O Judge Dredd, Where Art Thou?


“They call him Judge, his last name is Dredd.
So break the law, and you wind up dead.”


(“I Am The Law” —Anthrax, dari album Among The Living, 1987)

Perkenalan serius saya dengan dunia komik tak lepas dari andil sepotong lagu metal, seorang hakim tua, dan anak laki-lakinya. Bukan, mereka bukan karakter komik. Mereka hidup di dunia nyata, yakni tetangga saya waktu kecil—rumahnya tepat di sebelah rumah saya. Meski mereka hanya tinggal berdua (di mana gerangan sang ibu berada, rasanya tak perlu diceritakan di sini karena terlalu sedih), namun di mata saya rumah itu sungguh seru, terutama karena hal-hal kontras selalu terjadi di sana. Rumah itu cenderung sunyi senyap, apalagi sang ayah (botak, usia 50-an) dan sang anak (gondrong, akhir 20-an) itu jarang saling bertegur sapa, dan saya hanya bisa menebak-nebak obrolan kaku macam apa yang terjadi di meja makan. Namun setiap pagi tiba, tepat setelah si ayah berangkat ngantor demi menjaga tegaknya hukum di negeri ini, keadaan berubah 180 derajat: rumah itu mendadak hingar bingar oleh udara kebebasan. Si anak, seorang pengangguran yang tertekan, langsung merasa merdeka dan menyetel tape keras-keras. “Life begins at six forty!” (merujuk jam keberangkatan ayahnya), maka dimulailah rutinitas sehari-hari si slacker: mendengarkan musik metal sambil jingkrak-jingkrak, dan mendekam di kamar sepanjang hari sambil membaca komik. Ya, selain metalhead, tetangga saya itu juga seorang kolektor komik. Dan koleksinya cukup mengagumkan.

Saya, masih kelas 2 SD waktu itu, sepulang dari sekolah sering main-main ke kamarnya, yang penuh puntung rokok, tumpukan kaset, dan komik bertebaran di mana-mana. Dialah yang pertama kali mencekoki saya dengan Batman (“Daripada jadi Clark Kent mending jadi Bruce Wayne, nggak usah kerja udah kaya raya!”), tak menggubris protes saya saat disuruh membuang komik-komik Donal Bebek (“Tapi kan Paman Gober juga nggak kalah kaya, Mas!”), dan menertawakan idola saya Gundala Putra Petir (“Kamu pernah baca Flash nggak sih?”). Saya tahu semua sikapnya menyebalkan, tapi apa yang bisa dilakukan anak umur 8 tahun yang juga merindukan figur seorang kakak sekaligus teman? Kamarnya selalu bising dengan lagu-lagu cadas, tapi toh saya tetap datang dan datang lagi. Saya ingat betul kenapa lagu Anthrax “I Am The Law” terus menerus dia putar: sebab lagu itu itu bercerita sepenuhnya tentang tokoh komik favoritnya—Judge Dredd! Yeah, hampir semua tokoh komik superhero impor digemarinya, namun di atas segalanya, Judge Dredd adalah pahlawan dia nomor satu. Lagipula, adakah yang lebih membahagiakan ketimbang fakta bahwa band favorit kita berbagi cerita tentang jagoan yang sama?

Selama intro lagu itu—kocokan gitar tebal diadu dengan gebukan drum gagah, memakan waktu 1 menit sendiri—tetangga saya itu ber-headbanging heboh di atas kasur, lalu dengan lantang meneriakkan lirik demi lirik, “He keeps peace with his law-giver, judge, jury, and executioners!” Dan menjerit sekeras-kerasnya di bagian “I am the law, you won’t fuck around no more!” Ketika dia tunjukkan adegan demi adegan Judge Dredd berjibaku di lembar-lembar komik koleksinya, saya sempat melihat matanya berkaca-kaca.

Dalam hati—tentunya setelah bertahun-tahun kemudian—saya sering bertanya-tanya, jangan-jangan itu semua berhubungan dengan latar belakangnya sebagai anak seorang penegak hukum, ditambah kemungkinan batinnya sedang tertekan oleh persoalan hidup entah apa. Judge Dredd, sang jagoan berseragam yang menggabungkan kekuatan polisi, wibawa hakim, kebrutalan preman, teknologi mutakhir, dan sedikit aroma monster Frankenstein itu jelas mengejek sistem penegakan hukum di masyarakat masa depan. Atas nama hukum, aparat boleh bertindak apa saja, termasuk menghabisi nyawa si pelanggar hukum. Saya tidak sedang bicara moral atau soal benar salah di sini, tapi saya hanya curiga: bahwa yang dilihat tetangga saya di sosok Judge Dredd itu bukanlah kesewenang-wenangan aparat akibat kekuasaan, tapi semata-mata kebebasan bertindak. Bukankah dia mendambakan kemerdekaan, yang hanya diperoleh ketika rumahnya kosong, dan bapaknya, seorang hakim terhormat, sedang tidak berada di tempat?

Namun apapun itu, sejak itulah saya mulai berpikir ulang tentang persepsi primitif masa kecil saya perihal komik. Bahwa ternyata komik tak melulu tentang superhero (atau kalaupun masih, lebih sering muncul dalam parodi, atau antihero), bahwa narasi hitam putih bisa jadi sudah basi, dan bahwa telah (sedang, dan akan selalu) ada kebutuhan terciptanya format-format baru yang lebih menantang. Beranjak dewasa, saya harus berpisah selama-lamanya dengan tetangga saya itu. Saya bersekolah di luar kota, dan ada berita sedih: dia minggat dari rumahnya, lenyap tanpa kabar. Ada yang bilang dia menjadi preman di ibukota, dan kabar terbaru: dia mati ditusuk di sebuah huru-hara. Ayahnya, kini pensiun sebagai hakim, berduka untuk kedua kalinya, menghabiskan masa senja dengan berpindah domisili entah ke mana. Sementara di saat bersamaan. saya mulai “meninggalkan” komik, sedikit “beralih” dengan menemukan keasyikan di gambar bergerak alias film. Namun tiap kali tak sengaja mendapati tumpukan komik impor di toko buku, saya selalu teringat tetangga saya itu. Diam-diam saya bersyukur dia tak sempat menonton akting buruk Stallone di film Judge Dredd (1995)—sebuah upaya gagal memindahkan karakter komik ke pita seluloid. Bisa-bisa dia meringis kecewa.

Zaman makin berubah, dan perkembangan komik di negeri ini pun memasuki babak baru. Komik-komik bawah tanah mulai tumbuh subur di kota-kota besar di Indonesia. Pakem bertutur konvensional yang saya pahami, terang-terangan mereka labrak: panel-panel makin diruntuhkan, ada keliaran imajinasi yang semakin menjadi-jadi, serta imbuhan elemen lain seperti permainan kolase, baik untuk teks maupun gambar. Ada memang, yang terkesan asal-asalan, baru setengah jadi, atau cuilan-cuilan momen keseharian yang ‘Gak Penting’ (tapi sebenarnya apa sih, yang ‘Penting’ itu?), namun entah kenapa, beberapa di antaranya berhasil menggetarkan hati. Jangan-jangan justru di situ poinnya: mereka cuek dengan tampilan, toh yang lebih esensial adalah gagasan. Ada gairah bermain-main di situ—sebuah kesadaran penuh sebagai homo ludens—maka jika kemerdekaan bercerita dan ketersampaian pesan justru tercapai dengan mempreteli segala perangkat baku itu, kenapa tidak?

Ketika pameran komik—baik yang “lurus” maupun eksperimental—mulai menjamur di mana-mana, ingin rasanya saya ajak tetangga saya itu datang melihat-lihat. Saya penasaran apa pendapat dia. Tapi di mana dia sekarang? Saya tidak tahu. Jangan-jangan sebenarnya dia selalu ‘ada’ menemani saya. Barangkali di alam sana, sambil menekuni halaman demi halaman komik Judge Dredd, dia tetap meneriakkan lagu Anthrax kesukaannya. Namun akankah dia bersetia pada lirik “so break the law, and you wind up dead“? Entahlah. Angkat gelasmu, ayo bersulang untuk kebebasan!

Budi Warsito
Penikmat budaya pop, tinggal di Bandung

Ditulis sebagai catatan pendamping “Komik Magnetik“—Pameran Komik 10 Seniman, di RURU Gallery, ruangrupa, 14-29 November 2009. Kurator: Ifan Ismail dan Yudha Sandy.

[Link]

Anthrax – “I Am The Law”

O Judge Dredd, Where Art Thou?

4 thoughts on “O Judge Dredd, Where Art Thou?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *