Growing old gracefully, maunya

Ada beberapa pilihan untuk menjadi tua semacam apa. Saya sendiri belum merasa tua, tapi untuk sebagian orang sepertinya ada godaan-godaan tak tertahankan (*sticker WA ‘Gak Sanggup’) untuk meromantisir umur, bikin tafsiran-tafsiran aduhai atas pencapaian-pencapaian di belakang sekaligus rencana-rencana hari esok yang lebih gemilang. Buset dah. Bisa dimengerti memang, toh orang-orang brilian itu punya otak untuk membayang-bayangkannya, punya jemari dan gawai untuk menuliskannya, punya hak untuk mengabadikannya jadi prasasti mulia agar seluruh penghuni planet ini bahkan seisi tata surya tahu betapa layak difilmkannya perjalanan hidup mereka. Sah-sah aja sih, siapa tahu filmnya bakalan meledak dan bisa menginspirasi banyak orang? Jangan-jangan itulah yang membedakan mereka, eh, maksud saya kita, para spesies manusia ini, dengan bebek atau belimbing wuluh misalnya, yang apa boleh buat nggak bisa berkutik di ujung pisau H. Slamet atau pasrah di pohon digerus layu. Bukankah manusia memang makhluk bermain, dan permainan citra-citra adalah game paling populer di abad 21 ini, lengkap dengan segala daya pikat dan muslihatnya toh everybody else is doing it, kenapa nggak? Di era pageblug yang katanya memasuki fase ‘normal’ tapi rasanya kok kayak nggak ‘new’ sama sekali ini saya sibuk mengisi waktu menganggur dengan cara salah satunya googling kabar terkini dari idola-idola masa muda dulu. Pinisirin juga, apakah mereka masih hidup, dan kalau iya, setua apa mereka sekarang, dan menua seperti apa? Kini semuanya mudah dicari lewat hashtag-hashtag di social media, dan voila! Langsung ketemu akun resmi David Thomas (okay, Pere Ubu sebetulnya), Mayo Thompson, Blurt (bukan Blur lho ya, plis deh), Twink, dan masih banyak lagi yang kalau saya sebutkan bisa penuh kolom ini dengan nama-nama. Twink alias John Charles Edward Alder masih hidup dan segar bugar, baru saja merilis ulang album legendarisnya, bikin seri kuliah yang lucu-lucu judulnya, seperti “The Truth About Syd Barrett’s Stars” (Twink memang main drum di Stars, project musik terakhir Syd sebelum jadi gila), sekarang dia jenggotan dan memanjangkan cambang putihnya, sekilas masih tampak asyik orangnya. Mayo Thompson, seumuran Twink dan sedikit lebih muda dari bapak saya, rambutnya sudah beruban semua tapi masih atraktif gilak saat manggung tahun lalu, membawakan album solo legendarisnya yang dahsyat, Corky’s Debt to His Father. Ted Milton, si pentolan Blurt, kelihatan sudah peyot mukanya, tapi jambulnya masih asyik dan main saksofonnya masih kesetanan seperti jaman muda dulu. Sementara David Thomas, ah ini dia favorit saya yang paling favorit, mulai kurusan di usia senjanya, tapi tetap saja masih ketawa-tawa lepas di depan kamera, mempromosikan album terbaru (!!!) Pere Ubu di YouTube sambil uring-uringan lucu: album itu dicetak ke format vinyl tapi keping platnya setengah berwarna! Ugh, sekali asyik tetap asyik. Saya mau jadi tua seperti dia aja. Tipi misilihnyiii, saya nggak bikin Pere Ubu di masa muda saya, boro-boro band kayak Pere Ubu, band biasa juga nggak, dan mungkin nggak pernah bikin apa-apa jugaaa haha! Tadi pas lagi milih-milih foto untuk mengunggah tulisan ini (belum nemu yang cocok), tiba-tiba ibu saya telepon. Suaranya terdengar ceria. Beliau cerita-cerita tadi baru saja sepedaan keliling agak lebih jauh dari rute biasa. Suaranya sedikit ngos-ngosan kayak baru banget beres banget pit-pitan, lalu saya tanya pakai sepeda yang mana tadi. “Lho ya sepeda Ibuk yang biasa itu, Le!” Berarti itu sepeda kumbang Sim King yang dibelikan ayahnya, almarhum Mbah Kakung saya, buat Ibuk berangkat sekolah ke SMA di Solo sekitar dekade 1960an. Masih dipakai terus sampai hari ini, berarti usia sepeda tua itu juga sudah puluhan tahun sekarang. Astaga, awet banget. Setelah telepon ditutup, saya jadi kepikiran mengirim foto si kecil ke WhatsApp Ibuk, supaya Mbah Putri bisa lihat cucu terkecilnya sedang belajar naik sepeda. Saya potret-potret lagi sepeda si kecil, kado ultah tahun lalu dari Mbah Putri. Cekrek, cekrek. Saya amat-amati sepeda mungil ini, hmmm tampak kokoh juga rangka-rangka besinya. Apakah kita semua diam-diam mendambakan hidup yang kokoh dan (karenanya berharap semoga) awet? Tapi bagaimana kalau beberapa hal di dunia ini tidak seperti sepeda bagus ini? Bagaimana kalau beberapa part dari sepeda kehidupan itu seperti pedal misalnya, atau lampu depan, rem belakang, sudah terlanjur rusak dari awal? Cekrek, cekrek. Mungkin terus dikayuh aja kali ya, sebisanya sekuatnya? Cekrek, cekrek. Yang penting terus beringsut maju nggak sih, meski cuma pelan-pelan, terus sampai… nyampe tujuan? Cekrek, cekrek. Semoga kita sehat-sehat semuanya, sehat fisik, mental, finansial. Mau tua mau muda, mau sok tua sok muda, yang sudah punya maupun yang masih berusaha, mudah-mudahan semua dilimpahi kegembiraan.