“Record stores keep the human social contact alive. It brings people together.” —Ziggy Marley
Turut meramaikan Record Store Day yang dirayakan seluruh dunia setiap Sabtu ketiga di bulan April tiap tahunnya, saya mewawancarai beberapa teman untuk berbagi cerita tentang rilisan fisik pertama yang mereka beli. Beberapa saya todong langsung saat bertemu, beberapa berkorespondensi via email, dan beberapa lainnya tidak (atau belum) menjawab. Awalnya saya hanya iseng bertanya ke 10 responden, hingga akhirnya membludak menjadi hampir 50 orang. Rentang usia mereka tersebar dari 23-68 tahun, yang memang sempat mengalami kejayaan rilisan fisik sebelum masuk era digital. Semuanya bersemangat menjawab. Ada yang bahkan sekaligus mengirim foto kaset dan CD pertamanya yang masih tersimpan dengan baik, dan ada yang tak bisa berhenti menulis hingga tiga halaman Word. Jawaban-jawaban seru itu saya pajang di sini, berurutan sesuai abjad nama depan. Juga tersedia tautan/link untuk terbang sejenak mengunjungi kembali kenangan berharga itu. Musik, seperti banyak orang bilang, adalah mesin waktu. Saya setuju.
Ingin menambah daftar panjang ini? Silakan berpartisipasi di kotak komentar.
Budi Warsito
[kaset 10 Lagu Anak-anak Dancow, Elpamas album Tato]
* * *
AGUS SUSANTO, 29 tahun, Jakarta
[pemilik Warung Musik di Blok M Square]
“Akhir tahun 2000, masih kelas 3 SMU, lagi demen-demennya dengerin radio. Dari situ kepincut lagu “Minority“-nya Green Day, dari album Warning. Terpaksa deh saya harus beli itu kaset. Harganya kalau nggak salah Rp 21.000. Waktu itu lumayan susah juga menyisihkan uang jajan, yang cuma Rp 4.000 sehari dan selalu habis buat bayar utang karena kalah judi bola. Hampir beli kaset ‘N Sync album No Strings Attached juga, yang memang lagi ngetop di masanya. Awal-awal suka musik memang mulainya dari musik pop. Boro-boro kenal post-punk, new wave, progressive, psychedelic, dsb. Lagipula koneksi internet super lelet di Cirebon waktu itu belum memungkinkan untuk download lagu. Baru sejak kuliah di Bandung di akhir tahun 2001 saya mulai membantai semua jenis musik dari kaset-kaset yang dijual di emperan Dewi Sartika, depan BIP, DU 68, Aquarius Dago, dsb. Bisa dibilang di fase itu saya lagi lahap-lahapnya, beli kaset hampir tiap hari. Sekarang saya jualan kaset/CD/vinyl di Blok M Square dan masih terus berburu. Dari semua koleksi itu, sebagian saya jual, sebagian lagi masih disimpan.”
ANDIKA BUDIMAN, 24 tahun, Bandung
[karyawan swasta]
“Album pertama yang saya beli adalah kaset The Chemical Brothers yang covernya warna biru, ada tulisan angka-angka. Itu kumpulan greatest hits mereka, Singles 93–03. Belinya di Aquarius Dago, kelas 1 SMA tahun 2003. Waktu itu beli gara-gara lihat mereka jadi “Artist of the Month” di MTV, terus nonton videoklip “Let Forever Be“, ada perempuan yang masuk ke semacam labirin terus keluar di alam yang sama sekali berbeda. Kasetnya masih saya simpan sampai sekarang. Setelah itu mulai sering beli CD di DU 68 karena lokasinya nggak jauh dari sekolah. Di situ banyak nemu rilisan yang aneh-aneh, yang nggak ada di Aquarius. Waktu itu apa yang dibilang bagus sama majalah Hai pasti saya beli. Oya, sama majalah MTV Trax, yang waktu itu masih bagus, lucu, dan fluid tulisannya.”
ANGGUN PRIAMBODO, 35 tahun, Jakarta
[seniman video, Bandempo, The Jadugar, majalah Cobra]
“Kelas 5 SD saya tinggal di Mataram, Lombok Barat. Umur 10 tahun waktu itu, saya beli dua kaset pertama saya dengan mengendarai sepeda mini. Jaraknya jauh dan jalanan masih sepi kala itu. Posisi Mataram dikepung dua area: Ampenan yang lebih dekat ke laut semacam kota tua pelabuhan, dan Cakranegara yang lebih ramai dengan banyak toko dan pemukiman. Toko kaset masih sedikit dan CD belumlah populer. Saya sedang senang-senangnya naik sepeda, kalau perlu sejauh mungkin, dan betapa senangnya jika punya tujuan selain hanya bersepeda tak menentu keluar masuk kampung di sekitar Mataram. Karena ini mau beli kaset jadi persiapannya lebih berbobot: membawa uang receh yang banyak hasil mengumpulkan selama beberapa hari, dan mandi dulu sebelum berangkat. Album The Best-nya Broery Marantika saya beli untuk ulang tahun ibu, itu pertama kalinya saya kasih kado untuk beliau. Sengaja saya tanya sebelumnya siapa penyanyi yang saat itu beliau ingin dengarkan, setelah itu baru saya berburu dan menemukan album itu. Album satu lagi, Semut Hitam-nya God Bless, aliran rock dari Jakarta. Gaya berpakaian mereka seperti rocker luar negeri, tapi berkulit gelap. Itu kesan pertama saya melihat mereka, di acara Selekta Pop TVRI kalau tidak salah. Saat itu belum “ramai” cara mendapat informasi tentang musik, apalagi di kota kecil di luar Jawa. Di Mataram, koran pagi sampainya sore, apalagi langganan Bobo, bisa terlambat 2 hari. Setelah beli kaset, ritual barupun dimulai: mendengarkan God Bless setiap sore setelah mandi, di halaman rumah sambil baca lirik dan membolak-balik covernya. Paling enak waktu itu mendengarkan lewat walkman. Sampai sore habis, lalu langit jadi gelap.”
ANITHA SILVIA, 30 tahun, Surabaya
[musafir gigs, Indonesian Netlabel Union]
“Kelas 1 SMP, sekitar tahun 1995-1996, aku naik metromini sendirian ke Blok M, di situ ada toko kaset di mall bawah tanah. Aku sengaja pakai baju bebas, bukan seragam sekolah, karena takut nggak boleh beli kaset. Soalnya pernah kejadian aku ditolak masuk bioskop juga karena masih di bawah 17 tahun. Jadi di pikiranku waktu itu, cuma orang-orang dewasa yang boleh mengonsumsi barang-barang keren. Aku beli kaset Oasis album (What’s the Story) Morning Glory? karena memang suka, pakai duit dari hasil ngumpulin uang jajan. Dan benar dugaanku, di meja kasir Mas Penjaga Toko langsung nanya, “Kamu beli ini? Buat siapa?” Saking groginya aku jawab aja, “Buat hadiah ke kakak.” Kebetulan waktu kecil semua referensi musikku memang datangnya dari kakak perempuanku, dia umurnya tiga tahun di atasku. Kakakku ini keren, dan aku selalu berusaha meniru dia. Apapun yang dia bilang bagus pasti aku ikutin, termasuk musik. Oya, jaman itu beli kaset pasti dibungkus pakai kertas buram polos, jadi rasanya kayak dapet kado Natal, seneng deh. Pulangnya langsung dipamerin ke kakakku, “Aku beli kaseeet…!!!” Semua lagu di situ aku suka, termasuk “Some Might Say” yang belum nongol di TV, karena yang ada di TV waktu itu cuma “Don’t Look Back in Anger” dan “Wonderwall”. Tapi setelah dipikir-pikir, kayaknya aku lebih mengidolakan kakakku deh, ketimbang Oasis.”
ANTO ARIEF, 34 tahun, Bandung
[70’s OC]
“Kayaknya ada di antara lima ini: UB40 Labour of Love II, Jason Donovan Between The Lines, Rick Astley Whenever You Need Somebody, Guns N’ Roses Appetite For Destruction, NKOTB Hangin’ Tough. Yang gue inget banget sih NKOTB. Ketika itu gue mau disunat, terus dirawat pasca-sunat di rumah saudara karena orang tua gue sibuk. Belinya di Gramedia Matraman, soalnya rumah saudara gue deket situ, gue umur 8 tahun kalau nggak salah. Dari kecil gue suka lagu-lagu soul ’80-an, yang kalau lagunya mellow pun beat-nya tetep enak buat joget. Bisa dibilang Rick Astley, Jason Donovan, UB40 itu penyanyi blue-eyed soul. Karena tiap pagi dengerin radio di mobil pas dianterin bokap ke sekolah, pulangnya juga langsung nongkrongin radio di rumah, jadi ya lagu-lagu pop itu yang nyantol. Gue jadi ngikutin NKOTB terus setelahnya, sampai sekarang masih suka dengerin. Terutama setelah nyadar betapa kental unsur musik soul di NKOTB. Format mereka itu seperti Jackson 5 versi bule. Mereka ngecover lagu soul standar di debut albumnya, selain memang produser mereka Maurice Starr juga kulit hitam.”
ARDI WILDA, 24 tahun, Jakarta
[karyawan swasta]
“Album pertama yang saya beli dalam arti minta dibeliin itu albumnya Jordy, saya lupa nama tepatnya, pokoknya yang anak bayi nyanyi ‘olala bebeh.. olala bebeh..’ Lagu itu populer banget jaman saya TK atau SD awal dulu, sekitar 1993. Minta ke ortu karena seneng lagu itu, akhirnya dibeliin di Mall Arion, Rawamangun. Nama toko kasetnya lupa, ada di lantai dua atau tiga. Nggak inget harganya berapa, namanya juga dibeliin. Waktu itu kakak lagi ulang tahun. Di keluarga saya dulu ada ritual makan KFC tiap ada yang ulang tahun. Biar anak yang lain nggak iri, kami dikasih semacam hadiah juga, mau minta apa. Biasanya saya minta sepatu tapi saat itu minta beli lagu Jordy. Kalau album pertama yang saya beli dalam artian saya yang melakukan transaksi, kaset Blur The Best Of. Belinya pakai uang ortu juga tapi ceritanya saya nabung dulu. Pas kelas 1 SMP sekitar tahun 1999-2000 saya denger “Song 2” di game FIFA, langsung penasaran siapa sih yang nyanyi. Dari situ pertama kali tahu Blur. Belinya berdua bareng teman (yang sama-sama berkacamata dan culun) di toko kaset Pasar Klender, deket banget dari rumah, sepulang dari olahraga atletik di Rawamangun. Harganya kalau nggak salah Rp 25.000. Setelah itu tiap hari kami setel di walkman Aiwa di kelas, didengerin berdua sama teman saya itu, sambil lihat-lihat artwork kasetnya. Kami suka Graham Coxon karena dia pakai kacamata tapi kelihatan keren. Sementara saya dan teman saya itu juga berkacamata tapi kok nggak keren. Jadi semacam memitoskan bahwa berkacamata itu bisa keren juga lho. Dengan album itu kita ibaratnya jadi hipster di sekolah, karena teman-teman yang lain waktu itu belum ada yang tahu Blur. Kami berdua lalu sok-sokan belajar gitar, biar bisa ngeband kayak Coxon. Sayangnya gagal total, malah kami berdua masuk tim nasyid SMP. Saya jadi vokalis dan pegang triangle, sementara teman saya tadi main rebana.”
ARDI YUNANTO, 32 tahun, Jakarta
[redaktur karbonjournal.org dan majalah Bung!]
“Ingatan ternyata kurang bisa diandalkan. Saya lupa apa kaset pertama yang saya beli dengan menabung uang jajan, yang bukan dibelikan orangtua seperti semua kaset lagu-lagu anak-anak itu. Tapi itu pasti salah satu dari sekian kaset Indonesia yang jadi penghuni pertama rak kaset saya: Slank album Suit… Suit… He… He… (Gadis Sexy) dan Kampungan, Andy Liani album Misteri, dan album pertama KLa Project. Waktu itu awal 1990-an, saya masih SMP, dikasih tape butut sama orangtua, yang harus ditendang dulu baru kaset bisa keluar, dan jadi pendengar setia radio lokal. Kaset-kaset Iwan Fals tak pernah jadi koleksi saya karena sejak SD saya sudah dicekoki lagu-lagunya oleh sepupu saya dari Jawa yang sempat tinggal di rumah di Jakarta sembari menunggu panggilan kerja. Baru setelah kelas II SMP saya mengenal band-band macam Morbid Angel, Mudhoney, maupun Screaming Trees. Selain band Nirvana, Pearl Jam, dan Guns N’ Roses yang kasetnya mudah dijumpai di toko-toko kaset. Harga kaset waktu itu sekitar Rp 10 ribuan. Kudu menabung berminggu-minggu buat bisa beli barang mewah itu, dan kondisi mengenaskan itu terus berlanjut sampai kuliah. Tapi pertimbangan konyollah yang kemudian membuat koleksi kaset saya terus berbanding terbalik dengan tipisnya dompet. Begini logikanya, sekaligus ilustrasi ketidakmampuannya: kalau saya beli satu kaset setiap bulan (karena mentok segitu mampunya), duit saya bakal habis sebelum akhir bulan. Tapi kalau saya tidak beli kaset, sebelum akhir bulan duit saya tetap habis. Jadi, daripada kuping saya rugi, saya beli satu kaset setiap bulan, dan alhasil duit saya selalu habis.”
ARIANI DARMAWAN, 36 tahun, Bandung
[Kineruku]
“Nggak ingat persisnya, tapi ada satu kaset yang termasuk awal-awal, yang membekas di hati hingga kini: album OST Stand By Me. Entah itu pakai uang sendiri atau ATM (alias artos ti mamah, uang dari Mama). Saya beli karena nonton filmnya pas kelas 5 SD, kalau tidak salah dari rental laserdisc, sekitar tahun 1987. Saya sudah lupa di adegan mana lagu “Stand By Me” (versi Ben E. King) itu muncul di filmnya, tapi yang pasti nada khas lagu itu (dan suara agak serak si penyanyi tentunya) masih saja bikin hati saya berdesir sampai hari ini tiap kali mendengarnya. Gara-gara film itu pula saya jadi tergila-gila pada River Phoenix, dan makin giat les Inggris. Entah ada hubungannya atau nggak, pas saya kelas 6, setelah keluarga saya beli CD player, saya jadi semangat membuat kaset mixtape. Karena source-nya dari CD direkam ke kaset, mixtape bikinan saya lebih jernih suaranya ketimbang dari kaset ke kaset. Isinya lagu-lagu kesayangan, untuk didengarkan sendiri di walkman atau dipasang keras-keras di ruang keluarga. Mungkin karena saking seringnya disetel, teman-teman saya di sekolah termasuk teman-teman kakak saya sampai guru les tenis jadi ikut menggandrungi pilihan lagu saya. Mereka bahkan sampai memesan khusus. Berkat bimbingan teknis dari kakak saya yang cowok, saya jadi tahu cara-cara merekam yang benar, saya juga diajari tips memilih kaset kosong yang bagus (sampai ada tipe ‘Gold’ segala). Jadilah saya rajin bikin mixtape berbagai tipe dan kualitas, lengkap dengan desain sleeve DIY, saya gambar-gambar sendiri pakai bolpen Boxy.”
ARIYANTO, 30 tahun, Jakarta
[pemilik Kucluk Music Corner, dulu di Taman Puring, sekarang di Blok M Square]
“The Cardigans Life adalah album pertama yang saya beli sendiri, hasil menyisihkan uang jajan waktu kelas 2 SMP tahun 1996. Belinya di toko kaset Duta Suara di Jalan Sabang yang waktu itu koleksinya masih sangat lengkap (ada 3 lantai, nggak seperti sekarang yang hanya tinggal 1 lantai). Harga kasetnya berapa, saya sudah lupa. Yang masih saya ingat, perlu waktu 2 minggu menyisihkan uang jajan. Saya berangkat ditemani teman sekelas yang belum begitu lancar bawa motornya. Belum tahu pula jalan menuju Duta Suara Sabang. Alhasil kami nyasar dan muter-muter, sampai akhirnya malah menemukan alternatif lain untuk mendapatkan kaset lebih murah, yaitu di Pasar Taman Puring. Di situlah saya seperti menemukan surganya kaset. Dari situ pula awal karir saya sebagai pedagang kaset/CD/piringan hitam mulai terbentuk. Saya jualan di Pasar Taman Puring, demi memanjakan kawan-kawan yang hobinya, meminjam istilah yang dipopulerkan Harlan Boer, ‘jajan rock’.”
ARTIANDI AKBAR, 25 tahun, Bandung
[arsitek, House The House]
“Kaset Backstreet Boys album Backstreet’s Back. Gara-garanya… lihat videoklip “As Long As You Love Me” di RCTI! Kalau nggak salah acara Delta (Deretan Lagu Terbaik). Di situ Nick Carter cakep banget. Itu faktor utama sih, kenapa dulu suka mereka. Waktu itu kan lagi musim boyband, tapi boyband lainnya itu cakepnya nanggung. Nah, si Nick Carter ini cakepnya pol banget! Rambutnya belah tengah gitu. Padahal susah kan, rambut belah tengah tuh gelombangnya harus bagus. Si Nick ini sempurna gitu gelombangnya, kuning pula! Abis beli, tiap pindah mobil, kasetnya selalu dibawa dan harus disetel di situ saat itu juga. Berarti kebiasaan mendominasi playlist udah ada dari kecil, hahaha.. Itu sekitar kelas 4 atau 5 SD, tahun 1997-1998, pokoknya sebelum beli kaset Pesta Rap!”
ARUM TRESNANINGTYAS DAYUPUTRI, 28 tahun, Bandung
[fotografer, personel Tetangga Pak Gesang]
“Album pertama yang aku beli dengan cukup niat adalah album Pandawa Lima-nya Dewa 19. Belinya di toko kaset di pojokan jalan Slamet Riyadi, Solo, setelah perempatan Novotel. Harganya sekitar Rp 8.000, tahun 1997 pas aku kelas 1 SMP. Dulu setiap Kamis sore di radio SAS FM ada acara Baladewa, khusus memutar lagu-lagu Dewa 19 terus dibahas. Begitu denger informasi ada album baru Pandawa Lima, langsung pengen beli. Sebelumnya sih nggak pernah beli kaset, cukup dengar dari radio (kadang aku rekam), atau pinjam kaset punya kakak. Sebenarnya kakakku juga sudah beli album itu. Tapi karena gengsi pinjam mulu ke kakak, akhirnya pengen punya sendiri. Belinya sih nggak ribet, karena ibuku berbaik hati ngasih uang. Saking senangnya, kaset itu aku putar tiap hari di mobil antar jemput sekolah, sepanjang perjalanan pulang pergi. Sampai rumah juga langsung diputar lagi. Saking seringnya sampai kasetnya nglokor! Hampir semua lagu di album itu aku suka, tapi paling favoritnya ya “Kamulah Satu Satunya” uuu.. laa laa laa…”
CHOLIL MAHMUD, 37 tahun, Jakarta
[Efek Rumah Kaca, Pandai Besi]
“Dari kecil katanya gua udah suka musik. Tiap gua nangis gue, disetelin musik. Langsung diem, terus tidur. Gua anak bungsu dari delapan bersaudara. Kakak-kakak gua hampir semuanya penyuka musik, tapi nggak ada yang jadi pemusik. Ada yang suka jazz, pop, rock, dan prog. Yang paling sering sih gua dijejali prog-rock oleh kakak-kakak gua. Masuk SMP uang jajan gua mulai jadi mingguan, dan gua dibebaskan pergi main agak jauh sendirian (karena ke sekolah pun harus naik angkot, beda ketika SD yang jaraknya hanya beberapa meter dari rumah). Gua mulai berniat beli kaset sendiri. Itu pas hari libur, dan memang sudah gua rencanakan: jalan-jalan sendirian, pegang uang mingguan. Gua berangkat naik bus Koantas Bima jurusan Ciputat – Blok M. Main dingdong bentar di Aldiron, sempat kabur karena dipalak. Nah, khusus untuk kaset pertama yang dibeli sendiri, gua sengaja nyari genre musik yang belum didengerin kakak-kakak gua. Entah karena baca majalah, dengerin BBC Radio, atau radio SW kesukaan bokap, atau denger temen-temen ngomongin. Gua memilih punk. Belum ada yang dengerin itu di rumah (kakak gua punya kaset 10 Bintang Nusantara yang di dalamnya ada Punk Modern Band dengan lagu “Perang Bintang”, tapi ternyata itu bukan punk). Lihat punya lihat di toko kaset, pilihan gua jatuh ke tangan Roxette. Saat itu gua pikir nama ‘Roxette’ punya arti rock yang sudah dilampaui tingkat ke-rock-annya. Judul albumnya Look Sharp! pula. Belum lagi gaya rambut si vokalisnya (sebenarnya gua tahu namanya sih, cuma males nyebutnya aja, nggak rock) yang cenderung mohawk. Artwork albumnya berisi potongan koran, seperti antitesis dari artwork-artwork surreal band-band prog rock. Ah, ini yang kumau, sedari dulu. Sampai rumah, harapan patah. Tak ada punk di dalamnya. Isinya cuma tipikal lagu Top 40, cepat nempel di kepala, sekaligus cepat bosen. Tabungan seminggu seperti ludes tak berbekas. Supaya nggak rugi-rugi amat, terpaksalah gua setel terus-terusan sampai sebagian hafal luar kepala. Album pertama yang dibeli adalah album terburuk yang pernah dibeli. Besoknya, gua kembali menekuni prog rock dan meninggalkan punk rock.”
CINDY RIANTI, 29 tahun, Jakarta
[dosen Universitas Indonesia, Bhang Records]
“Beberapa hal dalam hidup layak dirayakan, dipajang dalam bingkai-bingkai kecil dipojok-pojok ingatan. Tapi tidak semuanya. CD pertama saya adalah kompilasi Disney’s Musical Fantasy yang saya beli di Disc Tarra Pondok Indah Mall, kelas 6 SD sebagai bagian dari rute jalan-jalan sore keluarga saya: Disc Tarra, Gramedia, Bakmi Gajah Mada. Meski menjual mimpi belaka (bahwa pangeran tampan pasti akan datang dan menyapu hati kita dalam sekejap), harus diakui lagu-lagu Disney pada zaman itu membantu saya dalam banyak hal. Aladdin, The Jungle Book, dan Beauty and The Beast membangun keinginan saya menjelajah Eropa dan Timur Tengah, juga bertualang ke hutan melihat langsung pemandangan indah di film-film tersebut. Saya menjadi akrab dengan tetangga depan rumah karena ritual kami di setiap hari Minggu: menonton The Little Mermaid, di sebelah akuarium besar. Dan kecintaan saya pada alam bawah laut dimulai dari lagu “Under The Sea” di film ini, “We got a hot crustacean band/ each little clam here/ know how to jam here/ under the sea.” Masuk SMP, tentunya selera musik saya terpaksa naik kelas seiring dengan Prambors yang merajalela. Pada akhirnya CD kompilasi “94 Mega Hit” tak bisa dihindari. Dibeli untuk mendengar “Linger”-nya The Cranberries secara berulang-ulang, maupun “Breathe Again”-nya Tony Braxton, lewat kompilasi ini pula saya dikenalkan 10.000 Maniacs dan Stone Temple Pilots. Dan mulailah perjalanan musik saya yang sebenarnya. Mungkin memang sudah seharusnya sejarah koleksi musik saya seperti ini. Di tengah-tengah musik yang selalu dapat didengarkan bersama-sama suami dengan damai, detour masa lalu saya masih kerap muncul. “My Love”-nya Justin Timberlake dan “Toxic”-nya Britney Spears masih menjadi guilty pleasure saya—hal yang kadang-kadang bikin suami menyesal telah menikahi saya.”
DAVID TARIGAN, 36 tahun, Jakarta
[ensiklopedi berjalan musik Indonesia]
“Musik yang pertama kali gue beli tentunya dalam bentuk kaset audio. Saat itu usia gue masih balita, belum sekolah, bahkan TK sekalipun. Gue inget saat itu gue lagi digendong bokap gue di sebuah toko kaset di daerah Mayestik. Beliau bertanya ke gue, “Mau beli kaset yang mana?” Gue langsung milih yang di sampulnya ada foto koboi. Mungkin itu album musik country, gue lupa. Tapi momen saat membelinya masih menempel di ingatan. Sementara kaset pertama yang gue beli secara lebih sadar adalah kaset OST Saturday Night Fever. Gue sewaktu TK suka banget John Travolta gara-gara film itu. Setiap kaset yang di sampulnya ada foto John Travolta pasti gue beli. Piringan hitam pertama gue dibeli saat gue ulang tahun ke-12. Sebenernya nggak tepat banget pas hari ulang tahun gue, tetapi beberapa hari setelahnya, di hari Minggu. Gue inget kami sekeluarga pergi makan, lalu pulangnya gue minta singgah di Jalan Surabaya. Itu pertama kalinya dalam hidup gue bertandang ke jalan legendaris itu. Tempat itu sebelumnya hanya ada di bayangan, yang terbangun di benak gue setelah mendengar selentingan cerita dari ibunya sahabat gue yang penggemar barang antik, selain juga lewat satu artikel koran yang gue baca. Artikel tersebut, plus cerita si ibu tadi, mengatakan bahwa di jalan tersebut banyak dijual piringan hitam. Buat gue yang lagi getol-getolnya berburu dan pengen tahu banyak tentang musik, tempat itu menjadi jawaban dari keresahan rock gue saat itu hahaha! Masa transisi pasca amuk Bob Geldof bikin pemerintah Indonesia menarik seluruh kaset Barat dari peredaran, karena memang di Indonesia saat itu hanya ada kaset bajakan. Kaset berlisensi resmi baru sedikit sekali pilihannya. Sebagai ilustrasi, The Beatles aja cuma ada lima album yang beredar di pasaran. The Rolling Stones pun hanya ada album-album pasca Sticky Fingers. Harganya pun makin tak bersahabat. Kaset berlisensi baru dibandrolnya Rp 4.000-4.500 per buah. Mau beli CD, yang saat itu baru-baru saja muncul di pasar musik negeri ini, harganya bikin berak di celana: Rp 22.000 hingga Rp 35.000 (untuk album baru) per kepingnya. Pilihannya pun jauh lebih sedikit ketimbang kaset. CD pertama gue dibeli beberapa bulan sebelum gue pertama kali beli piringan hitam. Harganya mahal banget untuk ukuran saat itu, Rp 30.000. Gue udah berusaha nabung tapi tetep aja nggak nyampe-nyampe ke target. Akhirnya minta tambahin orang tua untuk bisa beli CD The Beatles Abbey Road. Pengennya sih beli yang lain juga, tetapi pilihan CD di kios musik Pasaraya Sarinah Jaya (Blok M) waktu itu sedikit banget. Kebanyakan yang ada malah album-album baru yang gue benci musiknya. Sementara pilihan album jaman dulu lainnya cuma ada The Best of the Eagles. Bayangin aja, lagi kepengen eksplorasi rock kok malah susah! Nah, plat-plat jalan Surabaya jawabannya. Apalagi selera musik gue saat itu memang lebih dikuasai oleh musik ‘60–’70-an, pas banget! Di usia segitu nggak gampang untuk pergi ke sana sendirian. Jadi gue sengaja pakai momen hari ulang tahun, karena semua pasti ngikutin kemauan si birthday boy, hehe. Hari itu gue beli piringan hitam pertama gue, empat album sekaligus. Plat Jefferson Airplane album Crown of Creation, The Faces album Ooh La La, The Knack album …But the Little Girls Understand dan The Edgar Winter Group album Shock Treatment. Harganya kalau nggak salah sekitar Rp 2.000-4.000 per album. Seinget gue itu semua dibeli di kios bokapnya si Harris. Saat itu gue belum punya turntable. Beberapa bulan setelah itu, baru gue beli turntable Technics bekas, harganya seratus ribu. Masih berputar dengan baik hingga sekarang.”
DIMAS ARIO, 30 tahun, Jakarta
[digital planner, penggila musik]
“Gue mulai membeli album musik ketika masih kelas 1 SD. Tapi biasanya gue hanya menaruh beberapa kaset di keranjang dan saat tiba di kasir, entah bokap atau nyokap yang mengeluarkan uang. Sampai akhirnya pas kelas 5 SD di tahun 1993, gue mulai membeli album musik dengan uang jajan sendiri. Album musik yang gue beli pertama dengan uang gue sendiri (meski secara teknis itu uang bokap nyokap juga) adalah Air Supply The Vanishing Race. Tertarik gara-gara single “Goodbye” yang saat itu memang lagi booming. Album ini gue pasang terus di tape-deck dan juga di mobil. Satu kenangan yang nggak bisa terlupakan, adalah ketika memutarnya di mobil sore-sore, di perjalanan diantar supir menuju rumah teman untuk les matematika. Setiap lagu di album itu mengingatkan gue pada setiap belokan jalan, persimpangan, dan deretan rumah menuju tempat les dari mata pelajaran yang paling gue benci di dunia. Rasanya gue hanya ingin perjalanan sore itu, diiringi album itu, tidak pernah akan tiba di tujuan.”
DUTO HARDONO, 27 tahun, Bandung
[seniman, Hasana Private Press]
“Sekitar 1991 pas kelas 1 SD aku diajak Mama dan kakak jalan-jalan ke mall paling beken di Jaktim saat itu, Matahari Keramat Djati Indah. Saat kami berkeliling melihat-lihat pakaian, mataku terpaku pada sebuah stall musik yang menjual kaset di sana. Kebetulan lagu “Wind Of Change“-nya Scorpions lagi ngetop-ngetopnya diputar di radio lokal. Karena aku suka banget lagu itu—bahkan terkadang ikut-ikutan nyanyi bareng kakakku kalau lagu itu diputar di radio—aku merengek nggak karuan minta dibeliin kasetnya, mumpung lewat stall kaset. Akhirnya Mama menyerah dan menyuruh kakakku nganterin ke stall kaset tersebut. Mbak penjaga tokonya bertanya, “Mau cari apa, Dek?” Aku jawab, “Mau kaset Scorpions yang lagunya siul-siul itu lho Mbak.” Mbaknya bingung, lalu aku berusaha siul-siul meniru lagu itu, dan dia malah tambah bingung. Kakakku berusaha membantu menjelaskan, tapi dia juga nggak tahu judulnya. Aku makin rewel, “Pokoknya Scorpions yang ada lagu barunya itu lho Mbak! Musik Barat!” Mbaknya lalu pergi ngubek-ubek etalasenya, lalu balik membawa kaset bergambar sampul close-up tangan memegang kunci pintu. Setelah beberapa kali Mbaknya pencet Play dan F.Fwd, sampailah di lagu yang dimaksud. Aku langsung teriak, “Iya Mbak! Ini! Ini!” Harganya Rp 3.000, dan album Crazy World ini rutin aku putar tiap hari selama 2-3 tahun ke depan. Biasanya sebelum tidur, sampai akhirnya ketiduran. Aku masih inget banget ekspresi Mbak penjaga toko yang keheranan, “Kecil-kecil kok dengerinnya udah lagu Barat…”
EDWIN SANDI, 37 tahun, Bandung
[pernah bekerja sebagai program director di sebuah radio]
“Menjelang pertengahan ’80-an, saya mulai kenal musik dari ayah (dari The Commodores hingga Ebiet G. Ade), gereja, dan video serial kartun Jepang. Tanpa ingat persis yang mana, saya yakin kaset pertama yang dibelikan untuk saya adalah soundtrack salah satu serial kartun Jepang tadi. Saya masih menyimpan kaset-kasetnya: Voltus V, Godsigma, dsb., lengkap beserta bonus jigsaw-puzzle, topeng, sticker, mainan dan lainnya. Beranjak SMP pertengahan ’80-an, saya mulai punya cukup tabungan uang jajan untuk beli kaset sendiri. Di Bandung, toko musik Aquarius di Jalan Dago paling besar dan nyaman. Album Stryper The Yellow And Black Attack dan Bon Jovi Slippery When Wet saya beli pertama kali di sana, harganya sekitar Rp 2.500 per kaset. Tentu saja bajakan. Sebelum Bob Geldof memulai gerakan anti piracy-nya, Asia khususnya Indonesia jelas surga produk audio bajakan. Tak lama setelah pengalaman pertama membeli kaset itu semua peredaran kaset bajakan ditarik. Ada semacam masa transisi sebelum akhirnya kaset-kaset berlisensi resmi beredar di Indonesia. Di masa transisi itu kaset bajakan tetap saja muncul di sana-sini. Dengan kualitas kopian dari CD (yang pada saat itu adalah komoditi mewah), saya juga sempat membeli kaset-kaset itu. Awal ’90-an, melewati masa SMA, sedang ‘hot’ musik metal, dan mulai mengecap musik ‘alternatif’. Saya masih berkutat dengan kaset (termasuk trading rekaman album-album metal yang nggak dirilis di Indonesia), hingga satu saat saya penasaran dengan proyek Mike Patton sebelum bergabung dengan Faith No More, yaitu Mr. Bungle. Tak disangka-sangka, suatu hari saya menemukannya di toko musik Contemporer di Palaguna, dalam format CD! Harganya Rp 35.000, masuk kategori ‘impor’. Meski belum punya playernya, saya bertekad nabung demi CD tersebut. Pada saatnya tiba, saya beruntung itu belum digondol orang. Nebeng dengerin di rumah teman, sambil langsung merekamnya ke kaset, akhirnya saya bisa menikmati “Squeeze Me Macaroni” yang sebelumnya hanya bisa didengarkan di GMR, radio berformat rock di Bandung. Album yang benar-benar memuaskan, usaha mendapatkannya tidaklah sia-sia.”
FAKHRI ZAKARIA, 26 tahun, Bogor
[PNS di LIPI, penulis lepas, founder Republik Primata Management.]
“Sejak balita saya sudah akrab dengan kaset. Ketika mobil milik keluarga harus dilego, banyak kaset di dalamnya ikut terbawa pergi. Beberapa berhasil terselamatkan seperti Ebiet G. Ade, Koes Plus, Franky & Jane, Rien Djamain, dan kaset kesukaan saya, Si Unyil bersama Sanggar Titi Qadarsih. Kaset Unyil berhasil menjauhkan saya dari keinginan beli kaset Bondan Prakoso yang jadi idola anak-anak ’90-an. Denger suara Pak Raden ngeluh encoknya kambuh saja sudah cukup senang. Tapi begitu kenal MTV, saya jadi pengen beli kaset sendiri. Kaset orang gede, demikian saya menyebut kaset-kaset dari GIGI, Lingua, atau Base Jam yang videoklipnya rajin saya tonton saban pagi sebelum berangkat sekolah. Tapi kata Bapak, saya tidak boleh beli kaset. Katanya itu kaset cinta-cintaan. Padahal dia sendiri demen nyetel lagu “Cintamu T’lah Berlalu”-nya Koes Plus. Bapak suka ikut telekuis via premium call demi mengincar hadiah kulkas. Tapi dapetnya malah tape recorder Panasonic. Lumayan, karena itu keluaran baru, dapet dua pula. Dari situ saya mulai belajar “bikin kaset sendiri”. Saya ubek-ubek rak kaset Ibu, mencari kaset yang belum dihilangkan plat plastik bagian atasnya, supaya bisa ditimpa untuk dipakai merekam. Belakangan Ibu marah-marah, karena kaset naas yang saya pilih untuk ditimpa itu kaset Ebiet G. Ade kesukaannya. Dari siaran radio yang saya hapal programnya saya mulai merekam “Bukan Pujangga”-nya Base Jam, “Terbang”-nya GIGI, sampai “Pretty Fly (For A White Guy)”-nya The Offspring. Begitu si penyiar bilang lagu yang saya incar mau diputar, saya langsung posisi siaga. Masuk intro, dalam sepersekian detik tangan saya mencet tombol REC. Hasilnya, lebih banyak ambyar daripada berhasil. Kadang ada suara burung, suara jangkrik, kadang suara adzan. Keinginan saya beli kaset beneran jadi makin menggebu. Kebetulan ada teman sekelas dari keluarga kaya pengusaha katering, tapi untuk urusan pelajaran otaknya rada tiarap. Satu pagi dia kumpulkan beberapa teman para gentho (“penguasa”) kelas. Intinya, dia minta dicarikan orang-orang yang bisa dibayar untuk mengerjakan PR-nya. Jumlah imbalan tergantung banyaknya mata pelajaran yang dikerjakan, tapi angka minimalnya Rp 5.000, dan uang segitu sudah sangat besar untuk anak SD di tahun 1999. Para gentho kelas tadi kemudian merekrut pekerja-pekerja potensial, dan saya salah satunya. Jadilah tiap pagi saya datang ke kelas lebih awal, alasan ke orangtua sih ada jadwal piket, padahal untuk mengerjakan proyek. Di jam istirahat para gentho menghitung berapa komisi buat saya, pulang sekolah langsung dibayar. Hasilnya? Cukup untuk beli kaset kompilasi The All Time Greatest Movie Songs. Saya pilih kaset itu karena ada soundtrack film Free Willy yang dinyanyikan Michael Jackson dan soundtrack film Pretty Woman tentunya, meski lagu-lagu lainnya ternyata agak mengecewakan. Lalu datanglah Sheila on 7! Single pertama mereka, “Kita”, tak terlalu menggerakkan saya, tapi begitu muncul lagu “Dan“, wuiihhh, sejak saat itu hidup saya tak pernah sama lagi. Kaset album pertama Sheila on 7 itu kemudian saya beli juga dengan uang hasil proyek PR teman tadi, bahkan demi menggenapi jumlah nominal yang diperlukan, saya harus ambil kerja lembur, 4 mata pelajaran sekaligus. Khusus soal kisah kaset untuk masa depan ini bisa lebih panjang lagi.”
GEMBIRA PUTRA AGAM, 29 tahun, Jakarta
[Yahoo! Indonesia, Sungsang Lebam Telak]
“Pas gue umur 10 tahun, No Need to Argue-nya The Cranberries. Dulu gue kira itu album pertamanya mereka, ternyata kedua. Harganya antara Rp 5.500 atau 7.500. Metode belinya: minta uang ke orangtua, lalu beli di toko kaset langganan di Arion Plaza, mall kelas B di Rawamangun, Jakarta Timur. Itu tempat gue biasa jalan-jalan pakai sandal jepit dan celana pendek bareng teman-teman. Masing-masing ke tempat-tempat favorit; gue ke toko kaset dan toko buku (Toko Gunung Agung), teman gue ke toko alat olahraga atau ke tempat jualan kaset video games (dulu namanya juga “kaset”, era Super Nintendo dan Sega). Terakhir ke sana beberapa minggu lalu, toko kaset itu udah nggak ada, berubah jadi toko kacamata. Dulunya itu toko favorit keluarga juga. Mama yang paling sering belanja kaset di sana; kompilasi lagu-lagu Barat (ciee, ‘Barat’), kaset karaoke lagu Minang dan Batak (orangtua gue Minang, tapi lagu Batak diembat juga), sampai rilisan-rilisan musik pop Indonesia. Referensi musik gue waktu itu ada dua: radio, dan saudara-saudara sepupu yang hampir semuanya anak metal (dan hampir semuanya udah jadi haji metal saat Metallica datang ke sini). Televisi malah belum terlalu signifikan. Sebelum beli kaset sendiri, gue sering banget pinjam kaset sepupu. Akhir ’80-an udah pinjam “Kompilasi Disco Barat” yang ternyata isinya lagu-lagu New Wave dan Hi-NRG impor Inggris. Dari situ tersuntik Pet Shop Boys sampai detik ini. Awal ’90-an pinjam Skid Row, nggak masuk di kuping. Pinjam Anthrax, kekencengan. Pinjem Metallica, masuk sih, cuma nggak sesuai dengan kepribadian. Pinjam Ugly Kid Joe, malah makin yakin kalau rocker-rocker Amerika cuma bisa ngerilis sampah. Hahaha. Orangtua juga ngumpulin kaset. Mama suka banget Ebiet G Ade, Leo Kristi, John Lennon (gue sebutin yang keren-keren aja, yang butut-bututnya sih banyak juga). Ebiet G Ade gue bilang menye-menye waktu itu. Leo Kristi, nggak ngerti musiknya. Nah, dari Mama yang kena di gue ya John Lennon. Mulai yakin kalau telinga gue lebih ke arah Eropa (khususnya Britania Raya dan Irlandia) ketimbang Amerika. Budaya pinjam kaset berubah di tahun 1994. Masuk era ABG, lagi pengen banget kelihatan keren. Yang lain milih basket, gue milih musik. Teman-teman dengerin Nirvana dan Green Day, gue malah jatuh cinta sama The Cranberries. Lagu “Zombie” ini kacrut abis sebenarnya. Apalagi vokalnya Dolores di bagian reff. You know lah se-weird apa di situ. Tapi beat-nya kok kayak asyik banget. Sesimpel itu faktor awal suka The Cranberries. Selain sering diputar di radio, lagu ini juga ada di TV. Masih RCTI, karena MTV belum masuk Indonesia. Kuping makin kena waktu single kedua (apa terbalik ya?) dirilis di radio-radio, “Ode to My Family”. Lagu ballads ini salah satu titik yang bikin gue nggak bisa lepas dari female vocals. Hampir di saat bersamaan, gue juga dengerin Suzanne Vega. Makin yakin deh waktu itu gue harus punya albumnya. Bab baru hidup gue dimulai: memasukkan female vocals jadi favorite list. Gue dengerin No Need to Argue religiously. Dari awal sampai akhir, diputar berulang-ulang, sambil baca liriknya di cover. Sampai suara pitanya ngambang dan head-nya berdebu. Yang menyebalkan adalah, lagu “Zombie”, yang bikin gue kesengsem sama mereka, malah ada di urutan paling bawah. Lagu-lagu lainnya sebenarnya malah jauh lebih kuat secara aransemen dan lirik. Style vokal Dolores jadi acuan gue untuk dengerin musik ke depannya. Sebenarnya nggak spesifik mesti cempreng, tapi toh gue nemu band idola dua tahun sesudah itu, Suede, dengan vokal Brett yang juga cempreng asoy. Mendalami Britpop di tahun 90-an gue ketemu banyak style vokal yang unik kayak Crispin Hunt-nya Longpigs, Tim Booth-nya James, dan John Power-nya Cast. Mau sejeprut apapun musik yang gue dengerin saat ini, No Need to Argue dan The Cranberries itu semacam jalur gue ke dua hal terbaik di sejarah musik: 90’s female vocals dan Britpop, yang gue sebut ‘kampung halaman’ musik gue.”
IBNU RAHARDJO, 35 tahun, Malang
[pemilik Toko Buku Kafka]
“Kaset kompilasi Slow Rock V, kelas 3 SMP tahun 1993. Belinya di toko kaset Kawan di kota Malang. Toko ini dulu ada tiga, tapi sekarang tinggal satu. Kalau nggak salah harganya Rp 6.000 untuk kaset Barat, kalau Indonesia Rp 4.000. Rumahku di kabupaten Malang, untuk ke kota Malang perlu naik kendaraan sejauh 10 km, bisa ditempuh naik angkudes, oper angkot, atau 30 menit jika kendaraan bermotor sendiri. Ibuku pedagang, seminggu tiga kali diantar Bapak ke kota Malang untuk kulakan, aku ikut mereka. Di Pasar Besar ibu kulakan, sementara aku jalan kaki ke toko kaset Kawan. Sebagai anak SMP dengan uang jajan pas-pasan, aku nabung dulu untuk beli kaset pertama itu. Dalam pikiran polosku waktu itu, beli satu album dari satu band kok sayang, gimana kalau ternyata lagu bagusnya sedikit. Karena itu kuputuskan beli album kompilasi saja biar dapat banyak lagu hits. Aku makin mantap beli album Slow Rock V karena di situ ada lagu “Love Is On The Way” Saigon Kick dan “Under The Bridge” RHCP yang sudah pernah aku dengar dari kaset milik kakak sepupu. Dari situ pula aku kenal Skid Row dan Dream Theater. Di toko kaset sempat mikir lama banget, bimbang antara beli album itu atau album perdana Slank Suit… Suit… He… He… (Gadis Sexy). Aku pernah minjem album Slank itu dari kakak sepupu. Semua lagunya asyik, liriknya berani, malah cenderung vulgar, setidaknya menurut ukuranku waktu itu. Tiap di rumah lagi ada ortu dan adikku, kaset Slank pinjeman itu selalu aku kecilin volume suaranya, atau bawa tape player-nya masuk ke kamar. Bukan apa-apa, bapakku guru agama dan mengajar di madrasah, aku nggak sampai hati jika beliau harus ikut mendengar lagu Slank yang seperti itu. Karena perasaan sungkan itu, aku nggak jadi beli kaset Slank dan memilih kompilasi Slow Rock V yang cenderung lebih aman itu. Tapi manusia berubah, kelak aku rutin beli kaset Slank sejak album Generasi Biru, pas aku kelas 1 SMA.”
IDHAR RESMADI, 27 tahun, Bandung
[penulis buku Based On True Story: Pure Saturday]
“Waktu kecil dulu kaset-kaset gua kebanyakan dari dibeliin nyokap. Gua sering minta titip dibeliin kaset kalau nyokap pergi belanja. Pertama dibeliin sih kaset cerita atau dongeng gitu. Kalau yang dibeli pakai duit sendiri itu kaset /rif album Salami. Sekitar tahun 1997-1998 pas gua kelas 1 SMP. Gua inget suka /rif gara-gara teman yang ngajarin gua main gitar suka mainnya lagu itu. Sebelumnya udah punya kaset /rif album Radja, tapi itu oom gua yang ngasih. Makanya pas keluar album kedua ini, Salami, gue sampai bela-belain beli sendiri, nyisihin duit saku Lebaran. Kalau nggak salah harganya waktu itu sekitar 10.000. Pas Lebaran gua puter keras-keras kasetnya, sampai oom gua geleng-geleng kepala lihat anak SMP kerasukan musik rock. Padahal awalnya cuma buat belajar main gitar doang, yang sampai sekarang malah nggak bisa-bisa. Mungkin memang bukan bakatnya.”
IKA VANTIANI, 38, Jakarta
[karyawan swasta, pembuat rupa-rupa di antara waktu senggangnya yang tak pernah ada]
“Suatu sore, Mama pulang kantor, membawa satu buah kaset sebagai hadiah. Michael Jackson album Bad. Aku tidak tahu apa yang membuatnya memilih kaset itu, tapi tentu saja aku senang sekali karena belum pernah punya kasetku sendiri. Selama ini aku dan adikku lebih sering mendengarkan album-album Nat King Cole atau Kenny Rogers milik Mama atau tanteku, sampai hafal setiap lagunya, kadang malah singalong bersama-sama. Waktu itu aku masih SD tapi lupa kelas berapa. Setelah itu aku jadi hafal setiap lagu di album Bad itu, bisa menyanyikannya lengkap bahkan dengan segala lenguhan dan cengkok ala MJ, meski tidak tahu sama sekali arti liriknya. Album-album musik berbahasa Inggris adalah salah satu awal aku belajar bahasa Inggris. Caranya dengan berusaha keras menyanyikannya, dengan lafal sesempurna mungkin. Album kedua yang dibelikan Mama adalah Faith-nya George Michael. Ada lagu “I Want Your Sex” di situ, yang membuatku berani menulis kata ‘Sex’ di papan tulis di rumah tanpa tahu pasti apa itu artinya. Sampai sekarang George Michael akan selalu jadi salah satu penulis lirik favoritku, meski bukan dari album Faith aku menemukan hal itu.”
INDRA AMENG, 38 tahun, Jakarta
[The Secret Agents, manajer White Shoes and the Couples Company]
“Seingat gue, kaset pertama yang gue beli itu kaset Sanggar Cerita judulnya Cinde Laras. Waktu itu gue diajak sama oom gue ke Duta Suara di Jalan Sabang. Sebenarnya dia yang beliin, tapi ke tokonya gue ikut. Gara-garanya, sebelumnya gue dengerin kaset Sanggar Cerita seri lain di rumah sepupu, judulnya Kucing Jantan Bersepatu Lars. Gue suka banget dengerinnya, dari situ jadi pengen punya sendiri kaset Sanggar Cerita. Dubber-nya cukup ngetop, namanya Hana Pertiwi, dan tentunya Maria Oentoe, yang selalu jadi pengisi suara ibu-ibu. Selain ceritanya bagus, semacam sandiwara radio untuk anak-anak, musik yg dimainkan dalam tiap ceritanya bagi gue juga menarik. Rata-rata ceritanya diambil dari cerita legenda lokal, atau saduran dari luar negeri. Ingatan gue soal tahun nggak begitu terang. Mungkin itu pas gue umur 8 tahun, berarti sekitar tahun 1982. Pas lagi ada Piala Dunia di Spanyol (Espana ’82), Italia juara dan Paolo Rossi jadi bintangnya. Gue udah nggak nyimpen lagi ini kaset. Kalau lo masih punya seri kaset-kaset Sanggar Cerita ini, gue beli deh Bud. Mungkin kita bisa bikin lagi, buat anak-anak versi zaman sekarang?”
IRHAM VICKRY, 44 tahun, Bandung
[pemilik toko DU 68]
“Orang tua gua dulu punya usaha toko mas di Bireuen (Aceh Utara), kami tinggal di ruko. Kadang-kadang para pekerjanya harus begadang semaleman buat nyelesaiin bikin kalung atau gelang pesenan konsumen. Nah, biar nggak bosen, para tukang itu suka nyetel tape keras-keras. Biasanya mereka bawa kaset sendiri. Karena pekerjanya banyak, jenis musik yang dibawa juga macem-macem. Kebanyakan dari mereka berasal dari pelosok kampung, jadi biasanya musik-musik yang disetel itu orkes Melayu, lagu India jadul, orkes Gambus, dsb. Kalau lagi nggak bisa tidur, atau bosen baca buku sendirian di kamar atas, gua suka turun ke bawah, nongkrong nemenin para para pekerja itu sambil dengerin musik-musik mereka. Referensi musik dari para pekerja di masa kecil gue itulah yang sekarang gue cari-cari lagi, tiap nemu kasetnya pasti gue simpan buat koleksi pribadi. Kalau kaset pertama yang gua beli, gua inget banget justru kaset Barat, yaitu kaset OST Flashdance, film ’80-an gitu deh. Itu tahun 1983, gua masih kelas 1 SMP. Covernya gua masih inget banget, ada cewek duduk, difoto dari depan. Lagu hits-nya antara lain “Flashdance… What a Feeling“, yang nyanyi namanya Irene Cara. Filmnya sendiri gua malah belum nonton, kan umur segitu belum boleh milih film sendiri. Harga kasetnya kalo nggak salah Rp 1.250, belinya di toko namanya Toko Ramai. Sebenarnya itu bukan murni toko kaset, tapi sekalian toko elektronik, punya orang Chinese, yang jual kipas angin, tape, alat-alat listrik dan semacamnya. Pengen beli kaset itu awalnya gara-gara tetangga dekat rumah, umurnya di atas gua dan pergaulannya lebih luas, suka nyetel kaset itu keras-keras dari kamarnya. Kedengeranlah sampai rumah gua. Wah, kok bagus ya? Saking seringnya diputer sampai gua hapal lagu-lagunya. Setelah nyari tahu itu kaset apa, gua mulai niatin buat punya kasetnya sendiri. Apalagi di TVRI waktu itu juga suka diputar potongan lagu itu sedikit-sedikit, jadi makin pengen kan. Gua kumpulin dikit-dikit dari uang jajan. Kalau minta nyokap bilang mau beli kaset sih pasti nggak dikasih. Setelah akhirnya berhasil beli kaset pertama gua itu, namanya juga anak kecil, pintu kamar langsung gua tutup, kasetnya gua setel keras-keras, terus gue joget-joget sendiri! Abis itu baru gue setel terus-terusan, sengaja keras-keras dan diarahin ke rumah tetangga gue tadi, biar dia tahu kalau sekarang gue juga punya kasetnya. Lucunya, baru setelah puluhan tahun kemudian, di Bandung gue akhirnya nemu DVD bajakannya. Di mana lagi kalau bukan di Dalem Kaum. Langsung beli!”
ISMAIL REZA, 39 tahun, Bandung
[arsitek, Urbane]
“Kemungkinan besar ada dua, Gazebo album Telephone Mama dan Wham! album Make It Big. Itu kaset yang beneran beli pakai duit sendiri. Karena sebelumnya biasa denger dari radio, kalau dikasih pun paling kaset-kaset Sanggar Cerita. Waktu itu sekitar kelas 4 SD, sekolah di Medan. Belinya di toko kaset yang tempatnya remang-remang gitu. Rasanya seperti masuk ke toko permen; banyak sekali kaset, dengan referensi yang tak ada. Pas lihat-lihat, sempat penasaran juga album Toto, tapi entah kenapa waktu itu nggak jadi beli. Nggak ingat dapat duitnya dari mana, apakah itu uang jajan atau apa, tapi yang jelas bukan dibeliin. Harganya antara Rp 500 atau Rp 750 per kaset. Jadi tuntas sudah Rp 1.500 untuk belanja dua album pertama itu. Milih album Gazebo karena ada gambar muka cewek di sampulnya, dan memang lagunya sempat sering diputar di radio. Kalau Wham! gara-gara terpesona dengan videoklip lagu “Careless Whisper” yang ada cewek pakai bikini warna putih yang nyeplak itu; sampai sempat di-pause pas nonton di video Betamax. Dan tentunya klugetannya George Michael dengan celana (yang sangat) pendek di videoklip “Wake Me Up Before You Go Go”…”
IVANN MAKHSARA, 23 tahun, Medan
[Program Director Tauko Medan]
“Dua kaset pertama saya, Endank Soekamti Kelas 1 dan Superglad The Superglad. Saya beli di umur 13-14 tahun, dan sebagai anak SMA yang baik, saya menyukai band-band pop punk dan rock yang lagi hits masa itu. Kaset-kaset itu saya beli khusus untuk dua teman baik saya—kami satu sekolah sejak SD—yang sedang gemar-gemarnya nge-band. Seingat saya harganya sekitar 18 ribu untuk kaset lokal, dan 20-an ribu untuk kaset impor. Sebagai teman yang baik sekaligus selalu pengen bisa main musik, saya adalah fans nomor satu dari band bikinan teman-teman saya itu. Saya selalu datang setiap mereka latihan. Karena tidak bisa memainkan alat musik apapun, saya cuma bengong sambil sok keren-kerenan. Bagi kami anak anak kampung yang tinggal di pinggiran, membeli rilisan fisik adalah privilege bagi sebagian kalangan tertentu saja yang bisa menikmati. Jika beruntung, mungkin ada hibahan kaset-kaset keren dari abang atau saudara-saudara yang ingin menularkan seleranya. Jika tidak, ya menunggu saja di depan radio, siapkan recorder untuk merekam lagu-lagu yang disuka. Demi menunjukkan dukungan untuk kedua teman kecil saya itu, atau entah saya yang bego dan dimanfaatkan oleh mereka, saya membelikan mereka dua album yang sedang hangat dibicarakan saat itu, untuk dikulik musiknya. Senang rasanya setiap melihat mereka memainkan lagu-lagu cover version dari album-album itu di panggung SMA atau festival di mana mana. Sejujurnya, membeli rilisan fisik asli bukan kultur yang mendarah daging, karena saat itu jauh lebih mudah mengakses produk bajakan. Ada satu teman di SMP yang kebetulan lebih beruntung dan memberi saya banyak kesempatan untuk menikmati album-album dari band-band yang saya sukai. Sering juga dia mengajak saya menemani beli kaset System of a Down atau Limp Bizkit di toko-toko legendaris di Medan seperti ET 45 (jaringan toko rekaman fisik yang punya empat cabang), atau di Mutiara (kini Ramayana Pringgan), dan di Pan Audio di Deli Plaza, tempat saya pertama kali membeli kaset pertama tadi. Kini Pan Audio sudah tidak ada lagi, bukan karena menyerah kepada dunia digital, tapi lebih karena mall yang menaunginya kolaps. Menurut beberapa teman, Pan Audio pernah sangat menarik untuk dikulik, beberapa karya esensial semacam Blood Sugar Sex Magik atau album pertama Pure Saturday mudah ditemukan di situ. Terakhir kali saya ke tempat itu sebelum gulung tikar, masih ada kaset-kaset ‘90an yang tak laku, artis hip hop kelas dua, band-band rock one-hit wonder, dan seorang teman yang beruntung masih sempat menemukan album The Kinks yang terlupakan. Memori membeli kaset selalu bikin saya tersenyum-senyum sendiri. Pengalaman seperti ini, bukan ingin menjadi terlalu tua, adalah sesuatu yang generasi muda sekarang mungkin tak pernah rasakan.”
MEICY SITORUS, 28 tahun, Bandung
[fotografer, personel Tetangga Pak Gesang]
“Radiohead album The Bends. Gue baru masuk kelas 2 SMP, berarti sekitar umur 13 atau 14. Lupa nama toko kasetnya apa, pokoknya lokasinya di pusat perbelanjaan pertama yang ada di Balikpapan. Harganya kalau nggak salah antara 15.000 sampai 20.000. Gue termasuk anak remaja yang gemar menabung, jadi belinya pakai duit sendiri hasil menyisihkan uang jajan. Gue terbiasa ke mana-mana sendirian, dan waktu itu memang sudah diniatkan: pulang sekolah, ganti baju bebas, terus pergi ke mall itu khusus ke toko kaset. Jaman SMP gue lagi tergila-gilanya tuh sama musik alternatif. Tinggal di kota kecil bukan berarti akses informasi gue tentang musik/film/buku jadi terbatas. Justru ada keuntungan tersendiri dibanding teman-teman sebaya di pulau Jawa: gue bebas mengakses TV kabel dan internet! Jaman itu masih dial-up, hehe. Dengan akses itu gue bisa menyimak lagu-lagu yang mungkin di usia gue dan di kalangan teman sebaya (terutama sesama perempuan) dianggap “kurang cool”. Asupan MTV Alternative Nation, Channel [V] dan TV5 Prancis bikin gue kenal musik-musik semacam itu. Sampai satu saat gue lihat videoklip Radiohead “High and Dry” di MTV, langsung jatuh cinta gue sama band ini! Dari situ gue penasaran ngikutin mereka, termasuk beli kasetnya.”
NINDYA LUBIS, 27 tahun, Bandung
[dokter, penulis lepas]
“Sebagai anak bungsu, soal musik saya lebih banyak ‘terima jadi’. Apa yang Ayah-Ibu dan kakak-kakak beli dan miliki, maka itu pula yang saya putar dan dengar. Keluarga saya cukup liberal soal selera, meski umur masing-masing terpaut cukup jauh. Ayah-Ibu saya berbeda usia 4 tahun, saya dengan kakak pertama beda 11 tahun, dengan kakak kedua beda 5 tahun. Rentang cukup lebar ini membuat saya tumbuh dalam selera musik berbeda-beda. Saat anak-anak imut lain menyukai lagu anak-anak, sejak TK saya sudah teracuni The Rollies dan The Beatles oleh Ayah-Ibu, serta Michael Jackson dan New Kids on the Block oleh kakak-kakak saya. Tentu saya juga masih mendengar dan menyanyikan lagu anak-anak jaman baheula, seperti karya-karya Ibu Soed, dan juga lagu “Cublak-cublak Suweng”-nya 3 Anak Cantik, satu-satunya trio anak-anak masa itu yang saya ingat saya nge-fans berat. Baru beli album pertama saya ketika masih berseragam putih-merah, kaset The Greatest Hits – Dedicated to You, Tommy Page. Alasannya sederhana: foto di sampulnya ganteng! Sampai hari ini perkara sampul masih berpengaruh besar dalam membeli album fisik. Saat itu tahun 1995, saya kelas 5 SD, belinya sepulang sekolah bareng kakak. Sehabis berbelanja di Pasar Swalayan Gelael, tentu belum lengkap jika tak mampir ke toko sebelah: Aquarius Dago. Jujur, seperti kebanyakan orang yang melewati masa itu, hingga kini tak ada lagu Tommy Page yang menempel di otak selain “A Shoulder To Cry On“. Toko musik terbesar di Bandung di zamannya itu akhirnya ditutup pada 2010, karena album fisik sepertinya tak mampu bersaing dengan album digital. Sedih juga tiap lewat Aquarius sekarang, yang beralih fungsi menjadi, ironisnya, toko perlengkapan komputer dan piranti musik digital.”
PHILIPS J. VERMONTE, 41 tahun, Jakarta
[peneliti CSIS, co-founder Jakartabeat]
“Album yang pertama kali saya beli adalah kaset Bon Jovi album Slippery When Wet. Kelas dua SMP, awal tahun 1987, di toko kaset di Aldiron Plaza seberang terminal bis Blok M. Hari itu sepulang sekolah saya sekadar ingin melihat-lihat dan mencoba-coba kaset. Inget kan, masa-masa itu tiap toko kaset menyediakan banyak headphones dan pemutar kaset sehingga kita bisa dengerin dulu macam-macam kaset sebelum beli? Nyobainnya 20 kaset, belinya cuma 1? Saya ingat ketika masuk toko itu, ada serombongan mahasiswa keluar. Saya menempati meja yang baru mereka gunakan, di situ tergeletak kaset Bon Jovi itu. Waktu itu saya belum tahu band itu, namanya terdengar antik, jadi saya coba. Lagu “Livin’ on a Prayer” menghujam telinga saya seketika. Tanpa ba bi bu, langsung saya bungkus kaset itu, bayar, bawa pulang. Tidak perlu saya coba track-track lainnya karena “Livin’ on a Prayer” seperti blank check buat saya untuk meyakini seisi album bagus semua. Sesampainya di rumah, saya mendapati pilihan saya 100% benar.”
PRIMA RUSDI, 46 tahun, Jakarta
[penulis skenario]
“Dari kecil sampai ABG gue itu selalu ada di lingkungan orang-orang yg suka musik. Tapi duit jajan yang terbatas dan kamar pribadi yang nggak cukup besar untuk menyimpan barang-barang bikin gue nggak kunjung bisa beli album apapun buat gue sendiri, jadi cuman nebeng dengar kanan-kiri. Plus tentunya dengar dari radio Prambors. Suatu saat, gue main ke rumah sepupu yang suka jadi tempat nongkrong sejuta umat. Di situ bertebaran berbagai jenis musik dalam bentuk kaset. Ada satu nama yang menarik perhatian gue waktu itu, Electric Light Orchestra (ELO). Wah apa nih, kayaknya asyik. Karena nggak jelas punya siapa, gue pinjem album itu. Judulnya apa, gue malah lupa. Sampai di rumah gue pasang di tape deck lungsuran dari bokap. Pas gue Rewind, eh kasetnya malah nyangkut! Singkat cerita, kaset itu sudah rusak sebelum gue tahu kayak apa musiknya. Tapi yang bikin lebih panik adalah, album itu pinjaman alias bukan punya sendiri. Jadi, terpaksalah gue bongkar celengan, gue bawa ke toko kaset berikut sampul albumnya. Untungnya dapet. Sebel juga, sekali-kalinya beli kaset kok malah bukan album musik yang pengen gue koleksi sendiri? Itu gue SMP, lupa berapa harganya. Masuk SMA gue udah kerenan dikit lah, mulai paham konsep menabung biar bisa beneran beli kaset sendiri. Karena kebanyakan sepupu gue laki-laki, plus adik gue juga laki-laki, mereka sok ‘snob’ soal musik. Pokoknya dance music tercela banget lah buat mereka, hahaha! Gue ingat yang pertama kali gue beli adalah double album-nya The Police, Synchronicity. Langsung miskin lah gue gara-gara beli itu, tapi bangganya bukan main. Dan karena double album itu juga gue mulai paham kenapa orang harus beli album, terutama jika mayoritas lagu-lagu di album itu memang layak didengar berulang-ulang. Kalau perlu sampai rusak! Pokoknya gue pasang terus back to back, on heavy rotation pula. Makanya, demi stabilitas nasional bokap nyokap gue dulu mewajibkan jika dengar lagu koleksi pribadi harus di volume rendah, atau pake headphone. Setelah Synchronicity kayaknya gue nggak pernah lagi mengalami ‘surprised’ oleh album baru. Sampai suatu hari, ketika bokap nyokap lagi nggak di rumah, ada suara musik dengan volume sangat keras, terdengar dari kamar adik gue. Musiknya gila, plus vokalisnya suaranya unik. Ternyata hari itu adik gue baru beli album pertama koleksi dia: Welcome to the Jungle-nya Guns N’ Roses. Gue bukan penggemar berat musik genre rock, tapi gue harus bilang GNR itu band dahsyat. Yang menurut gue paling ‘powerful’ dari kebiasaan kita mendengar musik—apalagi kalau dari kita masih kecil—adalah, kita jadi punya semacam ‘soundtrack’ pribadi yang isinya sejumlah lagu yang mengabadikan kejadian-kejadian yang kita anggap penting saat lagu itu beredar. Uniknya, setiap dengar lagi lagu-lagu itu, kita serasa melihat kembali peristiwa tersebut, semacam flashback. Musik dan lagu, buat gue, punya kapasitas ‘visual’ sedahsyat itu.”
RAHMAT ARHAM, 23 tahun, Bandung
[redaktur Gigsplay]
“Gue inget banget, kaset Sheila on 7 album pertama. Itu tahun 1998, gue kelas 3 SD. Pulang sekolah, beres makan siang di rumah, gue nyetel TV. Di ANTV lagi diputer videoklip lagu “Dan“. Kelam gitu nuansanya, langsung suka. Pas nyokap pulang kerja, gue bilang, “Arham mau beli kaset dong Ma.. Tadi dengerin lagunya di TV, bagus.” Nyokap gue nanya, “Lagu apaan?” Gue jawab, “Yang nyanyi orang besar, Ma.” Maksudnya orang dewasa. Gue kan masih kecil, dan biasanya cuma dengerin lagu anak-anak macam “Kring-kring Goes-goes” Bayu Bersaudara. Entah gimana ceritanya, dibolehin. Itu pertama kalinya gue mencari musik pilihan gue sendiri! Bawa duit dari nyokap, gue beli di toko kaset dekat rumah, harganya Rp 18.000. Setelah itu ritual rutinnya adalah: tiap Minggu pagi, setelah mandi dan sebelum nonton film kartun, gue selalu setel keras-keras kaset itu di ruang keluarga. Kadang nyokap sampai negur minta volumenya dikecilin. Gue ikut nyanyi-nyanyi sambil baca-baca liriknya. Meskipun umur gue baru 8 tahun dan belum begitu ngerti, pas baca lirik-lirik Sheila on 7 gue mulai berpikir, “Mungkin ini yang namanya cinta. Ditinggalin, sedih, dan sebagainya.”
REMY SYLADO, 68 tahun, Jakarta
[the living legend, perpustakaan berjalan soal apapun]
“Nggak ingat. Ngapain juga diingat-ingat? Nggak penting! Saya malah ingat buku pertama yang saya beli, waktu itu masih SD. Komik bahasa Inggris, cerita-cerita klasik Shakespeare seperti Hamlet dan Macbeth, di toko buku di lantai dua Pasar Johar di Semarang. Waktu sekolah seminari tahun 1960-an saya banyak bergaul dengan anak-anak Amerika. Dari mereka saya banyak denger dan belajar musik. Country, blues.. itu kan yang kemudian jadi dasar-dasar rock! [sambil mencontohkan menyanyikan sepotong lagu country lama, yang menurutnya, “Musisi country zaman sekarang belum tentu tahu lagu ini!”, dengan teknik yodelling yang sempurna.] Saya juga suka Queen—meski jarang saya sebut-sebut di tulisan saya. Selain The Beatles juga tentunya.” [lalu menyanyikan nada-nada awal “And I Love Her” yang dia ambil jadi nama aliasnya, ‘…re-mi-ti-la-do/ that’s all I do/ and if you saw my love/you’d love her too…‘]
REKTI YOEWONO, 31 tahun, Bandung
[The S.I.G.I.T., Bhang Records]
“Kaset pertama yang saya beli dengan uang sendiri (dari uang jajan atau setidaknya angpau) adalah John Lennon album The John Lennon Collection. Kalau nggak salah harganya sekitar Rp 6.000-8.000. Waktu itu saya baru lulus SD dan baru kembali dari Jepang ke Jakarta. Kebetulan bersamaan dengan menjelang Lebaran, jadi dapat angpau Lebaran dari Oom dan Tante. Alasan belinya tak lain karena Ibu saya selalu memutar lagu-lagu The Beatles di rumah sejak saya kecil, dan John Lennon sudah pasti yang paling menyedot perhatian utama. Sebenarnya waktu itu nggak niat beli kaset, malah tadinya pengen beli sepatu. Pas jalan-jalan di Blok M bareng sepupu-sepupu, langkah saya terhenti di depan toko kaset, dan cover kaset yang menampilkan foto John Lennon bikin saya pengen beli. Kaset itu terus saya puter sampai mendem suaranya. Beberapa bulan setelahnya saya kembali pindah ke kota kelahiran, Bandung, dan menemukan toko kaset Aquarius Dago yang mempesona karena lebih besar dari toko kaset di Blok M. Padahal di Jakarta saat itu sudah ada Aquarius Mahakam, tapi saya belum tahu. Hampir tiap hari sepulang sekolah saya pasti mampir ke sana. Kaset pertama saya di Aquarius Dago adalah Weezer yang Blue Album. Andaikan nggak ada ANTV saat itu yang sering muterin videoklip band-band alternative di tengah malam, saya nggak akan pernah tahu Weezer. Album pertama Weezer ini saya beli dua kali. Kaset pertama isinya ternyata rusak dan nggak karuan suaranya, tapi nggak bisa saya tukar ke toko karena struk-nya sudah terlanjur saya buang. Saya harus nabung lagi uang jajan seminggu untuk bisa beli lagi yang baru. Baru sekitar kelas 2 SMP saya mengetahui keberadaan lapak-lapak kaset loak seperti Cihapit, depan BIP, dan Dewi Sartika. Dari sanalah saya pertama kali kenal artefak bernama piringan hitam. Rasa penasaran saya difasilitasi dengan membeli beberapa keping yang harganya terjangkau, meski belum punya pemutarnya. Plat pertama saya adalah Rod Stewart yang ada lagu “Some Guy Has All The Luck“, karena itu lagu favorit ibu saya. Masih mulus meskipun bekas, harganya Rp 7.000 atau Rp 10.000.”
RENO NISMARA, 25 tahun, Jakarta
[wartawan RollingStone Indonesia]
“Pertanyaan “Apa album pertama yang elo beli?” ini buat gue cukup menyulitkan. Gue selalu kagum dengan orang-orang—dalam hal ini artis yang gue lihat di majalah—yang bisa menjawab pertanyaan itu; apalagi yang sudah senior. Lahir di akhir dekade 80-an, gue terekspos dengan banyak musik pop yang waktu itu gue anggap keren dan sekarang kebalikannya. Saat itu gue nggak tahu ada grup sebangsat Sonic Youth dan Beastie Boys, bahkan sampai pernah manggung di Jakarta! Lihat videoklip “1979” Smashing Pumpkins di MTV aja gue nggak betah-betah amat, meski selalu tertarik menyimak sampai habis. Gue lebih memilih Supergroove yang gue anggap mengasyikkan saat itu. Sampai sekarang pun kepala gue masih suka angguk-angguk setiap dengar “Can’t Get Enough”. Setelah melewati segala macam pertimbangan dan penggalian dalam-dalam ke memori masa lampau, akhirnya gue inget dan yakin, bahwa album pertama yang gue beli adalah kaset Pochette Surprise dari Jordy si penyanyi cilik asal Prancis. Itu rilisan 1992, berarti pas gue umur 3-4 tahun. Berhubung dompet saja tidak punya, hanya celengan ayam yang sampai sekarang belum gue pecahkan, jadi kaset tersebut tentunya dibeli dengan uang milik orang tua. Harganya gue nggak tahu pasti. Setelah bertanya ke rekan kerja soal kisaran harga kaset pada era tersebut, kemungkinan Rp 5.000, atau bahkan kurang. Berkat single “Dur dur d’être bébé!”, yang dalam bahasa Inggris berarti “it’s tough to be a baby”, lewat debut albumnya ini Jordy tercatat sebagai penyanyi termuda yang pernah menempati peringkat satu pada sebuah tangga lagu. Awalnya gue tertarik gara-gara liputan TV soal fenomena Jordy di Dunia dalam Berita. Seperti biasa, berita hiburan selalu ditaruh paling belakang entah kenapa—mungkin demi mengubur berita buruk yang dilaporkan sebelumnya—dan, duaarr!!!, diputarlah videoklip “Dur dur d’être bébé!” mengiringi closing credit Dunia dalam Berita malam itu. Gue terkesima seketika. Mungkin karena kami sepantaran? Yang pasti ada sesuatu yang terdengar baru di situ. Ini pertama kalinya anak laki-laki umur 4 tahun mendengar lagu acid house! Keesokan harinya, bokap gue pulang kantor dengan tas plastik Aquarius di tangan. Isinya sudah pasti. Gue langsung ambil ambil kaset itu, diputar di tape player warna-warni milik kolektif gue dan kakak. Selang-seling dengan Vanilla Ice, kaset favorit kakak gue saat itu, Jordy disetel untuk waktu yang cukup lama.”
REZA MUSTAR (Azer), 30 tahun, Jakarta
[desainer grafis]
“Ada dua macem. Pertama, beli bareng nyokap pas nemenin kegiatan rutin belanja bulanan, yaitu kaset OST The Flintstones dan OST Si Doel Anak Sekolahan, kelas 5 atau 6 SD, di pasar swalayan yang hampir sebagian besar orang Tangerang pernah ke sana atau minimal tahu namanya, “Sabar-Subur”. Harganya Rp. 4.500 untuk kaset Barat, kalau kaset lokal lebih murah. Kaset soundtrack The Flintsones bikin gue kenal Sex Pistols, karena di situ ada parodi lagu-lagu terkenal mereka, salah satunya berjudul “Anarchy in the Bedrock”. Lagu opening Si Doel Anak Sekolahan gue setel berulang-ulang, untuk meyakinkan teman-teman gue bahwa lirik yang benar adalah “Nih diberi sekali, orang bisa mati!” dan bukan “Gigi perih sekali, orang bisa mati...” Kedua, kaset yang dibeli pakai uang sendiri, album kedua Oasis, (What’s The Story) Morning Glory? Kayaknya kelas 1 SMP. Belinya nggak jauh-jauh dari Sabar-Subur juga, di kios kaset kecil di pinggir jalan, masih satu kawasan sama Pasar Lama Tangerang. Harganya Rp. 11.000. Namanya juga ABG, kaset itu gue jadiin modal buat PDKT mengejar cinta pertama gue. Waktu itu Oasis lagi oke-okenya dan juga belum terlalu norak, jadi lumayan bisa membantu gue keliatan keren, apalagi doski juga demen Oasis. Pas album What’s The Story itu baru keluar, gue langsung beli, makanya gue bisa satu langkah di depan para saingan yang juga deketin doski. Gue lumayan hapal lirik-liriknya karena di kasetnya kan dikasih lirik. Sementara cowok-cowok lain taunya baru sebatas “Don’t Look Back in Anger” doang, gue udah bisa bilang ke cewek itu, “Lagu “She’s Electric” ini buat elu…”
RIMBA PATRIA, 27 tahun, Bandung
[arsitek, House The House]
“Seinget gua ada dua, lupa urutannya mana yang lebih dulu, antara kaset album pertama Padhyangan Project Oo..lea…leo…!!! dan Java Jive album Java Jive 1. Waktu gua kelas 3-4 SD, sekitar umur 7 atau 8, tahun 1993-1994. Kaset P-Project belinya di toko kaset sekitar Jalan Dalem Kaum. Dibeliin sama tante. Kalau Java Jive belinya di Aquarius Dago, dibeliin juga sih, sama nyokap. Tapi dua-duanya gua ikut ke tempat belinya, hehe. Harganya kalau nggak salah sekitar Rp 4.000. Untuk ukuran anak SD harga segitu mungkin cukup mahal ya, soalnya gua inget nyokap agak ngomel ketika gua minta dibeliin itu kaset. Ketertarikan pertama gara-gara denger dari radio. Kalau P-Project mungkin karena lirik-lirik parodinya yang lucu, bikin pengen beli albumnya. Saat itu gua lebih tahu “Kambing Liar” ketimbang “Come as You Are”, gua juga belum kenal siapa itu Nirvana dan musiknya kayak apa. Kalau yang Java Jive murni gara-gara hits mereka yang judulnya “Kau Yang Terindah“. Liriknya ada kata-kata “…mari bercinta…“, dan sebagai anak SD gua nggak ngerti apa itu artinya, hahaha…”
RIZKY SASONO, 40 tahun, Yogyakarta
[Risky Summerbee & The Honeythief]
“Aku mulai beli records di tahun-tahun terakhirku duduk di sekolah dasar di London, dimana Top of the Pops menjadi konsumsi mingguan di televisi, itu pun gara-gara melihat kaset Madonna yang dibeli adikku. Tak mau kalah, aku mulai menyisakan uang untuk membeli my first records. Sisa uang jajanku masih belum cukup untuk beli album penuh, jadi aku hanya bisa memilih beberapa 7″ singles yang tak masuk chart saat itu. Hanya sisa-sisa yang tak laku terjual, dalam display khusus bertuliskan ‘Sale’. Beberapa di antaranya: Whitney Houston “Saving All My Love for You” dan Spandau Ballet “Through the Barricades“. Jumlah 99 pence hanya cukup untuk dua 7” singles, itupun di swalayan Woolworth (yang dikenal merakyat) di jalan raya Cricklewood, Barat Laut London. Sekarang tak ada lagi cabang Woolworth di sudut manapun di Inggris. Circa 1986, saat Top of the Pops mulai menjadi panduanku membeli singles atau album, aku ikut mengantri di HMV Tottenham Court Road, dimana Tiffany bakal tampil minus one lalu menandatangani 12″ singles-nya. Sambil menunggu giliran bersama ratusan ABG lainnya di saat aku seharusnya berada di sekolah, otakku sibuk meramu kata-kata manis untuk dilontarkan di depan Tiffany. Ketika jatahku tiba, dia menyapa “Hi, how are you?” dan tak satupun keluar dari mulutku kecuali “Fine, thanks.”
ROY THANIAGO, 27 tahun, Jakarta
[direktur Remotivi, redaktur majalah Bung!]
“Kalau yang dibeliin ortu atas permintaan dan rengekan gue sih kaset soundtrack-nya Ksatria Baja Hitam. Tapi kalau pakai duit sendiri dari ngumpulin uang jajan, yang gue beli adalah kaset Iwan Fals, album Best of The Best, kira-kira pas gue kelas 1 atau 2 SMP tahun 2000. Belinya di toko kaset yang baru pindah dari Pasar Petojo ke seberangnya, sebuah gedung bekas Petojo Plaza. Ini plaza yang sangat kecil, ada bioskop kecil isinya film-film Mandarin dan Hollywood basi. Belakangan plaza ini bangkrut, lalu dibikin kios-kios. Nah, toko kaset ini, merangkap toko fotokopi dan ATK, mengisi salah satu kios terdepan. Sekarang Petojo Plaza ini jadi gedung Bank Panin. Jaman remaja dulu, konsumsi adalah ekspresi identitas. Ketika teman-teman gue dilanda Boyzone, Backstreet Boys, Stinky, Wayang, atau Base Jam, gue milih yang rada urakan gitu deh, yang biasanya disukai gerombolan anak-anak badung yang juga demen Nirvana, White Lion, atau Guns N’ Roses, dan terkesan politis karena berpihak kepada rakyat kecil. Serunya adalah proses mengumpulkan duit jajan, terutama penantiannya. Gue udah itung-itung, kira-kira pada hari kesekian gue bakal bisa beli. Ketika akhirnya hari itu tiba, sepanjang pelajaran kepala gue isinya cuma “Hari ini beli kaset!” Begitu bel sekolah bunyi, gue buru-buru pulang (rumah gue di seberang sekolah, haha), naruh tas, langsung melesat ke toko kaset, yang jaraknya cuma 50 meter!”
THEORESIA RUMTHE, 29 tahun, Bandung
[penyiar radio, MC, pengajar kelas public speaking]
“Karena sejak kecil tinggal di Ambon bareng Om dan Tante, gue tumbuh bersama playlist lagu-lagu mereka. Jim Reeves dan Tety Kadi. Serius, nggak pernah denger lagu anak-anak malah. Agak remaja gue nggak beli album. Gue minta dibeliin lebih tepatnya, ke kakak gue yang lagi kuliah di Jogja, kaset Hanson yang ada lagu “MMMBop“. Di jaman itu gue tergila-gila sama Jordan Taylor Hanson. Di buku-buku tulis sering gue tulis nama gue Theoresia “Jordan Taylor Hanson” Rumthe. Gue inget banget gimana memelasnya gue memohon-mohon ke kakak gue untuk beliin di Jogja, karena kaset itu belum masuk Ambon. Untungnya kakak gue yang baik hati itu mau, dibungkus lalu dikirimlah kaset itu ke adik bungsu tercintanya ini. Jaman SMP gue mulai maen ke radio, tapi tetep nggak pernah beli album. Malah seringnya beli kaset kosong, buat ngerekam lagu-lagu langsung dari radionya! Tekan tombol Rec sebelah Play, hahaha! Jadi lagu-lagu di mixtape gue itu adalah: Savage Garden (apa lagi kalau bukan “Truly Madly Deeply”!), Boyzone, Tiffany, PJ and Duncan, Michael Learns To Rock, No Mercy, All Saints, Backstreet Boys, dan teman-teman boyband lainnya yang lagi happening di jaman itu. Nah, pas kelas 2 SMA, baru gue bisa beli album pakai duit sendiri: kaset Mariah Carey album kompilasi Number 1’s. Harganya kalau nggak salah.. 17 ribu? Lupa nama tokonya, nyatu sama toko buku gitu. Kayaknya sekarang tokonya udah nggak ada. Kenapa beli album itu, ya niat aja. Karena memang udah mulai suka nyanyi pas remaja. Dan ini sengaja mau ‘dengerin’ tekniknya. Hahaha…”
TARLEN HANDAYANI, 36 tahun, Bandung
[pendiri Tobucil & Klabs]
“Kaset Ekky Soekarno Project Kharisma Indonesia Vol. 1, kalau nggak salah pas aku kelas 6 SD, sekitar tahun 1988. Harganya Rp 2.000, dibeli pakai uang angpau Lebaran. Beli itu karena aku suka banget Eet Sjahranie (di kemudian hari jadi gitaris Edane), dan saat itu dia terlibat di project itu! Ekky Soekarno dan Fariz RM itu keren, jadi semua temen-temennya ikut kebawa keren lah pasti, hahaha… Lagu hits di album ini judulnya “Gadis Sentris“, yang nyanyi Ikang Fawzi! Dulu belinya di toko kaset di Pasar Kosambi (sekarang udah gulung tikar) karena rumahku dekat situ. Pasar itu salah satu tempat mainku waktu kecil, yah anak pasar lah.. Belinya rame-rame, bareng temen-teman. Sekarang kasetnya nggak tau ada di mana, udah ilang. Karena begitu masuk SMP aku pindah haluan ke Level 42 dan mengoleksi semua kasetnya.”
TAUFIQ RAHMAN, 36 tahun, Jakarta
[wartawan The Jakarta Post, co-founder Jakartabeat]
“Saya tumbuh di kota kecil di pantai utara Jawa dan hanya mendengarkan musik rock melalui radio yang dipancarkan dari Semarang, kota besar terdekat. Tangga lagu Top 40 Casey Kasem atau Rick Dee’s pertama kali memperkenalkan saya pada keberagaman musik Barat, meski yang lebih banyak saya dengar Ace of Base atau Color Me Badd. Di antara lagu-lagu Top 40 itu terselip musik-musik rock, yang walaupun mainstream, lebih banyak menarik perhatian saya—sebagai remaja puber pasti normal jika kemudian jatuh cinta pada musik rock. Ditambah lagi waktu itu, sebelum polusi televisi dan social media, ada siaran yang memutar lagu-lagu rock dan slow rock dari sebuah radio Semarang. Saya masih ingat nama DJ-nya Ronni Rachim, dengan suara dalam dan bijaksana, memutarkan track-track slow rock di acara “Slow Rock Session”, tiap hari Minggu dari jam 8 hingga tengah malam. Itu surga bagi saya, my sanctuary. Dari situ saya mendengar “Dream On” Aerosmith, lagu yang membuat saya terobsesi dengan 1970’s rock, jauh sebelum menemukan Marquee Moon dan The Velvet Underground and Nico. Dari sesi slow rock bersama Ronni Rachim saya kemudian tahu saat itu Aerosmith mengeluarkan album baru Get A Grip. Single pertama “Livin’ On the Edge” menjadi bahan pelajaran pertama saya—bahkan saya sampai tahu semua detail kecil dari track ini. Saya mengubah letak speaker kecil tape deck saya ke sana-kemari demi mendapat efek maksimal snare drum yang menggelegar itu dan selalu gagal. Saya hanya bisa tidur setelah mendengar potongan siaran radio di ujung track terakhir “Amazing” yang kebetulan sangat nokturnal. Begitu pentingnya peran radio buat saya. Namun album ini saya peroleh bukan dengan membeli, tapi saya pinjam dari seorang teman dan tidak pernah saya kembalikan. Cover kaset album ini, yang saya pandangi untuk meresapi liriknya, hanyalah fotokopian yang sudah mulai memudar. Kasetnya memang asli dan mungkin teman saya ini mendapatkannya dari sebuah toko di kota yang lebih besar, karena kaset ini tidak ada di kota kabupaten saya yang kecil, yang bahkan masih 17 kilometer dari kampung saya. Album pertama yang benar-benar saya beli dengan uang saya sendiri adalah Nirvana MTV Unplugged In New York. Tahun 1994, saya kelas tiga SMA, sudah mulai nakal dan jarang pulang ke rumah, meski hanya untuk hanging out, slacking off dan tidak melakukan apa-apa di rumah teman. Sepulang sekolah kami bertiga, sehabis hujan, berjalan kaki ke sebuah toko kaset—satu-satunya di kota kabupaten—yang menjual kaset musik Barat. Tujuan kami sudah jelas mencari album Nirvana tersebut. Uangnya hasil berbohong pada orangtua bahwa saya butuh uang lebih untuk membayar iuran ini dan itu. Dengan siaran terrestrial kami masih beberapa kali menyaksikan MTV dan jatuh bertekuk lutut kepada aura dingin dan coolness jika bukan aloofness Kurt Cobain di penampilan live ini. “Jesus Doesn’t Want Me For A Sunbeam” menumbuhkan kecintaan saya kepada akordeon seperti “The Man Who Sold The World” pada cello dan sound guitar yang down-tuned. Saya terobsesi dengan, bahkan sampai sekarang, bagaimana Kurt menyetel gitarnya untuk menghasilkan sound gitar semelankolik itu, yang menyayat di sepanjang lagu Bowie. Dunia berubah sejak itu, agak klise memang. Tapi Kurt membantu mendefinisikan apa arti menjadi muda dan tidak peduli—it still does. Sama seperti apa yang saya lakukan sekarang, saya kemudian memperdengarkan Nirvana Unplugged ke orang lain. Salah seorang teman saya datangi, saya putar kaset itu di Polytron besar di rumahnya, dan komentarnya, “Kok banyak orang tepuk tangan, mirip ketoprak.” Saya pulang dan kaset itu menjadi teman bagi kesendirian saya, belajar malam Ebtanas dan UMPTN. Album itu menjadi kunci buat saya untuk membuka pintu ke Yogyakarta saat kuliah, dan membuka horison yang lebih luas lagi. The rest is history. Terakhir saya pulang kampung, toko kaset itu sudah tidak ada, berganti menjadi rumah makan cepat saji fried chicken (see the irony here!). Ronni Rachim mungkin sudah tua dan masih mendengarkan Cinderella atau Europe, saya tidak pernah tahu. Dia bertanggung jawab atas nasib banyak anak muda yang tumbuh dewasa dan gelisah.”
WAHYU NUGROHO, 34 tahun, Jakarta
[Bangkutaman]
“Kelas 4 atau 5 SD sekitar tahun 1989, pas momen saya ulang tahun, saya diajak oom saya beli kaset The Beatles Hits Collection dengan bonus lirik lagu berbalut hardcover warna putih susu yang besar, di toko musik dekat rumah di Depok. Kalau tidak salah itu keluaran Team Records. Oom saya bekas penyiar radio amatir yang bekerja sebagai kameramen di PPFN. Dari koleksi kasetnya saya banyak mendengar The Beatles Everly Brothers, Elvis Presley, The Rolling Stones, dan KISS. Dulu saya mengenal The Beatles bukan lewat album, tapi dari lagu. Dan kompilasi adalah cara terbaik untuk mendapatkan lagu-lagu bagus The Beatles sekaligus. Setelah dewasa, dari sekian banyak musik yang saya dengar dan beli, kaset, CD, piringan hitam yang saya beli, referensi The Beatles yang banyak membantu lanskap musik saya sekarang ini, terutama bersama Bangkutaman. Boleh dibilang, cinta pertama memang sulit dilupakan.”
WIDYARANI, 34 tahun, Wageningen
[PNS, sedang studi banding]
“Kaset pertama yg gue beli… errr, seriously nggak inget. Kalau nggak Dangerous-nya Michael Jackson (yang videoklipnya fenomenal, “Black or White” yang ada Macaulay Culkin), berarti ya No More Games-nya New Kids on the Block (setelah 3-4 album medioker mereka). Itu kelas 1 SMP kalo nggak salah. Alesan beli album-album itu… karena peer pressure, hahaha! Dangerous semua orang punya, kalau No More Games, ya semua orang dengerin NKOTB. Paket hemat sih ya beli album the best-nya aja. There was nothing I particularly remember about those tapes. Sepertinya gue di alam bawah sadar gue ada tendensi untuk men-suppress memori masa SMP dan SMA. Dua-duanya agak hina sih, tapi sepertinya NKOTB sedikit lebih hina.”
WOK THE ROCK, 37 tahun, Yogyakarta
[Yes No Wave]
“Dari umur 7 tahun saya mulai mengkoleksi album rekaman musik terutama kaset. Format yang paling populer dan murah saat itu. Ada 3 sumber bagaimana saya mendapatkannya: orang tua membelikannya untuk saya, atau saya meminta orang tua saya membelikannya, atau saya beli sendiri. Orang tua membelikan saya kaset sebagai hadiah atau oleh-oleh berdasarkan musik atau rekaman cerita anak-anak yang sedang populer atau yang saya sukai; seperti kaset terbitan Sanggar Cerita, album dari Cicha Koeswoyo atau Adi Bing Slamet. Saat usia 7 tahun, saya mulai memilih album yang ingin saya miliki dan meminta orang tua untuk membelikannya. Album pertama yang saya minta adalah paket kaset kompilasi Breakdance dan OST Voltus V. Dalam paket itu ada bonus poster, stiker, kacamata, hand-band. Saya juga sempat tergila-gila dengan Gombloh. Saya beli kacamata hitam dan topi trucker. Tali yang melintang di topi saya potong ditengah jadi dua, lalu mengurai benangnya dan mengepangnya, sehingga terlihat seperti kucir kelabangnya Gombloh. Melihat ulah saya ini, bapak kemudian membelikan saya seluruh album Gombloh komplit. Di umur 8 tahun, kakak saya mengenalkan musik barat seperti New Wave dan Rock. Kami mulai tergila-gila dengan Duran-Duran, Iron Maiden, Judas Priest, Billy Idol, dll. Kamar kami terpisah. Kakak saya sangat pelit. Saya hanya boleh mendengarkan koleksi kasetnya di kamarnya. Ini membuat saya mulai menabung uang saku untuk membeli kaset sendiri. Kaset pertama yang saya beli adalah album live dari Twisted Sisters terbitan Rockline (Hin’s Collection) seharga Rp. 2.700,-. Saya tidak puas mendengarkan rekaman live performance tersebut, membuat saya tidak suka dengan rekaman live-performance karena menonton dan menikmati musik secara langsung bagi saya tak bisa terwakilkan. Baru tahun 2011 saya mulai menyadari kalau selama 6 tahun ini saya datang ke gigs tidak untuk menikmati penampilan band tapi untuk bertemu teman dan berpesta. Hal ini kemudian membuat saya gemar merekam suara dari suasana gigs dan mendengarkannya setiba di rumah. Sejak membeli sendiri kaset pertama itu saya mulai rajin membeli kaset. Mencoba untuk menandingi jumlah koleksi kakak. 1 bulan 2 kaset. Intensitas ini semakin tinggi saat saya pindah ke Yogyakarta. Hampir tiap minggu saya beli kaset. Sekali beli bisa 2 sampai 3 kaset, hingga kemudian bosan beli. Ada tiga sebab: 1. Beberapa album yang saya gemari tidak tersedia di toko; 2. Banyak koleksi yang raib entah karena dipinjam tidak dikembalikan atau dicuri; 3. Mendengarkan dan mengenal musik jauh lebih penting dari segalanya. Untuk itu saya berterimakasih kepada bapak Karlheinz Brandenburg sang penemu MP3 dan om Bram Cohen sang perintis peer-to-peer file-sharing. Dengan adanya teknologi tersebut, musik mudah didengarkan dan dibagikan tanpa kehilangan.”
YUSI AVIANTO PAREANOM, 45 tahun, Jakarta
[penulis Rumah Kopi Singa Tertawa, pendiri Banana]
“Sampai kelas dua SMP rasanya saya tak pernah punya kesempatan memilih atau membeli. Dalam pengertian begini, tanpa perlu repot, musik-musik bagus sudah tersedia di rumah. Misalnya, saat jalan ke toko kaset, Ayah akan membeli seri Beautiful Memories dan album-album kroncong, idolanya adalah Toto Salmon (siapa lagi ya bintang yang namanya menggunakan nama binatang: Tukul Arwana, Miki Jaguar?). Tapi, kadang ia juga mencomot Rolling Stones, Bob Dylan, Koes Plus, Chrisye, serta Leo Kristi. Kakak pertama senangnya memborong kaset-kaset keluaran Yes Record (itu lho yang logonya pesawat futuristik) sehingga sejak kecil saya sudah terpapar musik rock dan blues. Koleksi John Mayall ada, Rush komplet, ELP tak terlewatkan, Led Zeppelin dan Deep Purple menu harian, Genesis dan Yes jangan tanya lagi. Mungkin terdorong untuk nggaya di depan teman-temannya, ia juga mengoleksi Dave Gruisin, Chick Corea, John McLaughlin (Mahavishnu), dan Casiopea. Sementara, selera kakak kedua saya lebih umum seperti The Beatles, Queen, Police, Vina Panduwinata, The Mo, dan sejenisnya. Boleh jadi, ketika sudah tak terlalu ingusan lagi, ketika diajak ke toko kaset saya juga ikut mengambil dan pilihannya jatuh ke kaset kompilasi semacam Top Tracks atau Billboard 100 (sekalipun lagunya paling cuma empat belas). Setidaknya, jadi mulai kenal yang namanya Sade, Ultravox, Men at Work, dan The Fixx. Saya mulai benar-benar merdeka ketika menginjak bangku kelas satu SMA. Album musik pertama yang benar-benar saya beli tanpa pengaruh dari kedua kakak saya ada dua kaset, yaitu Misplaced Childhood dari Marillion dan The Hurting/Songs from the Big Chair dari Tears for Fears. Dua kaset itu saya beli dalam satu hari. Saya lupa harganya, tapi keduanya saya beli tahun 1985. Saat itu masih era kaset bajakan, mungkin tak sampai Rp 1.000. Saya membeli dari uang jajan, saya mendapatkan jatah mingguan. Toko kaset yang sering saya kunjungi dulu berada di kawasan pertokoan Micky Morse di Simpang Lima, Semarang. Jangankan tokonya, kompleksnya saja sudah berganti wajah total sekarang. Saya naik sepeda ke sana. Enaknya di toko itu boleh mencoba sekenyangnya. Setidaknya itu perlakuan yang saya terima, mungkin karena saya tergolong sering beli. Ada beberapa set stereo dilengkapi headphone. Kalau kaset yang saya beli bermasalah, saya tinggal menukarkannya lagi. Lagu pertama Marillion yang saya dengar adalah “Kayleigh“, sementara untuk TFF adalah “Everybody Wants to Rule The World“. Saya mendengarnya melalui radio, lagunya enak, liriknya mengundang ditilik lebih jauh lagi. Niat saya membeli makin besar setelah di majalah Hai saat itu ada artikel tentang TFF yang membahas bagaimana grup ini terbentuk. Setelah kasetnya terbeli, awalnya saya lebih banyak mendengarkan sisi A (Songs from the Big Chair), tapi kemudian saya lebih tertarik kepada The Hurting. Untuk anak remaja dari keluarga pecah (orang tua saya berpisah ketika saya berumur tiga tahun) dan sang ibu saat itu sakit keras dan tak lama kemudian meninggal, lirik-lirik semacam watch me bleed, bleed forever (“Watch Me Bleed”); when you don’t give me love, you give me pale shelter (“Pale Shelter”); atau learn to cry, like a baby, then the hurting won’t come back (“The Hurting”) sangat mengena di hati. Saat sedih-sedih begitu, gadis yang saya taksir juga tanpa ragu memperlihatkan ketidaktertarikan kepada gerak-gerik saya untuk memikatnya. Tak ada kasihan-kasihannya sama sekali. Wah, nelangsanya pol-polan saat itu. Kalau diingat sekarang lumayan lucu, tapi pada usia itu stok perasaan melodramatik memang masih melimpah ruah.”
ZEKE KHASELI, 35 tahun, Jakarta
[musisi]
“Pas gue lagi nunggu nyokap ngelahirin adik gue, bokap nyetelin kaset The Beatles buat gue. Tapi yang bener-bener gue beli sendiri adalah kaset-kaset dakwah Zainuddin MZ. Gue ngumpulin lumayan lengkap tuh. Dia kan suka ceramah-ceramah soal ajal tiba dan ngomongin alam barzah gitu. Absurd.”
* * *

Leave a Reply