Sun Ra Piknik ke Bumi

Di perjalanan pulang tadi siang si kecil cerita kalau di sekolahnya ada murid baru, namanya Bumi. Meski si anak baru itu tidak satu kelas dengannya, dia cukup antusias karena “Namanya sama kayak planet kita, Papa.” Tempo hari memang saya baru ajari dia nama-nama planet di tata surya, dari gambar di majalah anak yang sering bapak ibunya bacakan untuknya. Si kecil masih sulit membedakan dan boro-boro menghapal, melafalkan saja susah, mana Mars mana Venus, mana Neptunus mana Uranus. Yang paling dia ingat selain planet bercincin (“Satulnuuus!) adalah planet warna biru kehijauan di situ, “Bumiii! Tempat kita tinggaall.. juga dinosaurus!” Kenapa ya anak kecil punya kecintaan aneh pada stegosaurus dkk? Sudah beberapa hari ini si kecil rajin main ke toko mama, karena suster kesayangannya, yang dulu mengajari dia nyanyian jembatan keledai untuk menghapal angka-angka, sudah berhenti kerja. Melihat bapaknya sibuk mengelap piringan hitam yang mau dijual, si kecil bertanya dengan nada serius, “Ada piringan hitam Tasya?” Waduh. Kebetulan saya tadi memutar plat Sun Ra (and His Solar Arkestra) berjudul lucu, “..Visits Planet Earth”. Komposisi-komposisi di album ini direkam di Chicago sekitar 1958—enam puluh tahun silam!—tapi baru dirilis satu dekade setelahnya. Terlihat dari monikernya, musisi ini punya ketertarikan berlebih pada astronomi dan terutama matahari (Sun, dan Ra, dewa matahari Mesir kuno; juga orkes Solar-nya) sebagaimana si kecil & friends ke dinosaurus. Saat “berkunjung ke Planet Bumi” Sun Ra memainkan piano dan instrumen-instrumen ‘eksotis’ seperti Chinese solar gong dan Egyptian sun bells! Saya suka nomor pembuka, “Planet Earth”, dan track 3 side A “Overtones of China”. Ketika plat saya balik ke side B, tepat di track “Reflections in Blue” saya malah teringat jembatan keledai waktu saya masih kecil di era 1980an, untuk menghapal nama-nama planet “mas Venus bakul mori, yen sido arep nakokke Putri” (“mas Venus penjual kain kafan, kalau jadi mau melamar Putri”). Saya baru sadar betapa dark-nya itu, menggabungkan kematian dan perkawinan! Tapi si kecil kurang antusias dengan musik Sun Ra dan dia tadi teriak, “Mau lagu yang lebih keras, Papaaa!” Belakangan dia memang lagi suka garage rock dan postpunk, joget-joget pake kemoceng sebagai gitarnya. OK, Papa dukung!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *