Bebek-bebeknya Mbak Ratna

ini puisi favorit waktu kecil, dimuat di majalah bobo edisi 29 november 1986. saking kagumnya sama puisi rebellious ini sampai pengen kirim surat ke mbak ratna ini, wkwkwk. alamatnya memang tercantum di bawah namanya, tapi surat nggak jadi dikirim karena malu. tetangga belakang rumah kebetulan juga miara bebek, tapi ketika itu lebih pengen cerita soal angsa-angsa piaraan bapak-bapak pensiunan pulisi di kampung sebelah. angsa, atau dalam bahasa jawa disebut ‘banyak’, suka galak kalau diganggu, dan percayalah, lari terbirit-birit lantaran disosor banyak adalah pengalaman asem di usia enam. pantat ini kadang masih suka kedutan sendiri tiap kali inget kebuasan unggas-unggas sialan itu. tapi apa iya mbak ratna, yang nggak aku kenal sebelumnya dan dia juga nggak kenal aku, bakal terkesan dengan cerita itu? jika bersetia pada tekadnya, beliau ini sekarang mungkin sudah jadi insinyur sukses atau minimal pengusaha telor asin.
__
#np kelompok kampungan – “ratna” yang entah bagaimana liriknya kok masup banget dengan puisi di atas, “..hidup ini tidak bisa untuk tawar dan menawar..” dan “..kerja kita hari ini untuk kenyataan mendatang..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *