Paman yang Paling Indah adalah Paman Kikuk

Meski cenderung slacker dan clumsy (sungguh itu kombinasi maut), Paman Kikuk sebetulnya cukup disukai perempuan. Setidaknya ada dua nama yang sering muncul dalam kesehariannya: Bibi Ndari dan Bibi Sofi. Dua-duanya cantik dan baik. Saya lupa bagaimana akhir kisah Bibi Ndari, tapi yang jelas di salah satu episode serial legendaris “Paman Kikuk, Husin, dan Asta” di majalah Bobo terbitan 1986 digambarkan bahwa Bibi Sofi akhirnya menikah. Tentu dengan orang lain, bukan Paman Kikuk. Dan sebagai ‘kawan’ baik (whatever that means), Paman Kikuk datang ke pesta pernikahannya. Bersama keponakannya tentunya, si Husin. Kali ini si Asta tidak kelihatan. Ya mosok bawa binatang piaraan ke acara resepsi!

Jarang sekali rasanya melihat Paman Kikuk digambar dalam kostum selain fesyen khasnya—polo shirt warna polos dengan lengan agak mrecet, celana kain dengan bentuk pipa yang disesuaikan pada tren di zamannya, dan sepatu pantofel atau sendal selop—tapi khusus di episode ini kita melihatnya berbaju batik! Bahkan Husin pun batikan juga, dengan gestur santun yakni dengkul tertekuk ke depan ketika sopan bersalaman di pelaminan, meski semua itu wajar belaka karena namanya juga pesta pernikahan. Tapi tetap saja lucu melihatnya. Dan Bibi Sofi bahkan digambarkan memakai baju pengantin adat! Sayang sekali tidak kelihatan ada Bibi Ndari di acara resepsi itu. Apakah mereka sebetulnya bersaing? Semacam Sarah dan Zaenab dalam bentuk paling subtle-nya? Di majalah Bobo, komik Paman Kikuk memang serial paling “ngendonesah” dan paling realistis dibanding kolega-koleganya seperti Oki dan Nirmala, Bona dan Rong Rong, atau Juwita dan si Sirik yang cenderung fantasi dan terlalu melambung-lambungkan imajinasi.

Tentu bukan Paman Kikuk namanya kalau tidak clumsy: di hari bahagia itu ia malah salah membawa kado pernikahan untuk Bibi Sofi, yang seharusnya vas bunga malah tertukar dengan obat nyamuk! Bahkan vas bunga itu pun, diceritakan di panel sebelumnya, terpaksa ia beli dengan harga sepuluh kali lipat gara-gara ia tak sengaja memecahkan vas bunga lainnya di toko tersebut, dan itu semua terjadi setelah Paman Kikuk memilih-milih barang selama 3 jam lamanya! Ya ampun, bagaimana kita tidak mencintai Paman Kikuk. Dia punya kualitas hidup yang diam-diam kita impikan, tapi atas pelbagai pertimbangan rasanya kok berat juga untuk kita wujudkan: cuek dan sembrono, rileks dengan jambulnya yang asyik, blo’on sekaligus pintar, tetap membujang namun dikelilingi perempuan-perempuan cantik, penggerutu tapi penuh keberuntungan (dan kalaupun dirundung sial dia tetap cengar-cengir santai, toh masih ada hari esok), tak pernah jelas kerjanya apa tapi punya rumah dan ada mobil (cool car, btw), bahkan sekaligus vespa dan binatang piaraan yang lucu, pokoknya semuanya terlampau woles dan menggemaskan; dia jelas menikmati hidup.

Kualitas Paman Kikuk yang paling mungkin kita kejar di kehidupan nyata adalah punya seorang keponakan yang menyayangi kita. Saking sayangnya si Husin kepada pamannya, seorang pembaca Bobo bernama Sigit dari Jakarta Timur di salah satu edisi tahun 1977 pernah menanyakan lewat rubrik “Apa Kabar Bo“, apakah Husin tidak punya orangtua, ke mana mereka kenapa tidak pernah kelihatan? Apakah Husin tinggal bersama pamannya? Surat pembaca yang penuh rasa penasaran itu direspons dengan jawaban aman, “Hei Sigit, tentu saja Husin punya orang tua. Tapi Husin sangat akrab dengan pamannya si Paman Kikuk. Karena itu setiap hari setelah belajar dan membuat PR ia selalu ke rumah Paman Kikuk.” Rupanya kakak-kakak pengasuh rubrik masih belum tega menerangkan satu teori klasik dalam penulisan cerita anak: pakailah tokoh paman dan keponakan, sehingga jika harus ada konflik dan kepribadian kurang baik melekat di sosok pria dewasa, itu “hanyalah” paman dan bukan ayah mereka. Strategi penceritaan semacam ini tentunya untuk mengamankan posisi orangtua di mata anak-anak dalam kehidupan nyata.

Maka di dunia fiksi anak yang cenderung serba-indah dan happy ending (atau minimal lucu, bukan tragis yang menyesakkan dada atau menciutkan nyali) kita pun mengenal sosok-sosok konyol seperti Paman Donal, Paman Gober, Paman Dolit, Paman Doblang, bahkan Paman Gembul. (Meski khusus untuk nama terakhir itu ada pula karakter Bapak dan Emak di situ. Ah, namanya juga keluarga kelinci—fantasi generasi lama yang obsesif dengan norma-norma, harmoni bla bla bla.) Tapi dari semua karakter paman-paman slebor itu, tentulah Paman Kikuk favoritku! Yeah. Salam slacker.

* * *

 

2 thoughts on “Paman yang Paling Indah adalah Paman Kikuk

  1. Nina

    Aku jd inget paman kikuk yg nyungsep ke sumur bersama sepeda kumbangnya.
    Badu & Bada apa kabar?

    =====
    Adegan nyungsep ke sumur bersama sepeda kumbangnya itu terasa lokal sekali nggak sih? Endonesah banget.. Badu dan Bada sekarang jarang nongol, mungkin udah tenang di alamnya. Jangan-jangan ikut nyungsep ke sumur! :))) —BW

    Reply
    1. Nina

      Aku yakin Badu maksa Bada pindah ke M**karta. Kata iklan di TV itu tempat pelarian yang sempurna di banding Timbuktu.

      =====
      tenang, masih ada Timbukwan dan Timbuktri 😀 —BW

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *