Nina Oh Nina

entah kenapa pagi itu terasa tidak seperti biasanya. saya masih di kamar, download lagu, sambil berpikir keras bagaimana cara menuntaskan deadline artikel 2400 kata, ketika tiba-tiba kakak perempuan saya mengetuk pintu dan bilang, “titip nina ya, dia masih bobo.” nina itu anak kedua dia, umur 3,5 tahun, rambutnya keriting lucu. rupanya kakak perempuan saya harus pergi mengantar anak pertamanya sekolah (kelas 1 sd), sekalian ada keperluan lain di luar. dia sedang terburu-buru, sementara nina masih tidur jadi nggak bisa diajak.

masalahnya, pembantu di rumah sedang pulang kampung. jadilah saya harus babysitting. saya tengok kamar nina di bawah, dia masih nyenyak tidurnya. okay bud, lo naik lagi aja ke atas, kan lo harus ngetik artikel. tapi kok rasanya tidak tenang. saya turun lagi, cek, oke sip, dia masih tidur. saya naik lagi. aduh tapi gimana kalau dia bangun dan saya tidak tahu? okay, saya turun lagi. ya ya ya, masih tidur tentu saja. hmmm repot juga naik turun tangga seperti ini. gimana kalau saya tulis pesan aja di kertas untuk ditempel di pintunya, “nina, om budi di atas, kalo ada apa2 panggil aja ya.” tapi saya baru ingat, balita-3,5-tahun-bisa-membaca itu lebih ke fenomena bocah ajaib, dan rasa-rasanya keponakan saya itu anak biasa aja. oh well.

setelah bolak-balik naik turun tangga 6 kali (semoga membawa pengaruh baik ke perut buncit saya amiiin), akhirnya saya menetapkan hati, udah deh bud, lo di atas aja. kalau nina bangun, dia pasti bakal nyari lo. lalu saya kembali download lagu, sambil berpikir keras bagaimana cara menuntaskan 2395 kata itu. saya pasang headphone, pilih-pilih lagu di itunes. wah, track ini enak sekali. thinguma*jigsaw – “my blood giggles”. syahdu-syahdu gimana gitu. semua instrumen (ehm, cuma dua sih) seperti sengaja disetel kendor, dan dimainkan dengan perasaan murung di tengah hutan. saya curiga hidup mereka sedang tidak baik-baik saja ketika merekam lagu ini. sampai-sampai ada suara nangis segala.

oh wait. suara nangis?

astaga! itu bukan dari headphone! arghhhh. buru-buru saya melesat ke bawah. ya ya ya, nina, umur 3,5 tahun, rambutnya keriting lucu, sudah berdiri di dekat tangga dan menangis. ya ampun, pasti dia bingung kenapa semua orang mendadak hilang. huhuhuhu. cup cup cup nina. saya berhasil menenangkan dia, sambil menenang-nenangkan hati saya sendiri tentunya.

“nina, mandi yuk! om budi mandiin ya?”

“nggak mau! maunya cama ibu!”

“tapi ibu lagi nganterin mas sekolah.”

“kalo gitu nina mau cekolah!”

“grrrrr… ya udah, tapi mandi dulu ya…”

“nggak mau!”

“dikasih permen deh ntar.”

“belapa?”

“nina maunya berapa?”

“cepuluh!”

“ya ya ya. permen sepuluh.”

“tapi yang lasa stobeli om..”

IYAAAAAAAAAAAA…

akhirnya nina mau mandi. saya mandiin dia sambil agak bingung, ternyata keponakan-keponakan saya punya odolnya masing-masing. “butan yang itu oooom…” yang mana emang? ini? butan. itu? butan! arghhh. saya ternyata tidak begitu mengenal mereka. sedih juga. sampai-sampai harus nanya, “baju nina biasanya ditaruh di mana sih?” itu! itu! itu! butan itu om! nina nggak mau pake lok! pake celana ajaaaa. yang melah! iya, yang melah! yang melaaah! girls love red, right.

lalu soal makan. duh, ditaruh di mana sih piring kesukaan nina? bikin susu. gawat, susu balita kan beda sama susu orang dewasa ya. ditaruh di mana sihhh? lalu menyisir rambut keritingnya. jangan sampai ketuker. nyuapin nasi pakai sisir dan nyisir rambut pakai sendok. waduh cerewetnyaaaa: “om juga kiting ya, cama kayak ninaaa… aduh om jangan kelas-kelas nyisilnyaa, cakit tauuu…” ya ya ya. sisirnya macet! nyangkut di rambut! waduh waduh! sekarang saya tahu alasan-bawah-sadar kenapa saya malas menyisir rambut.

makan selesai. nggak habis tentunya. hampir habis sih. mirip kesabaran saya. “ke kamar om budi aja yuk!” “gak mauuu, kamal ombudi belantakan!” entah apa yang saya katakan, akhirnya dia mau menurut juga. tapi syaratnya, saya harus gendong dia di pundak pas naik tangga. (wahai perut buncit tolong hargai usaha tuanmu ini ya.)

nina minta diputerin dvd kesayangannya. “dola om! dola de eksplolel…” ya ya ya. saya dudukkan nina di depan tv. saya kembali ke laptop, berusaha menyelesaikan artikel 2387 kata ini.

“ombudi, catu-catu dong, kalo nonton tipi ya nonton tipi. jangan cambil letopan.”
(sabar bud, sabar.)

“eh, ada keltas lipat! nina mau bikin pecawat aahhh…”
(bagus nina, bagus.)

“ada jelapah! ada jelapah! dola dola dola, naik jelapah ajaaaaa…”
(om budi pura-pura nggak denger.)

“ombudi pelnah naik jelapah? pasti beluuum. nina pelnah dong. di kebun binatang.”
(om budi menghela nafas. sabar bud, sabar. memasang headphone.)

“eh ombudi mau jadi pilot?”
(haa? maksudnya??)

“iyaaa, ombudi kayak pilot pake itu. hahahaha ombudi pilooot! naik pecawaaaattt ngeeenggg… ngeeeenggg…”
(om budi pelan-pelan melepas headphone, berusaha tidak membantingnya.)

hp saya berdering. editor saya menelepon. gawat.

“nina mau ngomong! nina mau ngomong! itu pasti ibu!”
(ya ya ya, nina. om budi juga berharap ibu kamu cepat datang.)

artikelnya dikit lagi beres kok mas, terpaksa saya berbohong. hp ditutup. lho kok hening? saya melirik nina. rupanya anak itu sudah mengantuk. matanya meredup, duduknya mulai merosot. pesawat kertasnya sudah lepas dari genggaman tangannya. saya sun keningnya, saya usap-usap pelan rambut keritingnya. diam-diam saya lega.

saya lanjut mengetik. 2370 kata lagi. dikit dari hongkong? tenang bud, tenang. pasti bisa.

beberapa menit kemudian.

“ombudi ombudi…”

saya menoleh.

“ombudi kalo cekolah naik pecawat?”

AAAARRRGGHHHH!!!!

[Bandung, 2008]

Catatan empat tahun lalu ini tak sengaja saya temukan lagi saat bersih-bersih harddisk lama tadi malam. Sekarang Nina sudah kelas 3 SD, dan luwes sekali ketika jadi MC di acara memasak di sekolahnya. Artikel 2400 kata itu tidak pernah saya selesaikan.

6 thoughts on “Nina Oh Nina

  1. Hujanreda Post author

    Wahahaha.. Seru bener pengalaman bersama Ninanya, padahal nggak terlalu lama ya rentang waktunya. Apik Mas.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *