The Celebration

Reuni sebuah keluarga besar bisa mengarah pada dua kemungkinan. Pesta meriah yang cerah ceria, sarat nostalgia dan gelak tawa; atau justru sebaliknya: suasana tak enak yang mengharu biru, cacat masa lalu yang bikin gerah dan para tamu yang tak betah. The Celebration lebih memilih yang kedua. Perayaan ulang tahun ke-60 seorang bapak, yang dihadiri anak, cucu, menantu, dan seluruh kerabat—acara yang harusnya menyenangkan—berubah menjadi jamuan makan malam yang absurd dan penuh kejutan yang benar-benar mengganggu. Ini bukan soal gelas yang tak sengaja pecah di tengah pesta yang khidmat. Bukan juga bocah yang tiba-tiba menangis keras pada saat doa bersama. Ini soal kesaksian menohok dari si anak sulung tentang sang bapak, dan masa lalu yang berusaha disangkal. Kalimat “every family has a secret…” bisa jadi benar, tapi rahasia sialan macam apa yang pantas dibeberkan di depan seluruh anggota keluarga, justru di tengah makan malam yang seru dan denting gelas anggur yang beradu?

Thomas Vinterberg (sutradara sekaligus salah satu penulisnya) dengan cerdik mengembangkan basis cerita yang berpotensi klise, menjadi sebuah narasi gelap yang sangat hidup, liar, dan meletup-letup. Spontanitas hadir lewat akting natural pemainnya, dan karenanya kejujuran itu terasa dahsyat. Sebagai film pertama gerakan Dogme 95 (dan bisa jadi yang terbaik), batasan-batasan dalam Vow of Chastity justru mengoptimalkan kekuatan film ini. Resolusi gambar yang kasar, juga kamera hand-held yang bergoyang-goyang, sukses menggambarkan suasana pesta sesungguhnya—jauh dari cara syuting yang artifisial dan berusaha sempurna. Musik pengiring pesta yang diambil langsung di lokasi, menyusul paras putus asa sang MC yang selalu berusaha tersenyum di tengah kekacauan, benar-benar menambah absurditas suasana. Keresahan menjalar sepanjang film, sekaligus memaksa kita tetap berada di dalamnya. Di tangan Thomas Vinterberg, drama klasik keluarga menemukan format baru yang lebih emosional ketimbang cara penuturan versi Hollywood—atau bahkan ala New Wave sekalipun.

The Celebration jelas bukan sekadar tentang perayaan pesta. Dia lebih merayakan sebuah perlawanan, pemaknaan baru arti sinema. Meski gerakan ini kelak bisa jadi (atau bahkan kini sudah) punah, setidaknya mereka pernah mencoba. Angkat gelas Anda, mari bersulang untuk usaha mereka.

[Budi Warsito]

The Celebration (Festen). 
Dogme #1: Thomas Vintenberg, Denmark/Sweden, 1998. Color, 105 min, VHS.

PS.
Beberapa tahun kemudian, Thomas Vinterberg bertanggung jawab penuh atas kedahsyatan video musik Blur untuk lagu “No Distance Left To Run” (2000). Sangat konseptual dan ‘beda’, bisa jadi ini video terbaik sepanjang karier Blur. Maaf, Damien Hirst, Julien Temple, dan Sophie Muller.

The Celebration

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *