Man Man – “White Rice/Brown Heart”

.
apakah kau ingat dulu kita (okay, kamu) pernah berusaha memainkannya semirip mungkin juga sebebas mungkin yang artinya justru sengawur mungkin sesalah mungkin dan paling penting sekeras mungkin karena yang kau pikirkan justru bagian gamelan yang menghantui sepanjang lagu (juga ‘duck duck duck’ dan kau ingat bali padahal kau benci bali—kau pikir aku tidak?) dan hey siapa yang harus meniup apa-itu-namanya,-klarinet? sambil memencet tuts terus-terusan dan siapa harus menirukan suara gajah ngamuk dan lolongan sapi gemuk pasrah di bawah parang berkarat tukang jagal (kau sapi! aku sumanto!) dan siapa harus menggetok kepala siapa (halo, tyler) sementara kita terus saja berebut mikrofon berkualitas buruk seburuk cara kita menghajar setiap perkusi gadungan yang ada sebab bukankah tutup panci dan pantat wajan jauh lebih murah untuk dirusak dan kau hanya sedang terlalu malas untuk membayar studio yang layak tapi tak ada yang lebih membuatku sedih ketimbang caramu mengundang kembali segala kenangan pahit di batok kepala (apakah itu preman d/h pacar-tampan-tapi-sakit-jiwa yang membuntuti dan berusaha membunuhmu a.n. cinta?) lalu pada lirik di menit kesekian air matamu menetes diam-diam “i saw me fall into a burning oven?” (plath is overrated bukan?) dan aku menggigiti bibirku supaya tidak ikut menangis tapi dadaku seperti dihantam seribu martil ketika kau menjerit histeris di kali kesekian “i heard me call for help but you’re not coming (NOT COMING!!!)” oh tidak, tidak, tidak, itu tidak mudah dan/atau kita memang sama-sama terluka dan pembosan aku pembosan kau pembosan mereka pembosan dan sebelum semuanya terlambat (sayangnya sudah) akhirnya kita menyerah.

lagu itu.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *