RIP Tom Slepe

Pertama kali mendengar lagu Jalan Bebas Hambatan-nya Bin Idris sebelum album solonya diedarkan tahun lalu, saya malah teringat Tom Slepe. Tentu musik mereka tidak sama, tapi ada spirit yang rada memper-memper yang agak sulit dijelaskan, melampaui sekadar perkara timbre atau bahkan sound dan teknik bergitar, setidaknya khusus di lagu itu saja (yang kebetulan memang paling berbeda, menyempal dari aura gelap sekujur album Bin Idris dan sejujurnya itu bukan nomor favorit saya di situ, hehe), yakni karakter lagu-lirik yang rada slenge’an seperti ingin berontak tapi sekaligus ada falsafah nrimo-ing-pandum, dengan tipikal komentar sosial yang sebetulnya sama-sama lugas dan agak mengejek-ejek termasuk ke diri sendiri, yang meski tak sevulgar Remy Sylado atau Mogi Darusman namun juga tidak sepuitik Gombloh era Lemon Tree’s atau Inpres dalam mengekspresikan amatan sekitar. Album yang versi kasetnya memakai judul Kere (Musica, 1980) ini bisa jadi adalah karya paling representatif Tom Slepe, yang betul-betul dicurahkan ke dalam album penuh (bukan lagi hanya “berbagi” slot dengan Iwan Fals—atau Iwan Fales—di beberapa kompilasi lagu-lagu humor), berceloteh tentang kelas sosial paling bawah dan bagaimana mereka menanggapi, sesekali mengakali, keadaan busuk dengan sikap woles dan serba guyon sekaligus semi pasrah, tertawa lepas sembari tak merasa perlu menutup-nutupi sikap “apa boleh buat, coy”. Lagipula musisi pendukungnya pun seru-seru: di antaranya ada nama Cok Rampal di banjo/mandolin/flute/harmonika & beberapa instrumen lainnya; juga the one and only Braga Stone, sang legenda kecapi tunanetra yang cult itu. Ada juga kendang jaipong, kazoo, perkusi latin, bahkan moog, dan gebyar instrumen itu terkadang malah bikin album ini seperti gado-gado tanggung terutama karena artikulasi cengkok Tom Slepe yang terus terang memang bikin agak sulit menentukan pilihan artistik sound macam apa yang paling tepat untuk membungkusnya. Ini tetap salah satu album favorit saya dari era ’80an. Dan semalam, di Facebook saya membaca kabar sedih itu: kemarin petang beliau berpulang. Selamat beristirahat, Bung. Salam buat Pak Saidi, si petugas keamanan pasar yang bengek dan kecewa pada “…semua orang yang diam saja/ bersikap elo, elo.. gua, gua…

[Budi Warsito]

_______

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *