Di Wadjahmu Kulihat Si Fulan

“Ini gambar apa Cil?” saya bertanya pada si kecil usia 2.5 tahun, yang menggambar pakai kapur merah di atas papan tulis mini warna hitam, kado dari mama dan papa di ultahnya yang kedua. Saya sudah deg-degan menunggu jawaban macam apa yang akan keluar dari mulut mungilnya yang biasa ceriwis tapi tumben kali ini dia diam saja. Setelah keheningan beberapa detik yang mencekat, barulah terdengar suara polosnya, “Ngga tau, Papaaa..” Mungkin dia hanya pengen menggambar begitu saja, saat itu si kecil memang sedang suka menggambar makanya kami belikan papan tulis, bisa jadi figur itu entah apa atau siapa. Lalu dia menarik-narik lengan saya minta dibacakan majalah Bobo edisi terbaru. Neneknya tetap berlangganan majalah itu meski cucu-cucu sudah mulai beranjak besar dan menetap di kota yang berbeda. Setelah lahir si kecil, yang tinggalnya masih berdekatan, majalah-majalah itu sekarang jadi rutin terbaca kembali, bahkan seringkali Oma khusus membacakannya untuk si cucu bontot yang berkunjung di sore hari, telaten lembar demi lembar, sambil kepala si kecil mengangguk-angguk lucu sok ngerti. Saya baru ngeh beberapa hari lalu bahwa temannya si Bona gajah kecil berbelalai panjang di situ sekarang sudah bukan lagi kucing bernama Rong Rong. Apa mungkin karena nama si kucing itu kini terdengar sensitif hari-hari ini; semacam “dirongrong” atau “merongrong”? Aih, orang dewasa memang rumit. Ngomong-omong, temannya Bona kini seekor kelinci bernama Ola dan seekor burung bernama Kaka. Telusur punya telusur (baca: googling) ternyata Rong Rong sakit karena terjatuh dan kakinya terluka, sehingga ia harus beristirahat lama, sampai batas waktu yang belum ditentukan, di sebuah desa. Bona sekarang malah sudah tidak pink lagi warnanya, melainkan ungu! Ada cerita juga di balik perubahan warna badan tersebut, yang bahkan hingga melibatkan invasi alien segala. Aih, orang dewasa memang rumit. (2) Padahal bukankah hidup ini sebetulnya biasa saja; yang hebat cuma tafsiran-tafsirannya? Sementara saya mengambil majalah untuk si kecil, di pojok ruangan, speaker bluetooth warna orange milik mamanya mengumandangkan lirik-lirik lucu penuh misteri dari David Berman, “..we’ve been raised on replicas of fake and winding roads/ and day after day up on this beautiful stage..” dan terutama baris rêngêng-rêngêng klangenan papanya, “..all my favorite singers couldn’t sing..”