Jauh sebelum Warkop DKI dan Sule, dkk. membawakan cover version-nya, Oslan Husein pertama kali menyanyikan lagu “Andetja-Andetji” ciptaannya sendiri diiringi oleh orkes pimpinan Jack Lemmers di film Kasih Tak Sampai (1961). Film yang disutradarai Turino Djunaidy itu dibintangi oleh penyanyi Upit Sarimanah, berperan sebagai asisten rumah tangga bernama Iyem, sementara tokoh anaknya diperankan oleh Rima Melati yang ketika itu masih berusia duapuluhan. Turut bermain pula di film, long time collaborator Oslan, yakni pria keturunan Yaman bernama Alwi. Lagu berdurasi kurang dari dua setengah menit ini sangat dipengaruhi gaya calypso cha cha cha, sementara liriknya bergaya pantun jenaka khas Melayu lama, berulang antara baris sampiran dan baris isi dengan pola rima a/b/a/b. Beberapa diksi tidak bisa saya tangkap artinya (bahkan termasuk judulnya, apakah itu hanya frasa tanpa makna dalam wujud dwilingga salin swara?), bisa jadi itu dialek daerah tertentu yang saya tidak tahu, atau sekadar lingua poetica demi mengejar keterpenuhan suku kata sekaligus kesesuaian rima. Warkop DKI bolehlah membuatnya jadi terdengar lucu (atau konyol, tergantung selera humor kita), sementara Sule dan geng Opera Van Java-nya mungkin bermaksud menjadikannya terdengar epik dengan corak sound lebih mutakhir dan gaya becanda kekinian, tapi pada versi asli dari Oslan-lah segala kejenakaan itu terasa subtil dan karenanya malah jadi melenakan. Aksen khas Oslan yang cool dan menggemaskan, juga aransemen elegan dari Jack Lemmers, berhasil menakar lagu ini pada tempatnya, nggak lebih nggak kurang. Begini bait terakhirnya, “…bukan djeruk (renana?) sembarang djeruk/ djeruk berasal (renana?) dari lah Bali/ ..bukan ngantuk (renana?) sembarang ngantuk/ ngantuk lantaran (renana?) nga’ dapat kopi…”
Andetja Andetji
Leave a reply
