Tag Archives: nirvana

Oops! …Kok Ngene Meneh?

KasetBritney_Oops

Suka atau tidak, musik dekade ’90an dibuka oleh Nirvana (atau Vanilla Ice, tergantung selera Anda) dan ironisnya, ditutup oleh Britney Spears. Album debut Britney …Baby One More Time (1999) sudah terjual puluhan juta copies hingga hari ini. Saya inget betul ekspresi mukanya yang polos-polos gimana gitu di videoklipnya—thanks to MTV Asia via ANteve—dimana ia tampil sebagai gadis SMA baik-baik kepang dua, yang sekaligus sok rebel dengan ujung kemeja diiket di atas pusar dan rok sepaha melambai-lambai sentosa, kaos kaki menjulang sampai lutut (menginspirasi Cinta dkk di AAdC?), menunggu-nunggu bel sekolah berdering sambil berfantasi hura-hura joget di lapangan basket. Lirik “..my loneliness / is killing me..” (dengan pelafalan kenes pada suku kata “-ness”) seperti hendak membuktikan bahwa kesepian adalah memang musuh abadi manusia, Continue reading

ARSIP: 20 Landmark Peel Sessions

MOJO_JohnPeel

Hari ini tepat 10 tahun yang lalu, Senin Kliwon tanggal 25 Oktober 2004, John Peel wafat. Banyak orang percaya bahwa figur legendaris itu tak akan tergantikan hingga datangnya hari akhir nanti. Berikut ini artikel lama dari MOJO edisi nomor 133 (December 2004) halaman 86, yang saya ketik ulang demi keasyikan web ini, juga saya tambahkan beberapa tautan penunjang untuk kepuasan maksimal Anda, para pembaca yang budiman. Continue reading

Mengenang 1994, Bag. 1

Kaset-Nirvana-MTV-Unplugged-1994

Saya masih kelas 3 SMP ketika album live Nirvana, MTV Unplugged In New York, dirilis pertama kali pada penghujung 1994, atau sekitar awal 1995 bagi edisi “Hanya Untuk Dijual Di Indonesia”-nya bisa sampai di toko kaset satu-satunya di kampung saya, di sebelah kios beras dekat terminal angkot. Barangsiapa di kelas kami yang ketahuan sudah punya kaset ini, harus rela dipinjam paksa sana-sini, berpindah cepat dari tangan ke tangan hingga akhirnya kembali dalam keadaan lecek dan rusak. Tapi bukankah itu intinya, it’s better lecek dan rusak than fade away? Beberapa bulan sebelumnya, majalah HAI edisi pertengahan April 1994 memasang foto di sampul depan berwarna merah dengan judul besar-besar “KURT COBAIN TEWAS!” (Edisi tersebut terbit hanya selang beberapa hari setelah peristiwa bunuh diri yang menghebohkan itu, dan redakturnya mengaku bangga dengan kecepatan mereka.) Uang jajan harus disisihkan selama sekian hari, barulah saya bisa naik angkot satu kali ditambah dua kali ganti bis dan sekian menit jalan kaki, untuk dapat membeli majalah tersebut di sebuah toko buku kecil di kotamadya. Itu pun masih harus disembunyikan dari teman-teman sekelas sepenongkrongan, supaya majalah itu tidak dipinjam sana-sini dan berakhir lecek dan rusak. Saat itu videoklip “About A Girl” versi unplugged mulai sering diputar di RCTI, yang siarannya bisa tertangkap juga akhirnya di kampung kami tanpa harus memakai antena parabola. Bisa jadi gara-gara semua kebetulan kosmik itulah sekumpulan anak-anak bengal dari angkatan saya, tahun terakhir di sebuah SMP negeri di pedalaman Jawa Tengah, kompak berinisiatif membawakan lagu itu lewat gitar kopong pinjeman dengan kesungguhan yang mengharukan di ujian EBTA Praktek—satu ajang penting yang sangat menentukan syarat kelulusan. Mereka adalah gerombolan cool kids, yang berangkat ke sekolah naik motor dengan knalpot modifikasi, sudah tumbuh sedikit kumis, beken di lapangan voli dan menguasai kursi-kursi paling strategis di kantin sekolah. Mereka tampak pede dan antusias di ruang tunggu ujian, sementara saya hanya bisa terduduk lesu memandangi suling Yamaha saya, menanti giliran dipanggil ke dalam untuk memainkan versi culun standar dari “Ibu Kita Kartini”. Dari luar kelas dengan menempelkan kuping di tembok di bawah ventilasi, saya bisa curi-curi dengar bagaimana vokal para cool kids itu sengaja dibikin serak-serak sengau sedemikian rupa supaya mirip kerongkongan Cobain. Bahkan ketika dibawakan dengan buruk, lagu “About A Girl” tetap terdengar indah. Beberapa anak kelihatan terlalu keras berusaha, sehingga suara tercekik yang keluar dari congor mereka lebih mirip angsa sembelit ketimbang ikon grunge. Sementara beberapa lainnya cukup beruntung telah melewati akil baligh, dengan bonus pita suara mulai pecah dan karenanya malah jadi pas. Sayangnya genjrang-genjreng gitar dengan kord simpel itu hanya bisa dihadirkan sendirian tanpa nada-nada rendah yang kelam dari permainan bass Novoselic, yang di versi kasetnya terdengar sangat menghantui. Belum lagi ketika Kurt bergumam “I do.. I do…”, yang tertangkap telinga saya lebih seperti “..aduh.. aduh…”, menambah mistis segala kegundahan dini dari remaja 14 tahun yang mulai mencemaskan hidupnya: jangan-jangan kebahagiaan sejati tak ada hubungannya sama sekali dengan menjadi juara kelas. Guru seni musik kami yang old-school itu tentu hanya bisa manggut-manggut jaim dan terlalu gengsi untuk sekadar bertanya ke murid-murid bengal siapa gerangan Nirvana itu (sementara hits “Nirwana” GIGI bahkan baru keluar setahun setelahnya). Para siswa yang berhasil menyelesaikan nomor keramat itu dengan selamat pasti merasa dirinya keren bukan main, melangkah gagah keluar kelas, lalu saling melempar high-five di pelataran sekolah. Saya mengerti, dan saya iri. Aneh rasanya bagaimana sejumlah kenangan bersikeras tetap tinggal di kepala. Boleh jadi sekarang saya sudah punya cukup uang untuk bisa membeli semua format yang ada, mulai dari versi CD yang suaranya lebih kinclong, versi DVD yang edisi lokal resminya menyertakan English subtitles (celetukan Kurt di jeda antarlagu sangat layak simak), hingga versi piringan hitam yang kualitas sound-nya paling nggegirisi; tapi tetap tak ada yang bisa mengalahkan segala ingatan atas suara-suara murung yang mengundang semua tepuk tangan dan decak kagum itu, yang justru muncul dari sebuah kaset lusuh, yang saya beli dari toko sebelah kios beras di dekat terminal angkot, lebih dari dua puluh tahun silam. Suara-suara itu terdengar sangat kesepian, dan saya yakin saya tidak sendirian.

* * *

Apa Album Pertama
yang Kamu Beli?

Album-album-Pertama!

Record stores keep the human social contact alive. It brings people together.” —Ziggy Marley

Untuk meramaikan Record Store Day yang dirayakan seluruh dunia setiap Sabtu ketiga di bulan April tiap tahunnya, saya mewawancarai beberapa teman untuk berbagi cerita tentang rilisan fisik pertama yang mereka beli. Beberapa saya todong langsung saat bertemu, beberapa berkorespondensi via email, dan beberapa lainnya tidak (atau belum) menjawab. Awalnya saya hanya iseng bertanya ke 10 responden, hingga akhirnya membludak menjadi hampir 50 orang. Rentang usia mereka tersebar dari 23-68 tahun, yang memang sempat mengalami kejayaan rilisan fisik sebelum masuk era digital. Continue reading

Kopi, TV, Popularitas

blur-coffee-and-tv

“Y’know, one time coffee was believed to be the drink of the devil. When Pope Vincent III heard about this, he decided to taste the drink before banning it. In fact, he enjoyed coffee so much, he wound up baptising it, stating ‘coffee is so delicious, it would be a pity to let the infidels have exclusive use of it’. I also feel that way about coffee. And about TV. And … about Blur.”

—Bob Dylan, memperkenalkan “Coffee & TV” di acara radionya pada tahun 2006

Sebuah kotak susu berjalan di tengah keramaian kota. Di badannya menempel selembar foto anak hilang. Susah payah ditembusnya segala rintangan perjalanan itu: jalan raya yang penuh mobil, orang-orang berlalu lalang, risiko terlindas dan terinjak. Bagaimanapun, si anak hilang harus segera ditemukan. Di rumahnya telah menunggu dengan cemas sepasang orang tua—muka mereka murung. Continue reading