Tag Archives: blur

Apakah Dia Memikirkan Mobil?

Rekomendasi terkocak yang pernah saya dapatkan di toko musik adalah dari mas-mas penjaga toko kaset di sekitaran Singosaren, Solo, Continue reading

under the Blur way

Ketika Blur manggung di Jakarta pada pertengahan 2013, saya ingat di lagu ke-16 ketika Damon sedang bermain piano tiba-tiba dia menoleh ke samping ke arah penonton, lalu senyum nyengir dengan gigi emasnya. Saya menduga itu karena dia senang lagu terbaru Blur yang sedang mereka mainkan,  Continue reading

April Mop

Tiap kali momen April Mop datang, selalu (((ingatan ini melayang))) pada lagu Blur “Fool’s Day”. Dirilis pertama kali di Record Store Day UK pada pertengahan April 2010, “Fool’s Day” adalah lagu Blur dalam formasi lengkap (kembali berempat) yang pertama setelah mereka terakhir rekaman 2003, Continue reading

#np Blur – “The Universal”

Konon salah satu lagu Blur paling populer ini dulunya hampir menjadi lagu ska, ketika para personelnya sudah hampir putus asa memikirkan harus bagaimana lagi mengaransemennya, hingga akhirnya Damon datang dengan ide intro berupa string section yang brilian itu. Meski Justine Frischmann terkenal sangat membenci lagu ini dengan menyebutnya “desperately bad on every level, personally”, harus diakui sihir “The Universal” justru terletak pada struktur lagunya, pada grafik emosinya, pada lapis-lapis sound-nya; dengan kata lain, ciamik justru pada setiap levelnya. Semua itu dibangun lewat pemilihan tempo lagu yang terukur naik turunnya (oh dinamika!) dan Continue reading

Kopi, TV, Popularitas

blur-coffee-and-tv

“Y’know, one time coffee was believed to be the drink of the devil. When Pope Vincent III heard about this, he decided to taste the drink before banning it. In fact, he enjoyed coffee so much, he wound up baptising it, stating ‘coffee is so delicious, it would be a pity to let the infidels have exclusive use of it’. I also feel that way about coffee. And about TV. And … about Blur.”

—Bob Dylan, memperkenalkan “Coffee & TV” di acara radionya pada tahun 2006

Sebuah kotak susu berjalan di tengah keramaian kota. Di badannya menempel selembar foto anak hilang. Susah payah ditembusnya segala rintangan perjalanan itu: jalan raya yang penuh mobil, orang-orang berlalu lalang, risiko terlindas dan terinjak. Bagaimanapun, si anak hilang harus segera ditemukan. Di rumahnya telah menunggu dengan cemas sepasang orang tua—muka mereka murung. Continue reading