You Are What You Eat

“I’m not vegetarian because I love animals. I’m vegetarian because I hate plants.”
 —A. Whitney Brown, “Saturday Night Live” cast member, Season 11-16, 1985-1991.

Saya punya banyak teman vegetarian, tapi tak punya satu pun teman kanibal. Hannibal Lecter cuma hidup di dunia rekaan Hollywood, dan saya juga tidak kenal Sumanto dari Purbalingga—sebagaimana saya berharap dia juga tidak kenal saya. Memang apa hubungannya vegetarian dengan kanibal? Mungkin tidak ada. Saya hanya tiba-tiba teringat seorang kawan, perempuan vegetarian yang mengaku moviefreak sejati, pernah membuat review film Korea berjudul 301, 302 (Cheol-su Park, 1995) dengan penuh semangat. Dan kebetulan, film itu tentang kanibal. Oops, spoiler. Saya sendiri juga suka film itu, sebuah drama tentang kesepian dan dendam, disajikan dengan sinematografi indah, dramatik, dan terus terang bikin saya lapar. Haa!

Saya juga teringat sebuah buku bagus terbitan 1992, berjudul Cut! Horror Writers on Horror Film. Di buku itu, salah seorang kontributor, penulis fiksi horor, mengaku menyukai film kanibal padahal dia seorang vegetarian. Kathryn Ptacek, demikian nama perempuan penulis itu, mengaku doyan film dengan tayangan sadis itu tanpa harus tahu kenapa. Artinya: dia nonton, ya karena pengen nonton aja. Dia membahas dengan cukup bagus film Motel Hell (Kevin Connor, USA, 1980). Film horor kanibal ini mungkin kurang terkenal di sini, tapi pernah diputar di sebuah bioskop kelas kambing di kota saya—sekarang bioskop itu sudah tidak ada, menjelma jadi gedung pertokoan. Saking gak ngetopnya film itu, pernah jumlah penonton di bioskop itu cuma 5 orang. Salah satunya saya, duduk di barisan tengah, masih bercelana pendek waktu itu. Empat lainnya? Dua pasang muda-mudi, mojok di kursi belakang dan tak peduli dengan film yang diputar, sebab mereka sedang sibuk membuat ‘film’ sendiri.

Meski ada dua film yang sedang diputar bersamaan—satu di layar, satu di kursi penonton—saya berusaha menguatkan iman dan tetap berkonsentrasi menatap ke depan. Premis filmnya sendiri cukup menarik. Settingnya: sebuah penginapan bernama Motel Hello. Papan namanya, sebuah plang dengan cahaya neon, selalu berkelap-kelip tepat di huruf “o”-nya, sehingga lebih sering tampak terbaca “Motel Hell”. Dan sebagaimana hell, penginapan ini memang keparat. Pemiliknya, lelaki aneh bernama Vincent, menjalankan bisnis motel yang terkenal dengan sajian daging asap teramat lezat. Namanya juga film kanibal, tentu bisa ditebak: yeah, daging asap itu ternyata terbuat dari daging manusia. Stok dagingnya, nah ini dia, didapat dari pengendara mobil yang apes lewat di depan motelnya. Vincent menjebak mereka dengan memasang paku di jalan. Dan Vincent bukan tukang tambal ban: dia malah menangkap si pengendara mobil, menghajarnya, menyeretnya ke kebun.

Berikutnya adalah aksi ganjil yang sadis. Vincent mengubur hidup-hidup para korban, dengan kepala dibiarkan nongol di permukaan tanah. Supaya tak bisa menjerit, Vincent mengiris dan melucuti pita suara mereka. Hasilnya, sajian visual yang mengerikan: kepala-kepala mecungul di tanah dengan mulut mangap dan komat-kamit, tapi tak keluar suara. Lalu Vincent menentukan nasib mereka selanjutnya: bahan sedap untuk daging asap, sajian khas Motel Hell.

Keparat betul filmnya. Di tengah gelapnya bioskop, adegan yang berpendar-pendar di layar beberapa kali bikin saya kaget dan memaki pelan. Sementara di belakang sana, dua pasang muda mudi itu juga menjerit tertahan, tapi atas alasan berbeda: saya karena ketakutan, mereka gara-gara keenakan. Semprul! Kanibal juga sih mereka, manusia ‘melahap’ manusia. Saya keluar dari bioskop, masih sambil misuh-misuh. Di jalan pulang, saya kepikiran terus dengan satu kalimat di film itu, yakni ketika Vincent mencari pembenaran aksi kanibalisme tersebut, “There’s too many people in the world and not enough food. Now this takes care of both problems at the same time.” Cerdas juga penulis skenarionya.

Beranjak dewasa, pura-puranya untuk menghormati kenangan manis saat menontonnya di masa kecil, saya mulai berburu film Motel Hell, berharap menemukan DVD-nya, atau VHS, atau LaserDisc, apapun. Namun rupanya tidak mudah. Bertahun-tahun saya mencari, hasilnya tetap nihil. Saya malah mendapatkan film-film tentang kanibal lainnya. Di rak koleksi film saya, tepatnya di area yang berlabel “films about food”, berjajar judul-judul seperti: Cannibal Holocaust (Ruggero Deodato, 1980—film kanibal “klasik” yang sampai sekarang belum pernah selesai saya tonton saking jijiknya), Silence of the Lambs (Jonathan Demme, 1991, tentu yang pertama saja, sebab sekuel dan prekuelnya kurang oke), Delicatessen (Marc Caro & Jean-Pierre Jeunet, France, 1991, film kanibal yang dibuat oleh orang yang juga membuat film manis Amélie!), Cannibal Ferox aka Make Them Die Slowly (Umberto Lenzy, Italy, 1981), iklan promosi untuk film ini berbunyi ‘Banned in 31 countries!’—meski murni fiksi, film ini masih saja dilarang di Inggris), Ravenous (Antonia Bird, 1999, kritikus Ebert pernah menyebutnya sebagai resep film vampir dan kanibal yang disajikan dengan saus baru), dsb, dll, dst, etc. Terlalu panjang untuk disebutkan semuanya di sini. Oya, tentu saja termasuk karya anak negeri: Kanibal Sumanto (Christ Helweldery, Indonesia, 2004).

Sementara Motel Hell sendiri malah belum berhasil saya dapatkan sampai sekarang. Adakah di antara sidang pembaca yang budiman, kepikiran untuk membantu dan menghadiahkannya ke saya? Bukan file hasil unduhan lho ya. Format VHS kayaknya lebih cool. Ulang tahun saya berikutnya masih nanti bulan Juni kok, dan saya suka kejutan. [Update: Penantian itu berakhir juga. Seorang kawan yang sempat tinggal di Amerika, sebelum pulang ke tanah air membelikan saya VHS itu sebagai oleh-oleh. Yeayy!]

Ngomong-omong soal kanibal, saya kenal satu kawan yang juga antusias tentang hal serupa. Dia selalu bersemangat menceritakan pengalaman serunya saat menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN) di sebuah desa terpencil di kaki gunung. Menurut kabar angin yang berhembus, warga desa terpencil itu masih kanibal. Atas nama rasa ingin tahu yang mendalam, sekaligus bayangan muluk-muluk sebuah skripsi dahsyat tentang riset antropologi atas fenomena kanibalisme di era modern, dia memutuskan untuk mengambil KKN di desa itu. Setibanya di sana teman saya itu langsung menemui kepala desa.

Setelah memperkenalkan diri dan berbasa-basi secukupnya, dia langsung masuk ke inti permasalahan, “Pak, ehmm, denger-denger, katanya warga desa sini, ehmm, masih kanibal ya?” Pak Kades menjawab dengan tersenyum, “Wah, dari mana Adek dapat informasi seperti itu?” Teman saya sedikit gelagapan, “Oh, dari.. ehmm, internet, Pak!” sambil tak yakin apakah Pak Kades itu paham internet. Masih sambil tersenyum pemuka desa itu menjelaskan, “Jadi gini, Dek. Kebetulan, sampai minggu lalu memang masih ada satu orang kanibal di desa ini. Tapi sekarang sudah nggak ada lagi.” Teman saya tentu kecewa, tapi dia masih menyempatkan bertanya, “Minggu lalu? Memangnya dia sekarang ada di mana, Pak?”

Kali ini Pak Kades sedikit menyeringai dan menjawab, “Sudah mati Dek, kemarin kami makan rame-rame.”

[Budibadabadu]

 

14 thoughts on “You Are What You Eat

  1. cynthinks Post author

    Yay ! Takut ah film2 kanibal gitu… Itu temen mas KKN nya di desa manaaa.. paraaaaah!! 😀 Saya pernah liat Delicatessen, soalnya gak terlalu disturbing, dan ya karena sutradaranya si Jeunet *jadi?*. Btw mas, film yg mas cari itu adakah di rapidshare dan sejenisnya? 😛

    Reply
  2. cynthinks Post author

    huahahah sukarmaju!! eh si mas mau film aselinya yah? 😛 kalo donlot mendonlot thok mungkin aku bisa ngebantuin..
    *barusan menutup tab hasil pencarian Motel Hell di google- ga punya nyali ngeliatnya*

    Reply
  3. cynthinks Post author

    Oke entar kalo pas jalan-jalan tak ceknya. Tapi ndak janji ya mas 😛 Udah ngecek di ebay belum? ini kok ada yg jual, dari Australi, di sini

    Reply
  4. Budi Warsito Post author

    Iya Cyn, pengen punya barang fisiknya. Di toko-toko DVD di kotamu ada gak? Kalo download aku juga lagi nyoba, tapi baru nyampe separuhnya juga belum nih. Gak punya nyali liatnya? Kalo ini doang sih pasti berani dong :p

    Reply
  5. Haris Post author

    saya sedang membaca buku “zaman edan”-nya richard lloyd parry. salah satu babnya mengisahkan konflik di kalimantan antara orang2 dayak dg madura. ngeri. sebab orang2 dayak ternyata menjadi kanibal semasa konflik. mereka memakan mentah2 jantung musuh2nya. mengerikan.

    Reply
  6. ejikuhibiniu Post author

    wah mas, saya ingat film ini! nonton di laser disc waktu itu! film itu cuman nonton sekali dan masih inget sampe sekarang. makasih udah nge-recall memori saya!

    Reply
  7. FritzDeja Post author

    Masih tertarik dgn LD film The Silent of The Lamb??
    Saya py satu bos, original kondisi bagus. Juga sejlh LD film box office lainnya. Mau dihargai brp bos?

    Posisi saya di Depok.

    Thanks

    FritzDeja
    mynewhub@yahoo.com

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *