Untung Ada Tora

Ada satu banyolan yang bisa jadi tak semua orang tertawa karenanya. Seperti lazimnya tebak-tebakan garing, formulanya adalah “pertanyaan dan jawaban”. Pertanyaan: “Mengapa hari Minggu pagi adalah saat yang paling tepat untuk melewati jalan bebas hambatan di Los Angeles?” Jawabannya, ternyata sederet panjang stereotip yang menjengkelkan: “Karena orang-orang Katolik sedang berada di gereja, orang-orang Protestan masih tidur, orang-orang Yahudi sedang berada di Palm Springs, orang-orang Indian tidak boleh keluar dari suaka-suakanya, orang-orang Cina sedang memasak di restoran-restorannya, orang-orang Negro sedang mencuri ban mobil, dan orang-orang Meksiko tidak dapat menghidupkan mobil-mobil mereka…“

Ada usaha melucu di situ. Tapi juga ada nada olok-olok. Dan sebagaimana risiko yang diketahui semua pelawak di dunia, melawak adalah sejenis pertaruhan dua sisi mata uang: audiens tertawa, atau justru sebaliknya, lelucon gagal total. Khalayak bisa tertawa terbahak-bahak, atau malah cemberut karena tersinggung. Kita di sini tidak hendak menghitung peluang mana yang lebih besar untuk lelucon di atas, karena itu relatif. Sebab melawak pun mengenal konteks, baik geografis maupun sosiologis: tergantung kapan dan di mana dia ditampilkan. Yang sebenarnya lebih menarik adalah fakta betapa “stereotip”—yakni cara pandang yang menggeneralisir bahwa kelompok tertentu mempunyai karakter tertentu—ternyata benar-benar menghiasi berbagai aspek kehidupan kita. Termasuk dalam dunia lawak, suka atau tidak. Maka humor-humor berbau SARA bertebaran di mana-mana…

Lawak, yang acap dipandang sebagai upaya untuk kabur sejenak dari kepenatan hidup yang lurus dan membosankan, ternyata malah sering mencomot materi-materi yang biasa kita jumpai—yang akrab dan tak jarang menyebalkan—dalam hidup itu sendiri. Bahan tentang stereotip termasuk di dalamnya.

Kita akrab dengan stereotip, dan sebal dengannya? Ada apa rupanya?

Jawabnya bisa jadi sederhana: karena stereotip, pada umumnya, bersifat negatif. Padahal kita tahu bahwa stereotip seringkali keliru. Logikanya yang menggeneralisir alias “pukul rata”, dan seringnya serampangan, jelas-jelas mengabaikan perbedaan-perbedaan individual. Eric Hoffer, dalam bukunya The True Believer, menulis: “Ada kecenderungan menilai sebuah ras, sebuah bangsa, atau kelompok mana pun yang tampak lain, berdasarkan anggota mereka yang paling tak bermutu.”

Ketika anggota yang paling tidak bermutu itu malas, maka seluruh ras nampak malas. Ketika ada di antara mereka yang pelit, maka cap sebagai ras yang pelit segera melekat. Stereotip yang kaku menempatkan bahwa orang kulit hitam identik dengan penjahat, bahwa orang Batak pasti kasar, atau orang Jawa lebih suka menutupi perasaannya. Tentu saja ini tidak selalu benar. Kita mengenal sosok Oprah Winfrey yang disukai banyak orang dan jelas-jelas bukan bandit. Dan pasti ada juga, entah di sudut mana, seorang Sitompul yang lemah lembut, atau seorang Mulyono yang temperamental dan meledak-ledak.

Lalu, salahkan jika kemudian dunia komedi memakai stereotip itu sebagai bumbu penyedap dalam sebuah resep lawak? Komedi, sejatinya adalah perlawanan menentang yang lurus dan yang lumrah. Jika stereotip itu adalah hal yang, katakanlah lumrah (meski kita sebal), kenapa komedi malah mengeksploitasinya, bukan menentangnya, atau bahkan memboikotnya?

Bukan perkara yang mudah dijawab, memang. Karena bisa jadi ‘komedi’ itu sendiri, secara bentuk dan tradisi, adalah sesuatu yang juga rentan terhadap stereotip. Dari segi pelakunya pun, komedi tak bisa lepas dari cengkeraman stereotip. Setidaknya dalam hal fisik. Bukankah sudah ada semacam pandangan umum, bahwa pelawak seolah-olah ‘harus’ orang-orang yang berpenampilan ganjil, dengan fisik tidak-seperti-orang-kebanyakan, atau dalam istilah yang lebih kasar, “tak-boleh-normal”?

Dari sejak film komedi masih bisu pun, kita sudah mengenal Chaplin, satu sosok yang tak wajar. Bajunya sempit, celananya kedodoran, dan sepatunya terlalu besar. Perawakannya sendiri kecil, dan lebih pendek dari tinggi rata-rata orang bule pada umumnya. Kata-katanya yang terkenal, “Jika badanku beberapa inchi lebih tinggi, mungkin aku tidak akan selucu ini.” Dia bahkan merasa perlu menambahkan kumis kecil demi membuat tampangnya tampak lebih konyol dari ukuran normal. Duet pelawak zaman itu yang tak kalah populer, Laurel and Hardy, juga Abbot and Costello, juga memakai konvensi fisik kurus-gemuk dan tinggi-pendek sebagai upaya awal memancing tawa.

Mungkin pepatah don’t judge a book by its cover tidak bisa serta merta diterapkan dalam bisnis mengocok perut. Para pelakunya tampaknya sadar, bahwa kita, para audiens, judge a comedian by its look. Mereka berharap kita sudah ketawa di muka. Jelaslah bahwa modal kenampakan fisik termasuk pertimbangan pertama sebelum calon komedian diizinkan naik panggung.

Stereotip fisik ini juga menghinggapi dunia lawak Indonesia. Kita mengenal banyak epigon Chaplin, setidaknya dari segi kumis, mulai dari Jojon, Asmuni, sampai Gogon. Jika dulu kita mengenal sosok Ratmi B-29 yang berbadan subur, maka di zaman sekarang kita masih bisa melihat titisannya di Pretty Asmara. Pelawak Komar dan Ginanjar, jelas menjadikan postur mungil mereka sebagai modal awal supaya orang melirik mereka. Bahkan, Aming, komedian berbakat yang sekarang sedang naik daun, juga tampil dengan fisik yang amat sangat kurus melebihi normal.

Dunia lawak memang menjungkirbalikkan segala aturan kenormalan. Jika ajang model sampul atau kontes ratu-ratuan mendiskriminasi “si ganjil”, maka di dunia lawak justru sebaliknya: “si normal” tak mendapat kursi. Kalau sudah begini, masih bolehkah kita berharap, stereotip fisik ganjil—apapun itu—bisa lenyap dari dunia lawak? Tak bisakah panggung komedi menyediakan tempat lain untuk formula fisik yang tak menonjolkan ‘keanehan’ anatomi untuk ditertawakan?

Jawabnya: bisa, ternyata. Ada secercah harap, ketika seorang Tora Sudiro, yang berwajah ganteng dengan badan tegap penuh tato, memutuskan untuk terjun ke dunia lawak. Dengan penampilan fisik yang sebetulnya lebih menunjang sebagai bintang sinetron idola ibu-ibu, Tora justru memilih mengeksplorasi kegilaan akting komedinya. Kesukaannya terhadap almarhum pelawak Gepeng, dipadukan dengan kepiawaian mengolah gesture ala Jim Carrey (dan kekuatan naskah, tentunya), terasa segar dan sedikit berbeda. Dan khalayak pun tertawa.

Sebagian kita, yang mungkin sudah terlampau muak dengan stereotip fisik yang ada, akhirnya bisa bernafas sedikit lega, “Untung ada Tora.”

*

Ditulis dengan nama pena Yuki Tamaen untuk kolom di sebuah free magazine.

One thought on “Untung Ada Tora

  1. Cynthinks Post author

    hahahaha, bener sih.. lama2 gemes ngeliatin kok pelawak2 itu kayaknya maen fisiiiik melulu. tapi kalo ngeliat Tora, mak jlebbb banget itu 🙂

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *