Surat dari Teman: “Adu Jotos Budie dan Alexie di Surga“

“We all know that nostalgia is dangerous,
but I remember those days with a clear conscience.”
The Toughest Indian in The World. Sherman Alexie, 2000.

Meskipun sudah diperingatkan, saya masih keukeuh ber-nostalgia (nostalgila?) mengingat dengan jelas hari-hari saya bisa sampai ke hadapan kutipan sendu ini. Masa-masa itu adalah periode di mana saya, yang baru lulus setelah 5 tahun berkutat di bangku perkuliahan, dan akibat ketakutan irasional untuk masuk dunia kerja malah terjun bebas ke dalam dunia malam, maksudnya, dunia begadang; atau kerennya: dunia insomnia. Dunia malam dan dunia maya layaknya partners in crime, menggoda saya untuk bergaul dengan makhluk-makhluk gentayangan yang eksis di dua dunia tersebut. Salah satunya bernama Budie. Sosok yang saya anggap jenius ini saya kenal saat kami membicarakan satu film klasik Italia (yang tidak akan saya bahas di sini). Setelah itu, ia memberi peta rahasia menuju ‘rumah pohon‘-nya yang sederhana, bercat dinding gelap, perpaduan warna hitam-putih. Ketika iseng-iseng bermain ke sana lain waktu, saya menemukan secarik kertas lusuh berisikan sebuah cerita tentang masa lalu yang kurang begitu penting sebetulnya, tetapi kutipan pembukanya cukup menarik perhatian saya. Ya, kutipan yang sama dengan pembuka tulisan ini, diambil dari salah satu cerpen yang ditulis Sherman Alexie, seorang pengarang Indian Amerika dari suku Spokane atau Coeur d’Alene. Inilah kali pertama saya mendengar nama Alexie, thanks to Budie.

Selepas membaca kutipan itu, saya langsung tahu bahwa saya akan menyukai karya-karya Alexie, dan juga kisah-kisah masa lalu Budie yang berserakan di setiap sudut ‘rumah’-nya (yang saat itu saya yakini sedih dan ternyata di kemudian hari, saya benar). Di malam-malam saat dia sedang tidak tidur (dan saya tidak bisa tidur) itulah, Budie berceloteh tak henti-henti mengenai Alexie, bagaimana ia mengagumi karya-karyanya. Begitu semangatnya dia merekomendasikan saya buku-buku Alexie apa saja yang harus saya baca, hingga akhirnya diam-diam saya mencari tahu sendiri tentang Alexie dari internet. Saya hanya berhasil menemukan satu cerpennya yang dimuat di The New Yorker, selebihnya nihil. Seperti memahami keputusasaan saya, dia pun menawarkan untuk memberikan fotokopi buku-buku Alexie saat kami akhirnya bertemu secara langsung di dunia nyata. Budie memang baik, meski penuh kontroversi dan kontradiksi di sana-sini, persis karakter-karakter di tulisan Alexie yang saya kenal kemudian.

“What You Pawn I Will Redeem” adalah cerpen pertama Alexie yang saya baca. Saya melahapnya di kereta, dalam sebuah perjalanan panjang yang rencananya berakhir di Bandung, tempat Budie berada. Saya berkali-kali sengaja berhenti membaca untuk meresapi emosi yang terpancar dari kisah tersebut. Di sini Alexie bercerita mengenai seorang laki-laki Indian Spokane tuna wisma yang suka  mabuk. Laki-laki yang bernama Jackson Jackson (atau Jackson Squared) ini berupaya mengumpulkan uang sebanyak $ 999 dalam 24 jam untuk membeli regalia (pakaian khusus penari yang digunakan pada saat powwow, upacara ritual suku Indian) milik almarhum neneknya yang dijual di sebuah rumah gadai misterius. Regalia ini dicuri saat neneknya masih hidup, dan Jackson merasa peristiwa inilah yang membuat neneknya patah hati tak tersembuhkan, mengidap kanker, lalu meninggal.

Perjalanan Jackson2­ dalam mengumpulkan $ 999 dalam satu hari diwarnai dengan banyak peristiwa, baik yang mengharukan, manis, sampai yang tak masuk akal. Mendapatkan lotre $ 100 yang dihabiskannya untuk mentraktir ‘saudara-saudaranya’ di sebuah bar Indian (seorang Indian selalu memanggil Indian lain dengan ‘cousin‘ atau ‘brothers‘). Bercinta dengan Indian Duwamish yang baru dikenalnya. Bertemu dengan tiga Indian Aleuts yang duduk di bangku kayu dermaga menatap teluk dan menangis, menunggu kapal yang seharusnya menjemput mereka pulang sejak 11 tahun lalu. Ditolong oleh polisi kulit putih baik hati yang membangunkan Jackson2 yang pingsan di tengah-tengah rel kereta api. Akhir ceritanya tidak akan saya beberkan di sini, tetapi saya hanya ingin mengatakan: betul-betul menyentuh.

Sementara “Dear John Wayne“, cerpen Alexie kesukaan Budie, mengisahkan seorang antropolog kulit putih yang mewawancarai seorang wanita lanjut usia Spokane. Dalam tulisan ini, terlihat bagaimana orang kulit putih menyepelekan serta dengan ‘naifnya’ menganggap Indian hanya sebagai objek eksotis yang dapat mendongeng untuk mereka. Sayang sekali, wanita Spokane ini bukan wanita sembarangan. Objek pun menjadi subjek, bahkan ia mengaku pernah tidur dengan John Wayne (ya, John Wayne bintang film koboi itu) saat ia masih belia.

Melalui salah satu tokohnya, Alexie pernah berkata “Indians are great storytellers and liars and mythmakers.” Indian adalah pencerita, pembohong, dan pembuat mitos yang handal. Saya tidak bisa tidak setuju dengannya, terutama perihal kelihaian mereka bercerita dan bermitos. Buktinya kisah-kisah Alexie jarang sekali yang mengecewakan meski saya ragukan kebenarannya. Dari sini, saya mulai curiga Budie punya darah Indian. Untuk masalah pintar berbohong, saya tidak berani mengomentari, tetapi saya tahu dia adalah pencerita yang bisa bikin pembaca/pendengarnya termehek-mehek.

Gaya penulisan Alexie yang begitu jujur, pahit, tidak diduga, tetapi sangat (SANGAT) lucu, sedikit banyak mengingatkan saya pada kisah-kisah masa lalu yang dipajang di dinding-dinding ‘kamar’ Budie.  Gambaran Budie dan Alexie, dalam memori saya, tak terpisahkan, seperti kembar tidak identik yang tak pernah saling kenal tapi saling memahami. Hanya sedikit perbedaan: kisah Alexie lebih condong ke ‘magis’, sementara Budie, sayang sekali, lebih sering ‘tragis’. Meskipun mereka berdua dalam cerita-ceritanya tampak selalu melucu, apabila diperhatikan benar-benar, Budie dan Alexie selalu serius dalam candaannya. “Laughter is a very very serious business, Loli…“ ujar Budie ke saya suatu kali. Mereka berdua seolah menyuarakan betapa gentingnya perkara satu ini: humor teramat diperlukan saat harapan menghilang. Tertawa saja, karena menangis pun percuma.

Karakter-karakter yang diciptakan Alexie di karya-karyanya terkadang juga mengingatkan saya pada Budie. Karakter adalah orang yang sangat sangat lucu, namun di balik semua kelucuannya itu, terdapat kesedihan dan kepahitan yang sangat mendalam serta memilukan hati. Kesedihan dan kepahitan atas kenyataan bahwa mereka putus asa hidup (sebagai Indian); sedih sekaligus merasakan geli (atau jijik?) melihat kaumnya menjadi kumpulan pemabuk yang tidak berguna; serius sedih saat selimut sumbangan pemerintah yang diberikan untuk reservasi mereka sudah tertular cacar. Juga ketika merindu memakai kepangan rambut dan cawat serta berbincang-bincang dengan pepohonan dan sungai; kerinduan akan tarian pemanggil roh nenek moyang; dan dengan gamangnya berharap bahwa kapal-kapal laut Eropa lekas enyah, pulang ke seberang lautan, lalu para penumpangnya melambaikan tangan berjanji tak akan kembali lagi.

Titik puncaknya adalah mereka tahu bahwa mereka tak terselamatkan lagi. Mereka telah tersingkir dari rumahnya sendiri. Mereka telah kehilangan ‘salmon’ (baca: harapan) mereka. Nothing to lose. Mungkin karena adanya perasaan itulah, cerita-cerita yang dibuat Alexie bisa terasa sangat jujur, dan seperti kita tahu, kejujuran seringkali pahit dan menyakitkan. Tokoh-tokoh di cerita ini mungkin bukan orang tersuci, terbersih (dalam arti harfiahnya), atau terganteng di dunia, tetapi saya yakin, mereka adalah orang-orang yang sebenarnya baik dan manis. Mereka banyak dikekecewakan dan mengalami penolakan di dunianya, namun dengan kepala tegak mereka tetap berjalan ke depan, meski hari esok seolah tanpa harapan. Kisah-kisah Alexie juga seringkali sangat mengecoh. Kita tidak akan bisa menebak jalan ceritanya, terutama bagian akhirnya. Akhir cerita-cerita Alexie kerap sangat tidak nyambung dengan awal mula cerita. Persis seperti jalan hidup.

Menutup tulisan ini, saya ingin jujur, sebenarnya saya sedikit enggan menuliskan semua ini, karena saya merasa seperti sedang menuliskan eulogi—bukannya testimoni—bagi Budie ataupun Alexie (salahkan kata ‘surga’ di judul cerita!). Meskipun saya tahu, apabila sampai waktu itu tiba, saya tidak akan mampu menuliskan apa-apa lagi. Demi membesarkan (dan menenangkan) hati saya, maka saya berupaya mencari arti lain dari ‘surga’ itu sendiri, bukan hanya tempat selain neraka di mana kita pergi setelah mati, melainkan tempat atau momen di mana seseorang bisa merasakan bahagia saat hidup.

Sehingga tanpa harus meninggalkan dunia ini, Budie dan Alexie bisa terus beradu jotos untuk tetap bertahan hidup.

Saya menaruh uang saya untuk Budie.

– Loli.

* * *

CATATAN: Surat ini saya muat di sini tentu saja dengan seizin penulisnya (LMM).

2 thoughts on “Surat dari Teman: “Adu Jotos Budie dan Alexie di Surga“

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *