Lelaki Tua dan Sirap

Pemandangan asyik pagi ini adalah mengamati seorang bapak tua bekerja memperbaiki atap sirap yang sudah lapuk dimakan usia. Ini rumah tua tapi bapak itu bahkan lebih tua lagi. Dia bekerja dengan attitude,

ringan saja dia melompat ke atap lewat tangga lipat yang dibentangkan maksimal. Penampilannya cool dengan batik lengan panjang, celana bahan, dan sepatu olahraga lusuh yang kesyahduannya bakal bikin penyair mana pun tergerak menulis puisi tentangnya. Yang juga asyik adalah topi pancingnya, tak kalah lecek dengan si alas kaki. Beberapa orang sering terlihat di pergaulan musik lokal mengenakan topi semacam itu, mungkin sambil membayangkan diri mereka Ian Brown meski hasilnya kadang lebih mirip tukang buah. Sementara di kepala penuh uban si bapak tua ini, yang boleh jadi menghabiskan masa remajanya menguntit panggung-panggung Gombloh sejak era Lemon Tree’s dan estetika hidupnya sampai hari ini masih stuck di fashion Gombloh, topi itu bahkan lebih asyik ketimbang Ian Brown itu sendiri! Kumis dan janggutnya kusut masai dengan semburat abu-abu, dan selama bekerja beberapa hari ini dia punya request khusus: “Izinkan saya bekerja sampai Maghrib, Oom.” (Dia memanggil saya Oom! Bapak ini bahkan lebih millennial dari saya!) Permintaan itu terdengar sedikit tidak lazim karena tukang-tukang bangunan sebelumnya biasa sudah bersantai selepas Ashar meski jam kerja mereka sebetulnya baru berakhir jam empat sore. Menilep waktu rasanya memang sudah jadi budaya bangsa dan Pak Gombloh ini malah minta tambah waktu dua jam? Belakangan setelah saya amat-amati, sepertinya dia memang sangat menikmati pekerjaannya yang sebetulnya amat membosankan, menata sirap satu demi satu. Dicabutinya sirap-sirap lama, digantinya dengan sirap-sirap baru, disusun dan dipaku. Semua itu hanya bisa dikerjakan selapis demi selapis, sambil menjaga keseimbangan badannya supaya dia sendiri tidak terjungkal dari atap yang di rumah tua ini derajat kemiringannya agak lebih curam dari rata-rata. Sepintas lalu kerjanya seperti robot yang memang tak kenal rasa jemu, tapi lama kelamaan saya menduga etos ini lebih mirip biksu tua yang penuh kesabaran dalam mencari kedamaian. Dan kalau kedamaian itu adanya ternyata di atas atap, kenapa tidak? Dia turun setiap berapa jam sekali untuk klepas-klepus dengan rokok kreteknya. Saya mengangguk menyapanya dan dia balas mengangguk, raut mukanya datar setenang air kendi. Saya mencari-cari gurat lelah dan kalah di antara keriput wajahnya, tapi setelah beberapa lama justru saya yang menyerah. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *