kata depan dan “di” sebagai awalan. contoh: ada wargagrup lagi senang trus laporan ke temen-temennya dengan nada riang “wow gilak2 diluar tadi gw di puji sama gebetan gw loh!” tanggapan-tanggapan asyik pun bermunculan, ikut senang, tapi sepersekian detik kemudian si tokoh kita ini langsung nyamber dengan nada dingin (mungkin dia pikir dia cool) mengoreksi lewat komentar pendek: *di luar. *dipuji. sambil membayangkan sederet emoticon facepalm saya malah jadi curiga, apakah orang-orang yang biasanya bangga dengan sebutan ‘grammar nazi’ melekat padanya itu sebetulnya sedang kesulitan memperbaiki hidup mereka sendiri, sehingga eksesnya adalah jadi gemar memperbaiki (mengoreksi!) orang lain? apakah mereka pernah tahu ejaan pra-eyd cuek menggabungkan “di” (bahkan “ke”!) meski ketika sebagai kata depan? (malah gampang nggak sih, pukul rata semua, hehe) dan apakah setelah eyd memutuskan untuk memisahnya, orang-orang mulai kacau membedakannya? foto 1 (“kéong dikebun sajuran”), foto 2 (“kelintji digigit andjing”), foto 3 (“kepasar”!) saya ambil dari buku terbitan 1950an, yang bukan kebetulan adalah justru buku pelajaran membaca! foto 4 (“menanti dikeheningan senja” ugh puitis sekali frase ini) dari kaset album kedua iis sugianto rilisan 1979, fyi, ejaan di versi piringan hitamnya pun sama. foto 5 (“di goda setan”) dari serial komik populer terbitan 1980an, perhatikan juga bagaimana nama depan pengarangnya dikasih titik sebelum singkatan nama belakangnya (ini common mistakes khas 1980an!). sekarang sudah 2018 dan makin tak terhitung lagi banyaknya meme-meme bikinan lokal beredar dengan ‘kesalahan’ standar (di- di pisah atawa di- disambung) yang memang kocak tapi sekaligus bikin para gila-koreksi itu makin gila lagi mengoreksi! padahal buat apa! si mememakernya nggak bakalan baca juga koreksinya! :)))) apakah kemunculan smartphone yang bikin orang makin gampang bersuara (atau lebih tepatnya, menyuarakan lewat teks—yang dengan cara ganjil diamplifikasi pula lewat socmed) turut menyumbang segala keambyaran “di yang di pisah” atau “di yang disambung” itu? belum lagi tren di segelintir kalangan (ini bahasan lain lagi tapi siapatau sebetulnya nyambung) yang sengaja ditypo-typokan kalimatnya, seolah sebuah.. perlawanan? semacam i’m ugal2an therefore i’m cool? betul tyda~ (hoekkk) sila di bahas dikanal comment,,, jika ber minat hhe

___
*foto ilustrasi paling atas (helm) dipinjam dari sebuah thread di kaskus.

One thought on “kurang santai

  1. Sundea

    Mas Budi, Dea punya temen yang editor. Saking sepanjang waktu kegiatannya ngebenerin teks, ngoreksi teks itu udah otmatis buat dia, mau disampein ataupun enggak. Kadang kalau udah nggak tahan suka nyeplos ngebenerin juga dia kalau liat teks salah atau di tengah-tengah obrolan.

    Tapi dia curhat dia suka tersiksa sama auto correct-nya itu. Soalnya pas disuruh baca novel bagus yang ejaannya banyak nggak tepatnya, dia nggak bisa fokus sama ceritanya. Otaknya otomatis terus-terusan ngoreksi. Dia capek dan sebenernya pengen menikmati cerita aja, tapi terlalu otomatis gitu auto correctnya. Dese lagi itu curhatnya sedih serius gitu, lho, Mas Budi…

    Ada sih emang yang grammar nazi dan zonk banget komentarnya di saat yang tidak tepat. Dea ketemu beberapa. Tapi kalau yang drive ngoreksinya kayak temen Dea in kasian juga. Dia nggak mungkin menjauhi ngedit karena idupnya memang di situ pulak…

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *