Siang Malam Hati Merindu…

Sebuah artikel lama di majalah Varia terbitan akhir dasawarsa 1950an menyebutkan, “…lagu Tiga Dara oleh Saiful Bahri ditjiptakan di kamar 100…” Hmm, apa itu “kamar 100”? Setelah mencermati artikelnya baru saya ngeh itu maksudnya toilet. Selidik punya selidik, kiasan lawas yang kini sudah sangat jarang dipakai itu bisa jadi berakar dari istilah bahasa Inggris “in the loo” (artinya “di toilet”) dan secara visual susunan huruf di kata “loo” memang mirip angka 100. Inspirasi artistik dalam mengarang lagu bisa nongol dari mana saja, seperti notasi manis “Yesterday“-nya The Beatles ternyata dicomot dari mimpi McCartney di kala tidur, atau bagaimana lagu apokaliptik dari Blur “Battle” tercipta saat Damon Albarn berada di sebuah pulau kecil di Indonesia dan pasokan listrik sedang minim. Atau ya itu tadi, Saiful Bahri si bos Dendang Record bangun tidur lalu nangkring di atas kloset, sambil bersiul-siul. Yang paling saya suka dari aransemen asli di plat gramofon tua “Tiga Dara” keluaran sekitar 1956 ini adalah bagian berdurasi duapuluh detik di sepertiga terakhir lagu, yakni atraksi solo sebuah instrumen tiup (flute?) yang terdengar riang gembira namun sekaligus elegan, skillful; seperti bersukaria tapi juga penuh attitude—atau dalam bahasa Jawa: “sêmbada”. Bahkan permainan berliuk-liuk tersebut, yang sangat mungkin terinspirasi dari siulan doi saat membereskan hajat di pagi hari (singing, ngising), di kuping saya malah terasa seperti logika bahasa Jawa itu sendiri (atau mungkin juga di kebanyakan bahasa daerah lainnya, tapi yang paling saya kuasai apa boleh buat memang boso Jowo), yang halus dan berlapis-lapis dan penuh tikungan yang mengecoh, karena itulah saya pakai istilah sêmbada—meski Saiful Bahri sendiri asli Minang kelahiran Payakumbuh. Dan tak ada yang lebih menerbitkan kagum saya ketimbang kepiawaian komposer dalam menaklukkan jebakan betmen dari sisi teknis seperti itu; semacam “lu kalo nggak jago ya pasti kepleset”. Licin betul, dan “Tiga Dara” ini jelas berhasil.

* **

Orkes Saiful Bahri – “Tiga Dara” (excerpt):

* * *

Postscriptum: Seorang kawan bertanya dengan sungguh-sungguh, apa yang membuat suatu jebakan disebut “jebakan betmen” dan apa yang membedakannya dari jebakan biasa? Saya menjawab sebisa saya: bahwa saya pikir ini hanya semacam permainan licentia poetica belaka. Batman ‘kan konon banyak akal (dan okol, alias ototnya pun prima) sekaligus misterius—meskipun hampir semua pahlawan (super) bertopeng ya pasti misterius—sehingga selain alasan filosofis dan level kesulitan di tataran teknis, sangat boleh jadi istilah “jebakan Batman” terdengar lebih gurih aja ketimbang “jebakan Bobo”, misalnya. Hamlet kurang bimbang apa coba, tapi tetap “ragu-ragu Icuk” lebih enak di kuping kita yang ndeso ini ketimbang “ragu-ragu Hamlet”, apalagi “ragu-ragu” aja. Lho, kok.. setuju Batman tapi nggak sreg Hamlet? Hehe, namanya juga licentia poetica!

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *