Aming, juga Andy Dufresne…

Ini adalah kisah tentang dua ‘A’.

‘A’ yang pertama, adalah Aming. Seorang pemuda kurus berambut gondrong dan berkacamata. Dia sedang belajar seni rupa di sebuah perguruan tinggi terkemuka di Bandung. Kita tidak mengenalnya sebagai mahasiswa, kita lebih mengenalnya sebagai “komedian”—istilah yang seolah-olah lebih elegan ketimbang “pelawak” meski intinya sama saja. Wajahnya menghiasi layar televisi hari-hari ini, tampil dalam dandanan perempuan—plus gincu berlebihan dan buah dada palsu—berusaha mengocok perut kita. Cara melempar senyum genitnya, juga jeritannya yang khas, jelas sebuah usaha-bikin-ketawa. Bahwa hasilnya adalah penonton terpingkal-pingkal sakit perut, atau malah muak dan mengganti channel di remote control, itu lain soal. Yang jelas Aming sedang dicitrakan sebagai komedian, dan berhasil. Bahkan produk iklan yang dibintanginya pun menampilkannya berkostum badut.

Aming yang kita kenal adalah Aming si Pelawak. Padahal Aming juga seorang mahasiswa, yang menurut teman-temannya: Aming si Mahasiswa orangnya sangat serius dan pendiam, sangat jauh dari image ‘sinting’ Aming si Pelawak di panggung hiburan. Ketika popularitas Aming si Pelawak sedang menanjak—yang juga berarti kantongnya makin tebal—syahdan, datanglah surat peringatan dari rektorat kampus: dia harus menyelesaikan kuliahnya. Konon, jika tidak, silakan keluar tanpa mengantongi ijazah. Aming harus memilih: tetap melawak atau kembali kuliah. Atau dua-duanya, kalau dia memang bisa.

Sementara ‘A’ yang kedua adalah Andy Dufresne. Dia seorang bankir dengan karier bagus, yang diadili dengan tuduhan menghabisi nyawa istrinya dan pria simpanannya. Tuhan tahu dia tidak bersalah, tapi pengadilan dan para hakim memang kerap keliru. Palu vonis tetap diketokkan, yakni “seumur hidup”, dan Andy Dufresne harus meringkuk di penjara Shawshank: kerangkeng besi dengan kepala sipir yang korup, para penjaga yang kejamnya melebihi raja-raja lalim di cerita dongeng, dan gerombolan napi yang gemar menyodomi. Juga makanan bergizi buruk, seabrek aturan ketat, dan tembok-tembok tinggi yang bikin gila.

Penjara adalah sebentuk neraka, demikian sementara orang bilang, tapi Andy Dufresne memilih bertahan. Dia tetap waras. Otaknya terus bekerja, tanpa banyak suara. Dengan ketekunan yang mengagumkan, diam-diam dia melubangi tembok rapuh kamar selnya dengan palu kecil, dan menutupinya dengan poster aktris Rita Hayworth yang molek. Dia melakukannya sedikit demi sedikit selama hampir 20 tahun, sampai cukup besar, tanpa ketahuan. Di hari yang sudah ditentukan, dia kabur. Melalui lubang di tembok itu, lalu merangkak sejauh 500 yard di dalam pipa pembuangan—berarti kurang lebih lima kali panjang lapangan bola—akhirnya dia berhasil menghirup udara bebas.

* * *

Kisah Aming adalah kisah nyata, artinya di luar layar kaca sosoknya memang benar-benar ada. Sementara Andy Dufresne, bukan. Andy Dufresne hanya hidup di film The Shawshank Redemption (1994) garapan sutradara Frank Darabont, yang diangkat dari novel karya Stephen King.

Film, juga novel, adalah karya seni, dan tentu saja fiksi. Sementara “kehidupan”, kita tahu, benar-benar nyata. Namun terkadang dalam hidup, kita memang harus belajar dari hal-hal yang fiktif. Jika pertanyaan klasik “art imitates life, or life imitates art?” tampak makin susah dijawab hari-hari ini, berarti siapa meniru siapa tak lagi soal. Yang lebih penting adalah kita bisa belajar. Kita mendapatkan sesuatu. Dari manapun: kejadian sehari-hari yang sepele, sampai dongeng yang membuai sekalipun.

Dari dua ‘A’ ini kita bisa belajar soal pilihan. Life is a matter of choice. Meskipun berbeda kasus, ada benang merah yang menyatukan dua kisah itu, meskipun tipis: manusia seringkali dihadapkan pada persimpangan jalan. Belok kiri atau belok kanan, jalan terus atau mesti berbalik mundur. Hidup adalah masalah pilihan. Semua “pilihan” mengandung “konsekuensi”.

Bahwa Aming dulu memilih untuk mencoba peruntungan di dunia hiburan, tentu bukannya tanpa usaha. Syuting mengharuskannya bolak-balik Bandung-Jakarta, dan ini berarti waktu, tenaga, dan biaya. Ketika popularitasnya menanjak—rating acara komedinya naik, lalu ditawari untuk sebuah acara talkshow—kegiatan syuting menjadi hampir tiap hari, maka wajar jika muncul pertanyaan: lantas kapan dia kuliah? Andaikan sekarang dia memilih untuk kembali kuliah, ini berarti selamat tinggal pada para-penggemar-dan-karier-yang-sedang-menanjak.

Sementara Andy Dufresne mengajarkan pada kita betapa “pilihan” juga berarti “risiko”. Keputusannya untuk kabur dengan cara melubangi tembok menghadapkannya pada kemungkinan kepergok penjaga. Jika ini terjadi, nyawa taruhannya. Para sipir keji siap menghajar kepala dan mengirimnya ke sel khusus untuk disiksa. Pilihan dia ini juga mensyaratkan kesabaran. Palu kecilnya hanya mampu mengais tembok sedikit demi sedikit. Karena itu perlu waktu hampir 20 tahun demi menghasilkan lubang yang cukup untuk kabur. Namun Andy Dufresne yakin akan pilihan itu, karena dia juga tahu risiko lain: jika dia tidak bertindak, maka selamanya dia akan mendekam di penjara itu, dan menjadi gila seperti beberapa napi lainnya. “Get busy living, or get busy dying,” ujar Andy Dufresne dengan yakin, di menit kesekian film The Shawshank Redemption.

Kita tahu akhir kisah Andy Dufresne, karena layaknya sebuah kisah “fiksi”, dia mempunyai ending, dan kebetulan happy ending. Penonton lega, dan bertepuk tangan. Sementara akhir kisah Aming, kita belum tahu. Karena “hidup” adalah the greatest show on earth, the never ending story. Atau, bisa jadi kita takkan pernah tahu ending-nya, jika dia mau menyimpannya sebagai hal-hal yang privat dan bukan sebagai santapan infotainment.

Semoga Aming ingat salah satu dialog di film Janji Joni (2005) yang juga dibintanginya meski hanya selintas: “Hidup itu macam bioskop. Kalau kau lambat, filmnya akan mulai tanpa kau. Bioskop tak akan menunggu kau.”

*

>> Ditulis dengan nama pena Yuki Tamaen untuk sebuah free magazine.

Aming, juga Andy Dufresne…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *