Di Rudi, Sore Itu


(based on true story)

Sekitar jam 3-an di suatu sore, saya makan di Rudi, Jalan Ganesha. Pesanan saya sudah datang dan siap saya santap, ketika 4 cewek imut masuk dan memesan makanan untuk dibungkus. Sambil menunggu dan menonton si Rudi beraksi unjuk kebolehan masak-memasak (bagi Rudi ini “masalah reputasi” belaka), mereka duduk manis dan mengobrol di meja yang sama dengan saya. Volume obrolan mereka disetel cukup keras. Jadi, plis deh, bukan salah saya menjadi “penguping”.

Saya pikir mereka pasti masih SMA—wajah imut-imut mereka mengatakan demikian. (Dalam hal rumusan “jika imut maka SMA”, tentu saja Dian Sastro adalah sebuah perkecualian.) Mereka tidak sedang berseragam sekolah. Semuanya memakai kaos ketat, dengan daerah sekitar pusar dan terutama pinggang mengintip keluar malu-malu (mungkin inilah yang pernah disepakati seluruh dunia sebagai istilah “baju adek”), celana pendek di atas lutut. Dalam keadaan perut lapar seperti ini, paha ayam goreng di piring saya lebih menarik.

“Iiih, bete nggak sih, besok ulangan Matematika dan gua belum belajar sama sekali…” Imut I angkat suara.
 “Iya, gua juga. Tau deh. Kumaha engke lah…” Imut II menimpali.
 “Mana gua belon ngerjain PR Kimia lagi…” Imut III tak mau kalah rupanya.

Aha, betul dugaan saya. Ulangan Matematika? PR Kimia? Bukankah itu semua kosakata SMA? Baru setelah menjadi mahasiswa kita mengganti istilah ‘ulangan’ dengan ‘ujian’, dan ‘PR’ menjadi ‘tugas’. (Bagi mahasiswa yang masih tinggal sama keluarga, yang kebetulan manis dan harmonis, aih.. aih.. bolehlah redaksional-pamit-plus-cium-tangan itu sedikit diubah: dari “Ma, Adek berangkat sekolah dulu ya…” menjadi “Adek mau ke kampus nih Ma…”)

Dan dari mulut-mulut mungil empat cewek itu (eh, ada yang monyong juga sih) meluncurlah dialog-dialog khas anak SMA. Terasa sekali aroma AAdC merebak di sana-sini.

“Eh, tau nggak sih lo, tadi si Roy nyapa gua lho…” kali ini Imut IV sumbang suara. Dan memang sumbang betul itu suara, cempreng nyinyir khas penggosip ulung level SMA.

“Trus napa?” sahut yang lain.
“Ya, grogi aja, gitu…” Imut IV sok malu-malu.
“Ih, norak, ih!”
“Abis si Roy cakep gitu…”
“Ah, biasa aja ah!”
“Iya, biasa aja tuh!”
“Nggak, lagee..” Imut IV keukeuh, “…mirip Rangga, lagi… Cool abis. Lagian matanya itu lho… Rangga banget!”
“Huuu….” Paduan suara Imut I + Imut II + Imut III. (Kompak juga mereka. AB Three harus waspada.)

Maka menu makan siang saya pun bertambah dengan tiket gratis nonton acara Talk Show Remaja berjudul “Anak SMA: Saat-saat Terindah Menjadi Manusia”. Saya diam-diam terus menyimak.

“Denger-denger sih, abis lulus SMA ntar Si Roy mau belajar otodidak aja…”
“Belajar naon?”
“Otodidak.”
“Oto.. naon?”
“O-TO-DI-DAK. Budeg ih!”
“Otodidak teh naon?”
“Iya, otodidak tuh apaan sih?”
“Otodidak teh… ehmm, apa ya?”
“Nama jurusan kali, di perguruan tinggi gitu…”
“Kayak Teknik Mesin gitu kali ya…”
“Bisa jadi…”
Teuing ah!”

Astaga. Saya berhenti mengunyah. Saya jadi penasaran, di SMA manakah mereka bersekolah.

* * *

NB: Kamus Sunda-Indonesia:
[1] kumaha engke: gimana ntar
[2] keukeuh: ngotot, bersikeras
[3] naon: apa
[4] teuing ah: auk ah gelap

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *