rumsak cassingle

Ini adalah foto majalah HAI edisi tahun baru 1998. Ketika itu saya sudah hampir lulus SMA dan masih berlangganan majalah itu dari kios koran sebelah bioskop tua di Solo, yang biasa memutar film-film India berdurasi 3 jam dan judul-judul panas Indonesia (katalog lengkap Inneke Koesherawati sebagian besar saya lahap lewat bioskop itu—apalagi ketika Reynaldi memerankan karakter bernama persis dengan saya, aih, good old days..). Di halaman 40 rutin ada rubrik bernama Tampang Gres, yang khusus membahas para pendatang baru di scene musik lokal maupun internasional, yang cenderung indie meski nama-nama di industri mainstream kadang ikut nongol. Andai saja majalah HAI tidak masukin profil Rumahsakit ke rubrik itu, saya di pelosok Jateng nun jauh dari ibukota mungkin tidak akan pernah tahu soal band indie Jakarta yang kelak bakal—atau malah saat itu sudah mulai—legendaris itu. (Di rubrik lain, ada liputan tentang acara di Poster Cafe pada akhir 1997; diisi 20 band dari Jakarta dan Bandung, tiketnya seharga Rp 6.000 dengan bintang tamu Planet Bumi.)

Personel Rumahsakit yang semuanya kurus tampak berpose kikuk di foto artikel itu, dan hanya gara-gara ada kalimat “..musik mereka dipengaruhi band-band idola dari masing-masing personel, seperti Stone Roses, The Charlatans, Blur..” saya langsung bergegas ke toko kaset Aquarius Solo di dekat Matahari Department Store mencari album mereka. Untung mereka dirilis oleh sebuah label subdivisi dari Aquarius Musikindo, jadi kasetnya ikut terpajang di toko. Saya tidak langsung terkesan pada pendengaran pertama, bahkan bisa dibilang agak kecewa gara-gara berharap mereka lebih Blur-esque ketimbang The Stone Roses-esque dan ternyata malah kebalikannya. Lagu “Datang”, menurut artikel tadi, membuat mereka dikontrak label—versi demonya masuk chart Indolapan 102.3 FMania Prambors, bercokol di puncak tangga lagu selama 5 minggu, dan tawaran rekaman album pun datang menghampiri.

Single di album itu, “Hilang”, yang menurut saya memang track terkuat di situ, sempat dibikin videoklipnya dan diputar di MTV (samar-samar saya masih ingat adegan mereka keluar dari ambulans), dan pernah beredar dari radio ke radio lewat format kaset single. Dua tahun kemudian, album kedua dirilis ketika saya sudah masuk kuliah di Bandung, kaset Nol Derajat saya beli di toko Aquarius juga, di Jl. Dago. Ada lonjakan edan-edanan di situ, dari segi kualitas songwriting, penulisan lirik, produksi sound, bahkan artwork kasetnya; semua bolong di karya perdana seperti tertambal lunas di album kedua. Saya memang tidak pernah memperoleh kesempatan menonton mereka tampil live, tapi bahkan hanya dari pita kaset yang kini hampir berusia dua dekade itu sudah bisa terbayang seperti apa kharisma ogah-ogahan seorang Andri Lemes di atas panggung.

_

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *