<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: X dan/atau XXX…</title>
	<atom:link href="http://budiwarsito.net/x-dan-atau-xxx%e2%80%a6/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://budiwarsito.net/x-dan-atau-xxx%e2%80%a6/</link>
	<description>esok kita jumpa pula</description>
	<lastBuildDate>Thu, 02 Feb 2012 09:58:53 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
	<item>
		<title>By: antyo rentjoko</title>
		<link>http://budiwarsito.net/x-dan-atau-xxx%e2%80%a6/comment-page-1/#comment-29</link>
		<dc:creator>antyo rentjoko</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 25 Nov 2009 09:56:14 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://budiwarsito.net/?p=5#comment-29</guid>
		<description>Memang kemajuan teknologi menjadikan eksplorasi erotika melalui media rekam lebih &quot;maju&quot;. Apanya yang &quot;maju&quot;? Produk-produk privat melibatkan proses yang bisa mengurangi rasa malu saat produksi, tanpa sutradara, juru kamera, tukang lampu, clapper boy, dsb. Setelah itu bisa diedit sendiri. Ambil contoh yang ringan saja: sebelum ada fotografi digital (apalagi pakai ponsel), berapa banyak self portrait cewek di depan cermin, atau extreme close up untuk body parts? Pada zaman cuci-cetak film, hal seperti itu sulit. Artinya, fotografi digital juga membantu eksplorasi diri dan pengenalan diri. Tapi mau foto mau video, jadi masalah ketika dilempar ke publik. Sudah tidak privat lagi, hanya sekedar masuk kategori yang &quot;beneran amateur&quot;.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Memang kemajuan teknologi menjadikan eksplorasi erotika melalui media rekam lebih &#8220;maju&#8221;. Apanya yang &#8220;maju&#8221;? Produk-produk privat melibatkan proses yang bisa mengurangi rasa malu saat produksi, tanpa sutradara, juru kamera, tukang lampu, clapper boy, dsb. Setelah itu bisa diedit sendiri. Ambil contoh yang ringan saja: sebelum ada fotografi digital (apalagi pakai ponsel), berapa banyak self portrait cewek di depan cermin, atau extreme close up untuk body parts? Pada zaman cuci-cetak film, hal seperti itu sulit. Artinya, fotografi digital juga membantu eksplorasi diri dan pengenalan diri. Tapi mau foto mau video, jadi masalah ketika dilempar ke publik. Sudah tidak privat lagi, hanya sekedar masuk kategori yang &#8220;beneran amateur&#8221;.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: nandojamur</title>
		<link>http://budiwarsito.net/x-dan-atau-xxx%e2%80%a6/comment-page-1/#comment-25</link>
		<dc:creator>nandojamur</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 18 Nov 2009 16:27:34 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://budiwarsito.net/?p=5#comment-25</guid>
		<description>hehe.. iseng jadi life observer (stalker!) nemu tulisan ini, tulisannya ngilangin segan..
apalagi yg ini: if, to go from A to B, the characters take longer than you would like, then the film you are seeing is pornographic.
hahahaha</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>hehe.. iseng jadi life observer (stalker!) nemu tulisan ini, tulisannya ngilangin segan..<br />
apalagi yg ini: if, to go from A to B, the characters take longer than you would like, then the film you are seeing is pornographic.<br />
hahahaha</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

