The World’s Greatest Rock ‘n’ Roll Scandals

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002), kata ‘skandal’ berarti “perbuatan yang memalukan; perbuatan yang menurunkan martabat seseorang”. Tapi jika dilekatkan pada nama-nama rockstar—yang seolah-olah identik dengan keliaran—masihkah itu berarti martabat turun? Dalam wacana popularitas dan industri musik yang hingar-bingar, names make news, dan tentu saja bad news is good news. Semakin heboh skandal yang mereka ciptakan, justru semakin tinggi ketenaran terdongkrak. Dan skandal itu tak pernah jauh dari selangkangan, botol bir, dan zat-zat terlarang. Setelah menghiasi headline beberapa surat kabar dan tabloid kuning, puluhan kisah skandal terbesar itu dikumpulkan oleh David Cavanagh, diramunya menjadi buku tipis ber-layout buruk yang layak dibaca setiap orang yang mengaku dirinya penggemar musik. Atau lebih tepatnya, penggemar gosip musik. Para penggila The Doors, misalnya, ‘wajib’ mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dengan Jim Morrison di hari naas di Paris, 5 Juli 1971. Atau benarkah Sid Vicious, pentolan Sex Pistols yang konon tak bisa bermain musik sama sekali, menusukkan pisau berkali-kali ke tubuh pacarnya hingga mati di sebuah kamar hotel di New York?

Buku ini sebenarnya lebih tepat diberi judul The World’s Greatest Rock ‘n’ Roll Tragedies, sebab kematian bertebaran di sana-sini. Ada apa di balik tewasnya Jimi Hendrix dan Janis Joplin? Apa hubungan serial killer Charles Manson dengan lingkaran selebritis dan musisi saat itu? Mengapa rumor ngawur tewasnya Paul McCartney akibat kecelakaan mobil makin menjadi-jadi di tahun 1966? Benarkah hanya karena othak-athik gathuk dari para fans kurang kerjaan tentang tanda-tanda kematian di lirik lagu “A Day In The Life”, ilustrasi bunga tabur berbentuk mirip gitar bass di sampul album Sgt. Pepper’s Lonely Hearts Club Band, dan bahwa Paul McCartney satu-satunya personel The Beatles yang tak bersepatu di foto legendaris Abbey Road?

Fakta-fakta konyol dan seru tersebut—penting atau tidak penting itu lain soal—disajikan dalam judul-judul bab yang dicomot dari judul lagu-lagu terkenal. Bab berjudul “Dark Side of the Loon” misalnya (kita tahu itu plesetan dari judul album apa), membahas kegilaan Syd Barrett dalam arti harfiah dan kehancurannya akibat drugs hingga harus mendekam di rumah sakit jiwa. Perihal musisi yang sempat mencicipi kerasnya hotel prodeo dibahas di bab “Jailhouse Rock”, tentu saja dari judul lagu Elvis Presley, satu nama besar yang diakui penulis buku ini sebagai, “If there had never been him, this book would not exist.”

Secara menarik, buku ini juga membahas fenomena ‘groupies’ yang mulai menggejala di akhir 1960-an. Mengutip Eric Clapton, “It wasn’t your body or your face they wanted to make love to, but your name.” Ouch. Buku ini satu bukti betapa kalimat sakti “Sex, Drugs, and Rock ‘n’ Roll” bukanlah jargon belaka. Apa boleh buat, sebagian mereka ‘mengamalkan’-nya dengan sepenuh hati.

[Budi Warsito]

The World’s Greatest Rock ‘n’ Roll Scandals. David Cavanagh, 1994, Bounty Books, 160 pages.

http://budiwarsito.net/the-world%E2%80%99s-greatest-rock-%E2%80%98n%E2%80%99-roll-scandals/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *