Tag Archives: 78rpm

Oleh-oleh Bandoeng (78 rpm)

Barangkali ini adalah salah satu versi tertua lagu “Oleh-oleh Bandoeng” yang pernah direkam dan masih terselamatkan, yang saya perkirakan dirilis pada sekitar penghujung dekade 1920an. Dibawakan oleh Union Dalia Opera Co. of Sumatra, perkumpulan sandiwara asal Deli, direkam serta dirilis oleh Continue reading

Klab Yu Tub .06 – Djaikem en Samijem: Langendrian

Ada satu buklet tua dari era pra-kemerdekaan di arsip pribadi saya, judulnya “Columbia Origineele Opname In de Dhâlem van de Astana Mangkoenegaran Soerakarta”. Meski bertajuk bahasa Belanda, kebanyakan teks di dalamnya berbahasa Melayu dengan ejaan Van Ophuijsen. Tahun terbit persisnya tidak tercantum di dokumen tipis 12 halaman tersebut, Continue reading

Harga Plat Gramofon Kisah Pasar Baru, 1956

Plat_KisahPasarBaru_gramofon

Beberapa waktu lalu, Irama Nusantara mengunggah foto di akun instagram mereka @iramanusantara, foto plat gramofon 78rpm “Kisah Pasar Baru” yang memuat stiker Radio Republik Indonesia bertanggal 7 Oktober 1956. Sementara di plat yang sama dari koleksi pribadi saya, yang saya potret ini, masih ada stiker label harga: Rp 32,50. Dengan asumsi dua stiker itu pertama kali ditempel pada jangka waktu tak jauh dari jadwal rilis plat tersebut, Continue reading

Suara Angkasa

suaraangkasa_plat_gramofon_78rpm

Seorang ilmuwan sekaligus filsuf asal Prancis, Blaise Pascal (1623-1662), pernah berkata dalam bahasa ibunya yang jika diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris kira-kira berarti “The eternal silence of these infinite spaces frightens me.” Sekitar tiga abad kemudian, seorang legenda musik Indonesia bernama R. Soetedjo (1909-1960) malah membentuk sebuah orkes dengan nama gagah meyakinkan: Suara Angkasa. Pemain biola sekaligus komponis andal asli Banyumas itu adalah pendiri Orkes Studio Djakarta yang tersohor. Salah satu hasil kerjanya dicetak dalam plat gramofon 78rpm yang bisa kita lihat di foto di atas, Continue reading

1945 vs. 2605

PlatGramofon_Proklamasi_IndonesiaRaya

Pernahkah Saudara memperhatikan dan bertanya-tanya, bahwa di teks proklamasi—baik versi tulisan tangan maupun yang diketik—memang tercantum angka ’05 (seperti kata guru-guru SD kita, itu singkatan dari tahun Jepang 2605), tapi kenapa di rekaman audio yang kerap diputar di TV-TV terdengar jelas Bung Karno melafalkan “..seribu sembilan ratus ampat puluh lima..” alias 1945? Mengapa beliau tidak mengucap “..duaribu anem ratus lima..” saja sesuai teks? Kenapa bisa beda, antara yang ditulis dengan yang dibaca? Continue reading

Bu Siti vs. Pak Chaplin

Extra-Nona-Siapa-78rpm_still
“EXTRA NONA SIAPA”, dinjanjiken oleh SITI MOEDJENAH dengen POPULAIR JAZZ BAND. Tjap Banteng Paling Merdoe, diduga rilisan sekitar akhir 1930an.

Grammofoonplaat 78rpm ini saya temukan dalam kondisi kurang menggembirakan, teronggok kotor bersaput debu dan berlapis tanah (!), tapi selalu ada firasat tertentu untuk bersikeras membawanya pulang. Setelah dibersihkan sampai kondisi maksimal yang paling memungkinkan, sambil deg-degan saya putar plat tua yang boleh jadi umurnya sudah hampir 80 tahun itu di rumah. Sayup-sayup di awal lagu terdengar suara pria berlogat Jawa memperkenalken lagu ini, kira-kira begini kalimatnya, “…Nona Siapa, terbikin oleh Populair Jazz Band…” Setelah itu mengalunlah intro-nya, Continue reading