Mungkin ini tak bisa dikategorikan sebagai kaset bootleg niat, tapi justru atas upayanya yang effortlessly cool itu kita patut angkat topi. Cukup dengan teks ketikan di atas kertas putih polos, variasi font warna merah (hanya soal ganti pita ketik saja), underlined, dan beberapa typo, rilisan ini mampu tampil elegan. Kaset ini sebetulnya adalah kopian dari dua piringan hitam. Side A, atau “Index A” kalau istilah kaset ini, diambil dari plat Sebelum Aku Mati, yang sampul aslinya menampilkan Gesang berpose dengan jas rapi dan berdasi (!) dengan rokok terselip di jari (!!), di dalamnya memamerkan warna vokalnya yang agak berat dan khas. Sementara Index B-nya diambil dari plat Malam Sjahdu, kompilasi lagu-lagu tentang malam dari Orkes Tetap Segar pimpinan Brigjend R. Pirngadie (jenderal dan keroncong, perpaduan yang bisa sangat dimengerti bukan?). Bunyi plat mungkin kinclong gemilang, dengan sesekali kemresek khas nostalgia; sementara versi kasetnya malah agak sayup-sayup mendhem, lamat-lamat semilir seperti rombongan pesinden yang bersenandung khidmat dari kejauhan. Justru pada situasi seperti itulah, dalam kombinasi yang susah dijelaskan, keroncong mampu berbicara banyak. Cocok untuk didengarkan sore-sore, jika perlu sambil memandangi ke luar jendela yang dibasahi gerimis petang. Jika perasaan Anda tidak jadi melankolis karenanya, mungkin Anda bukan manusia.

Leave a Reply