Tag Archives: chaplin

Bu Siti vs. Pak Chaplin

Extra-Nona-Siapa-78rpm_still
“EXTRA NONA SIAPA”, dinjanjiken oleh SITI MOEDJENAH dengen POPULAIR JAZZ BAND. Tjap Banteng Paling Merdoe, diduga rilisan sekitar akhir 1930an.

Grammofoonplaat 78rpm ini saya temukan dalam kondisi kurang menggembirakan, teronggok kotor bersaput debu dan berlapis tanah (!), tapi selalu ada firasat tertentu untuk bersikeras membawanya pulang. Setelah dibersihkan sampai kondisi maksimal yang paling memungkinkan, sambil deg-degan saya putar plat tua yang boleh jadi umurnya sudah hampir 80 tahun itu di rumah. Sayup-sayup di awal lagu terdengar suara pria berlogat Jawa memperkenalken lagu ini, kira-kira begini kalimatnya, “…Nona Siapa, terbikin oleh Populair Jazz Band…” Setelah itu mengalunlah intro-nya, Continue reading

Lomba Mirip Gombloh
dan Kaset Duplikat Group

DuplikatGroup_kaset

Ketika sedang mempersiapkan kaset album solonya yang kesekian, yang kemudian memuat hits pop terbesarnya “Kugadaikan Cintaku”, Gombloh pernah kepikiran satu cara promosi yang tak lazim, yakni membuat lomba mirip Gombloh. Ini mirip look-alike contests di Barat sono [salah satu yang cukup legendaris: mitos soal Chaplin pernah diam-diam menyelinap ke lomba mirip-miripan Chaplin, ikut bertanding, dan kalah! Haha. Berarti pemenangnya dianggap lebih mirip Chaplin ketimbang si Chaplin itu sendiri!]. Namun sayangnya sebelum rencana promosi unik itu sempat terwujud, Gombloh yang mengidap penyakit paru-paru kronis sudah harus dipanggil menghadap-Nya, awal Januari 1988. Atas seizin keluarga almarhum, Radio Suzana dari Surabaya berniat meneruskan rencana kocak itu, Continue reading

Kaset Chaplin

Chaplin_kaset
Pada sekitar 2008, seseorang membelikan saya CD Chaplin: The Music of His Films, karena dia tahu saya penggemar sang legenda lawak dari jaman film bisu itu. Chaplin yang pernah dua kali berkunjung ke Indonesia (pra dan pasca kemerdekaan) memang biasa menulis musik untuk film-filmnya sendiri, yang sekaligus juga ia bintangi, sutradarai, dan tulis ceritanya. Meski Chaplin tak pernah belajar musik secara formal, Continue reading

Mengenang Suwargi Pak Chaplin

Tepat di hari Natal 34 tahun lalu, Chaplin meninggal dunia. Usianya 88 tahun. Tapi karyanya bakal tetap hidup seribu tahun lagi. Saya menemukan ini di buku harian saya, corat-coret 7 tahun lalu. Terasa naif di sana-sini. Maklum, masih muda. Ini dia. *tutup muka*

>> Thursday | September 16, 2004 | 01:36 AM

“Buck up – never say die! We’ll get along.”
(Modern Times’ closing intertitle. Charles Chaplin. USA. 1936)

Kampus J. adalah kampus terik gersang nggak mutu. Minggu lalu harus ke sana untuk sebuah keperluan: diundang berbicara di acara pemutaran film dan diskusi dalam rangka penerimaan mahasiswa baru. Bercucuran keringat ke sana, naik Jupe dibakar matahari, diasapi bis Damri. Sesampainya di lokasi, sempat minum teh-botol-dingin-menyegarkan di kantin Sastra, mendaftar kembali film apa saja di tas (waduh, DVD Man Bites Dog nyelip di mana ya?), kirim SMS sana sini (”halo-hai-saya-sudah-sampai-nih”), mengecek buku agenda, meraut pensil bujel kesayangan, Tyler (?) iseng mencoba menghitung jumlah pohon, sampai akhirnya seorang panitia datang juga menjemput. Astaga, masih muda banget (punten-kang-terlambat-dan-sebagainya-aku-sih-tersenyum-simpul-saja). Baik, baik. Tidak apa. Kami naik ke lantai dua. Tajuk acara kecil-kecilan itu kurang lebih: “Chaplin, Film, dan Sejarah.” Hmmm. Continue reading

bahwa seteru abadi tak pernah mati.

“I want to cut you up, I want to watch you bleed, ever so slowly.”
Adorable “Homeboy”

pagi itu, mungkin sepuluh atau sebelas tahun yang lalu, atas nama embun-embun tak bertuan dan bisikan setan yang tak beralasan, aku berniat meracuni sarapanmu. semua telah siap, segala bakal beres: secawan racun dari mulut ular paling berbisa di dunia, kata-kata terakhir dengan senyum sinis yang dilatih ratusan kali di depan kaca, juga segenap detil lainnya dengan pengaruh film-film detektif murahan di sana-sini. namun seperti kisah-kisah klise di buku dongeng, ternyata gelas kita tertukar: tanpa sadar aku menenggak racunku sendiri. (ah, ‘ternyata’—bukankah itu kata sialan yang sudah lama berusaha kita hapus dari kamus?) Continue reading