Chairil dan Igor

Saya pernah ditunjuk guru untuk mewakili sekolah bertarung di lomba baca puisi tingkat kecamatan ketika saya kelas 5 SD, dan dari pembacaan yang mungkin lebay dan overdramatic atas sajak “Krawang-Bekasi” (1948) itu saya cuma kebagian juara II dan gagal maju ke tingkat kabupaten. Setelah masuk bangku SMP saya baru tahu ada puisi dari Archibald Macleish berjudul “The Young Dead Soldiers Do Not Speak” (sekitar 1941), tapi bahkan kalimat “They have a silence that speaks for them at night and when the clock counts” di situ bagi saya tidaklah sesyahdu transkreasi Chairil Anwar, “Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak“. Lebih ringkas, lebih mak jleb. Siapa pun yang mengalami masa pendidikan dasar di era ’80-’90an di negeri ini pasti pernah mendapati puisi Chairil Anwar “Doa” (1943) yang legendaris itu muncul sebagai soal ujian Bahasa Indonesia tentang apa pesan moral (!) dari bait “di pintuMu aku mengetuk/aku tidak bisa berpaling“, dan bukannya diajarkan berimajinasi kita malah dibatasi mencari jawabannya dalam bentuk pilihan ganda! Kalimat-kalimat Chairil memang sangat bertenaga sehingga kerap dikutip di mana-mana, seperti “aku mau hidup seribu tahun lagi“, “nasib adalah kesunyian masing-masing“, “hidup hanya menunda kekalahan“, “tapi kerja belum selesai, belum apa-apa“, “sekali berarti sudah itu mati“, dsb., dst. Tak terhitung pula banyaknya musikalisasi puisi yang tercipta dari situ, salah satu yang terkini adalah interpretasi pop akustik oleh kelompok musik Banda Neira dari sekitar 2014-2016 atas puisi “Derai-derai Cemara”, sebelum kemudian duo itu vakum dan akhirnya memutuskan bubar—seperti mengamini baris penutup di puisi tersebut, yang konon adalah puisi terakhir yang ditulis Chairil Anwar semasa hidupnya: “sebelum pada akhirnya kita menyerah.” Sementara favorit saya hingga hari ini masih tetap datang dari Igor Tamerlan, seorang singer/songwriter sekaligus multi-instrumentalis nyentrik yang berhasil menghadirkan kegalakan sekaligus kegenitan puisi “Aku” lewat nada-nada eklektik pop kreatif dengan bumbu saksofon yang licin dan lincah di sebuah piringan hitam 12 keluaran Musica pada tahun 1981. Di vinyl Igor Tamerlan satunya lagi, edisi promo radio lainnya untuk album yang sama, termuat juga musikalisasinya atas puisi W.S. Rendra berjudul “Lautan”, dengan mengulik musik Bali sepanjang hampir sepuluh menit. Di sebuah artikel di majalah Variasi Putra Indonesia edisi Juli 1981, Igor berkata dia merasa di dalam sajak-sajak itu sudah ada unsur ritmis untuk diberi melodi. Dia tertarik dengan spontanitas di puisi Rendra itu, yang dibacanya pertama kali justru dalam bahasa Prancis saat kuliah di Paris. Begitu pula puisi “Aku”. Menurut Igor, pada sajak Chairil ini “jiwa rock sudah tercermin di situ, jadi saya tidak sulit lagi membentuknya dalam sebuah lagu.” Bukan kebetulan Chairil masih ada hubungan saudara (bersepupu) dengan ayahnya Igor, yang juga sempat jadi penyair di masa Revolusi. Saya masih menyimpan dua eksemplar majalah Variasi Putra Indonesia itu, di sampul depannya ada foto Igor Tamerlan berpose dengan rambut mullet, mengenakan kaos kutung dari band The Specials, duduk memegang saksofon. Beberapa hari lalu di Twitter saya menemukan satu foto tua koleksi KITLV Belanda dengan keterangan “Jakarta, 1948”, beserta nama-nama seniman Gelanggang yang ada di foto hitam putih tersebut, dari kiri ke kanan: Mochtar Apin, Asrul Sani, Baharuddin, Henk Ngantung, Chairil Anwar. Mereka seperti sedang membicarakan sebuah lukisan. Tongkrongan Asrul terlihat cukup rock ‘n roll (tentu istilah itu belum ada saat itu) dengan kancing terbuka, lengan baju digulung, rokok terselip di bibir. Sementara Henk yang juga memegang rokok tampak begitu ceria, mungkin belum terbayang sama sekali olehnya dia bakal jadi gubernur Jakarta dua windu setelahnya. Dan tokoh kita, Bung Chairil, malah terlihat serius (atau malu-malu?) menunduk membaca buku. Pose itu pencitraan atau bukan, hanya Tuhan dan si cungkring yang tahu. Andai dia tidak mati muda di usia 27, hari ini si Binatang Jalang bakal genap berusia 95 tahun, dan barangkali dia akan mengunggah foto-foto terkini di Instagram. Tentu dengan caption “Mampus kau dikoyak-koyak selfie!”

[Budi Warsito]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *