Yang Dulu Damai dan Tak Gersang


Pada sekitar pertengahan dekade ‘80an, perawakan dan tangan saya sudah cukup besar untuk bisa memegang sapu lidi sendiri dan tugas harian saya adalah sore-sore menyapu halaman rumah, yang seingat saya cukup luas waktu itu, dipenuhi pohon mangga, jambu, dan nangka. Dua kakak saya tugasnya mengepel lantai dan menimba air sumur untuk mengisi bak mandi. Saya lebih memilih nyapu latar karena menurut saya itu lebih praktis, tidak perlu melibatkan air (yang menyiram tanaman seingat saya bapak, sambil sarungan, kaos sporot dan menenteng parang siap merawat pohon-pohon kesayangannya), dan ini yang paling penting: sambil menyapu saya bisa nyambi menikmati musik-musik bervolume keras dari speaker salon tetangga depan rumah. Pemiliknya, Mas J. si kribo pemuda gaul di jamannya, kelihatannya cukup bangga dengan soundsystem rumahannya yang memang paling menggelegar seantero kampung. Playlist kasetnya sebetulnya tak jauh-jauh amat dari apapun yang pop dan sedang ngetop di radio dan televisi saat itu, dan beberapa album yang lebih lawas. Lirik-lirik sendu kelam huhuhu seperti “tanda merah di pipi/ bekas gambar tanganmu” lumayan bikin saya merinding, semacam pelajaran pertama saya tentang konsep kekerasan dalam rumah tangga; dan seperti mau pipis di celana rasanya saya memikirkan apa bahasa Inggrisnya “Gelas-gelas Kaca”. Saya lebih suka cara Jayanthi Mandasari melagukan “Di Puncak Hijau” yang kenes, sedikit cempreng dan jadinya malah bikin hati makin semriwing, ketimbang “Bukit Berbunga” Uci Bing Slamet yang lebih poetic dan syahdu (saking miripnya lirik keduanya saya dulu menyangka itu satu lagu yang sama dengan dua penyanyi berbeda, haha!). Di antara yang serba pop itu terseliplah beberapa kaset yang terdengar agak ‘beda’ yang segera menjadi favorit abadi saya hingga kini seperti Gombloh era Lemon Tree’s, juga Mogi Darusman, dan terutama satu lagu dahsyat “Damai Tapi Gersang”-nya Ajie Bandy yang liriknya begitu muram. Di panggung gembira tujuhbelasan tahun 1984 di kampung kami, Mas J. kribo menjadi panitia utama bersama rekan-rekannya termasuk seorang tetangga kami yang dikenal mahir elektronika. Ternyata otak saya masih terlalu kecil untuk mengingat detail acara itu, tapi memandangi kembali beberapa hari lalu foto-foto lama punya bapak saya, yang sepertinya sempat berpidato di acara tersebut, saya jadi tahu bahwa teh botol (?) rupanya masuk juga ke kampung saya (dengan tutup botol yang sengaja tidak dibuka tapi dilubangi memakai paku untuk diselipkan sedotan; sebuah kearifan lokal agar isinya tak langsung tumpah jika botolnya tidak sengaja ketendang saat ditaroh di bawah kursi), dan betapa tape-deck dan tipe-tipe ampli yang kurang lebih sama yang dipakai para cool guys itu sekarang saya juga pakai untuk memutar musik-musik tua Indonesia lama, di mana kecintaan saya pada dunia itu sedikit banyak telah dibukakan jalurnya pertama kali oleh playlist senja bikinan Mas J. tadi itu, lebih dari tiga dekade lalu. Di acara reuni keluarga besar tempo hari, Mas J. ikut mampir bantu-bantu, dan di usianya yang hampir kepala enam dengan rambut sudah tak lagi kribo, masih saja dia merem melek menyanyikan lagu “Ayah” dari Rinto Harahap, semacam nomor wajib sejuta umat di acara nyanyi-nyanyi hajatan desa.

One thought on “Yang Dulu Damai dan Tak Gersang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *