Sekapur Sirik

Terus terang saja saya iri dengan Taufiq Rahman. Bagaimana bisa dia menulis hal-hal menarik tentang musik, dengan daya upaya seperti sekenanya saja? Esainya pendek-pendek, enak untuk sekali-baca dalam tempo sekali-duduk. Saya bayangkan Taufiq pun menuliskannya dengan cara persis kita membacanya; kasual dalam situasi rileks, beres di sekali-sikat saja. Sambil duduk bersantai, ketik-ketik sebentar, tak tik tuk, selesai. Boleh jadi hasil-hasil pertama dari proses menulis in one sitting semacam itu tidak langsung terbungkus rapih, malah cenderung berlepotan sana-sini, tapi kecerobohan-kecerobohan manusiawi itu masih dalam level berterima; dan jangan-jangan justru di situ nilai keindahannya. Dan yang bikin saya lebih sirik lagi, adalah di balik semua kesantaian itu terlihat keunggulan Taufiq yang khas dalam esai-esainya, yang masih sulit diimbangi oleh para pengulas musik lain di negeri ini: yakni kecakapannya mencari hubungan intertekstual dengan hal-hal di luar musik. Bahwa menulis tentang musik, bagi Taufiq, bukan lagi melulu soal riff tajam, atau “sound yang meruang” (astaga, ini klise abadi para koleganya), beat yang menghentak atau betapa timbre si vokalis sungguh tiada dua, serta sejuta hal usang mengenai tetek-bengek musikalitas; melainkan lebih pada potensi jalinan asyiknya dengan dinamika geopolitik dunia, renungan-renungan beraroma filsafat, pergulatan abadinya dengan spiritualitas, dan lain sebagainya. Barangkali pekerjaan sehari-harinya sebagai editor senior di desk politik sebuah harian berbahasa Inggris di ibukota punya andil besar dalam kebolehannya yang satu itu, tapi yang jelas Taufiq paham betul bagaimana mendedahkan teks dan konteks secara lentur dan alami, jika bukan malah effortlessly cool, menjadi naskah-naskah soal “musik-plus-plus” yang tidak menjemukan karena kerap tak terduga.

Karya sastra yang baik, meminjam perkataan Budi Darma, bukanlah tulisan yang kaya akan tindakan-tindakan jasmani yang menakjubkan, melainkan yang dipenuhi “berkelebatnya sekian banyak pikiran”. Esai-esai Taufiq soal musik memang bukan karya sastra, tapi tulisannya punya mutu sebuah prosa yang baik: kisah berkecamuknya pikiran dan pandangan manusia yang tidak sungkan-sungkan mengakui siapa dia sebenarnya. Dan Taufiq bukan tipe orang yang bisa menahan idenya lama-lama. Lewat aplikasi chat di ponsel pintar, dia sering tiba-tiba menyapa saya hanya untuk, misalnya, bercerita betapa girangnya dia menjumpai sebuah amplifier tua yang saking bagusnya sampai tak perlu lagi menekan tombol loudness di situ untuk hasil yang maksimal. Tak lama setelah itu, saya menduga, satu esai tentang audiophile jadi-jadian segera ditulis. Kali lain, berkabar dari sebuah perjalanan dinas ke London, tentu saja selama di sana dia merasa wajib beribadah plat di sebuah toko piringan hitam ternama, sambil berjanji bakal langsung menulis tentang hasil berburunya di situ. Penulis lain mungkin hanya akan berpuas diri memaknainya lewat kegembiraan basi serupa anak kecil di toko permen atau OKB dengan mobil mewah terbarunya, tapi Taufiq selalu mendorong kelebat-kelebat pikirannya selangkah lebih jauh: dari perangkat pengeras suara itu dia malah tergerak membahas album monumental yang kebablasan menemani kesunyian akut seseorang hingga ke tali gantungan, dan berangkat dari keranjang jajan rock di mancanegara dia justru mengoceh betapa satu-dua album postpunk dan jazz bisa sangat revolusioner dan mengubah wajah musik dunia meski tak banyak pendengar awam saat itu sanggup memahaminya.

Kalau pun kolom-kolom musik kebanyakan merasa sudah bisa lolos dari jebakan pertama, yaitu menulis perkara musik hanya dari sisi teknis saja, sebetulnya mereka masih harus menghadapi perangkap lainnya, yakni menulis genit. Selain gemar berkubang dengan klise (jika nama dan tempat diganti, misalnya, rasanya toh bakal sama saja) kebanyakan tulisan musik saat ini kerap terlalu tinggi melambung-lambungkan perasaan si penulis saat mendengarkan lagu ini atau lagu itu, ada histeria atau malah melankolia berlebih lantaran kenal si Anu dan si Fulan, kelewat lebay sambil ngumpet di balik kedok opini personal. Tentu itu sah-sah saja, tapi sekaligus mengundang geli: apa pula yang masih bisa disebut “personal” hari-hari ini, di saat layar ponsel kita penuh sesak dengan keluh kesah para netizen, debat kusir dan kebencian pribadi, gerombolan narcissist menyuapi para voyeur lewat menu makan siang yang fancy, kosmetik terkini dan ukuran pakaian dalam para pesolek? Sementara naskah-naskah Taufiq, selain seperti enggan tampil bergaya dan merasa canggung jika harus menjadi pusat perhatian, malah sengaja menutup rapat-rapat perasaan terdalamnya lewat susunan kalimat dingin yang cenderung berpanjang-panjang, dengan anak kalimat beranak-pinak lagi. Dalam itung-itungan taktik stream of consciousness kelas bulu semacam ini, maunya setiap kalimat adalah ide utama. Taufiq agaknya membenci tanda koma, mungkin itu dirasa menghambat laju kelebat pikirannya, maunya “hajar bleh” terus sambil menghindari pemakaian tanda titik dua terlalu sering yang bagi sebagian orang memang terasa centil. Spontanitas ala Taufiq yang berkelindan dengan segala kekikukan estetisnya, meski berisiko bikin tulisannya jatuh menjadi “kering”, sebetulnya justru membebaskan bahasa dari kibul-kibul gaya yang tak perlu.

Oleh sebab itu ketika saya mendapat kesempatan menyunting naskahnya, saya nyaris tak menemukan kesulitan berarti saat bekerja, karena toh pada dasarnya ide-ide di situ sudah beres dari sononya. Saya hanya merapikan kelebat-kelebat pikirannya supaya lebih tertata, sambil terus berpikir bagaimana caranya agar apa yang saya lakukan di situ tidak malah meredam segala pesona berantakannya. Ini mirip kerja juru taman di pekarangan rumah dengan semak perdu liar yang sudah terlihat cantik bahkan sebelum gunting arit dikeluarkan, atau tukang cukur yang kedatangan pelanggan mbois berambut keren. Yang terjadi malah saya tergulung-gulung ke dalamnya, terseret masuk oleh album-album yang didongengkan di situ, dan sumpah, itu mengasyikkan. Saya sampai merasa perlu memutar kembali piringan hitam Young Marble Giants hanya untuk merasakan ruh yang sama dari naskah Taufiq soal album itu, atau sengaja menyetel keras-keras CD langka Bandempo, tenggelam dalam buku-buku mitologi Yunani sambil menghayati kembali merdunya azan, membongkar ulang arsip-arsip kaset Indonesia lama, dan mengingat-ingat kembali rasanya menjadi Generasi X yang bertumbuh remaja di zaman Orba.

Menulis musik adalah menulis tentang manusia, demikian kredo artistik yang selalu dipegang teguh oleh Taufiq, dan lewat buku keduanya ini sesungguhnya dia kembali menekuni hobi lamanya memenggal kepala berhala-berhala musik dengan lebih memilih membicarakan nama-nama “pinggiran”, yang acap terlewat oleh mereka yang mengaku mencintai musik. Tentu tepian menurut sementara orang bisa justru berarti pusat bagi sebagian yang lain, karena memang begitulah cara kerja musik yang baik: setiap unsurnya “berbunyi” seolah mereka sedang bernyanyi tentang kita. Saudara-saudara juga pasti paham, ada ribuan album penting di dunia ini yang menurut daftar-daftar yang banyak beredar musti disimak sebelum kita mati. Taufiq justru memilih nama-nama yang barangkali tak perlu-perlu amat untuk ditengok. Lucunya, sambil mengibul soal itu Taufiq sesekali membedakan kata “berpikir” (lema baku dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia) dengan “berfikir”. Untuk yang belakangan itu memang lebih terasa ada nuansa deep thinking di sana, selain bahwa Semakbelukar, kugiran neo-folk asal Palembang favoritnya yang kini sudah wassalam itu, juga memakai diksi yang sama dari tradisi Melayu di lirik lagu mereka. Mungkin ada betulnya jika pilihan-pilihan artistik semacam itu pada akhirnya turut mengundang kita untuk “berfikir” saat membaca naskah-naskah ini, untuk sekadar mengingatkan bahwa tempurung kepala kita sebetulnya punya kesempatan istimewa untuk bekerja lebih ketimbang otak satwa-satwa lainnya. Buku kumpulan tulisan ini dengan demikian menjadi penting untuk disimak. Lagipula, ini bisa dipakai mengisi rak koleksi buku-buku terbitan lokal Saudara tentang musik, yang saya yakin masih banyak tempat kosong, bukan?

Jika di kemudian hari Saudara jadi ikut-ikutan sirik seperti halnya saya dan terpancing untuk menulis juga, katakanlah supaya bisa menambal lahan-lahan tersisa tadi, atau atas alasan ideologis mbelgedes lainnya, anggap saja itu bonus yang menyenangkan.

[Budi Warsito]
Perpustakaan Kineruku
Bandung, 7 Maret 2017

Ditulis sebagai kata pengantar untuk buku Pop Kosong Berbunyi Nyaring: 19 Hal yang Tidak Perlu Diketahui tentang Musik (Elevation Books, 2017). Buku tersebut bisa didapatkan di Kineruku.

One thought on “Sekapur Sirik

  1. Pingback: /kabar:/ Siaran Tertulis dari Elevation Books – Pop Kosong Berbunyi Nyaring | Kineruku

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *