Mengingat Yudi

Saya punya teman SMP namanya Yudi. Orangnya kurus banget, sumpah kurus BANGET, kayak Aming tapi lebih tinggi, bahkan lebih tinggi dari saya. Rambutnya lurus tipis, jatuh, nutupin jidatnya yang jenong. Giginya tonggos tapi gak tonggos-tonggos amat. Anaknya sangat bersemangat. Rumahnya agak masuk ke pelosok desa, dan untuk sampai ke sekolah, dia harus naik sepeda sekitar 1 jam tiap paginya. Mungkin waktu saya baru bangun dan masih males-malesan di tempat tidur, si Yudi ini sudah harus mulai mengayuh sepedanya ke sekolah. Gokil, 2 jam bersepeda bolak-balik tiap harinya! Betis Yudi, meski kurus kering, tampak padat berisi.

Rumah boleh jauh, tapi Yudi gak pernah telat. Dia selalu datang beberapa menit sebelum bel berbunyi, lalu mengelap dahinya yang selalu bercucuran keringat. Yudi tipe murid yang selalu ngacung ketika guru melempar pertanyaan, gak peduli seberapa seringnya dia salah menjawab (dan emang lebih sering salahnya ketimbang benernya). Guru-guru menyepelekan dia untuk urusan akademis, tapi menyukainya untuk urusan disuruh-suruh. Ngambil kapur ke kantor TU? Yudi. Fotokopiin tugas sekolah? Yudi. Koordinator kerja bakti? Yudi. Dekorasi acara halal bihalal di sekolah? Yudi. (Kebetulan bapaknya punya usaha percetakan, sering terima order nyetak undangan kawinan.)

Yudi gak jago main voli. Selalu jadi bahan ketawaan seisi kelas tiap kali melakukan pukulan servis: bola volinya malah membumbung tinggi ke atas, lalu jatuh lagi ke tanah, hanya sejarak 1 meter dari tempat dia berdiri! Kalau main sepakbola, Yudi sering terjungkal sendiri tiap kali mau nendang. Di lapangan dia selalu gonta-ganti posisi, gak jelas, lari-lari doang ke sana ke mari. Jadi bek kanan, gak ngaruh. Jadi gelandang tengah, gak pernah nyetor bola. Jadi striker, mandul abis. Jadi bek kiri, malah bikin gol bunuh diri. Yudi pernah sekali jadi kiper, dan para pemain lawan berpesta pora di gawangnya. Kasihan Yudi.

Meskipun sering jadi bulan-bulanan, Yudi teman yang menyenangkan. Di lapangan dijitakin, di kelas diketawain, tapi kalau sakit dikangenin. Saya sering membonceng sepedanya, pergi les bareng sepulang sekolah. Selasa Matematika, Kamis Fisika. Lesnya jam 2 siang, tempatnya cuma 15 menit bersepeda dari rumah saya. Yudi gak pulang dulu ke rumahnya karena jauh, jadi seminggu dua kali dia makan siang masakan ibu saya. Trus berangkat les bareng. Bolos les bareng. Minum es cendol bareng. Beli majalah bekas bareng. Rasa setiakawannya pun tinggi. Saya pernah hampir dipalak preman di tempat dingdong, dan Yudi langsung buru-buru berdiri menutupi saya, berhadapan frontal dengan si preman, meski dengan ekspresi muka yang kelihatan banget ditenang-tenangin. Persuasinya mungkin gak gitu ngaruh, tapi bisa jadi si preman jatuh kasihan sama tampangnya yang memelas, keringetan, jidatnya jenong, dan giginya agak tonggos sedikit.

Yudi lulus dengan nilai pas-pasan, melanjutkan SMA (atau STM, saya lupa) masih di Sukoharjo. Sementara saya lulus dengan nilai terbaik, melanjutkan ke SMA favorit di Solo. Sejak saat itu Budi dan Yudi gak pernah ketemu lagi. Saya bahkan gak tahu dia kuliah di mana. Atau mungkin gak kuliah. Kadang-kadang saya dengar kabar tentang dia dari ibu saya, “Katanya Yudi sekarang jadi teknisi operator telepon seluler, kerjaannya keliling Indonesia masang tower.” Saya cuma manggut-manggut mendengarnya, soalnya inget si Yudi ini emang jago banget manjat. Bola voli yang dia pukul pernah nyangkut ke pohon, dan kecepatannya memanjat bikin gelak tawa orang-orang langsung berubah jadi decak kagum. Meskipun ada saja yang nyeletuk “Abis ini… Yudi pergi ke pasar…!” Anak SMP emang jahat-jahat.

“Ibu pernah ketemu Yudi di acara kawinan. Lagi sibuk benerin soundsystem. Dia nanyain kamu sekarang di mana.” Itu beberapa tahun lalu, gak lama setelah saya berhenti kuliah. “Trus Ibu jawab apa?” “Ya di Bandung. Trus Yudi bilang pengen mampir kalo lagi tugas masang menara di Jawa Barat.” Yudi menitipkan nomor HP-nya lewat Ibu, tapi saya gak pernah sekalipun ngontak. Mungkin saya malu. Ya. Yudi sudah kerja, saya malah putus kuliah.

Setiap habis Lebaran, di hari H+ sekian, selalu ada telepon ke rumah dari Yudi, dan selalu ada saja alasan saya untuk menghindar. Saya yakin dia gak pernah tersinggung karena hal itu. Yudi yang saya kenal adalah Yudi yang polos, baik hati, gak pernah berpikiran jelek, dan satu lagi: pantang menyerah. Ya, pasti karena sifat terakhirnya itulah, selalu ada dan akan ada lagi “Telepon dari Yudi” pasca Lebaran tiap tahunnya, meskipun jawabannya selalu gak jauh-jauh dari “Budinya lagi ke luar..”, atau “Wah, Budinya udah balik ke Bandung lagi..” Paling banter divariasikan dengan “Nitip pesen apa Mas Yudi?”

Ibu pernah berusaha ngasih nasihat, agak-agak tersirat, “Gak papa lah Bud, kamu ketemu Yudi.” (Mungkin maksudnya “Gak usah minder.”) “Kalian kan temen deket.” (Pasti artinya “Temen baik kok menghindar?”) “Bilang aja apa adanya, kamu kerja apa.” (Terdengar seperti “Emang kamu gak bangga nulis skrip Extravaganza?”)

Tapi Budi tetap gak mau ketemu Yudi.

Waktu berlalu, tahun demi tahun berganti. Setelah satu dasawarsa lebih, di beberapa Lebaran belakangan ini, gak ada lagi telepon-telepon dari Yudi. Mungkin lama-lama dia bosan juga. Mungkin dia lagi sibuk. Mungkin dia sudah berkeluarga. Mungkin dia masih keliling Indonesia. Tiap lihat menara ponsel tinggi, saya sering mikir “Mungkin itu yang masang Yudi.”

Sampai akhirnya tadi siang, telepon rumah berbunyi, dan hanya Tuhan yang tahu kenapa harus saya yang mengangkatnya. Padahal saya paling males ngangkat telepon. Terdengar di seberang sana, suara cempreng yang gak ada duanya. “Halo, ini benar rumahnya Budi Warsito?” Hanya butuh sepersekian detik untuk bisa mengenali suara itu: Yudi! Gawat. “Halo? Halo?” Aduh, harus jawab apa ya? Cepet Bud, putar otak! Beberapa detik berlalu, mungkin Yudi sudah hampir menutup teleponnya, tiba-tiba terdengar suara saya yang sudah diubah menjadi lebih berat, “Iya betul. Ini siapa ya?” Suara di seberang sana mendadak ceria, “Ini temannya Pak! Yudi. Budinya ada Pak?” Rasanya agak tercekat ketika saya menjawab, “Tunggu sebentar ya Mas.”

….

(BERSAMBUNG)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *