rumahku istanaku

salah satu cara supaya nggak terlalu kesedot-sedot amat ke socmed hari-hari ini (a very dark place!) ternyata adalah dengan menghabiskan waktu sepagian bikin prakarya. dari beberapa hari lalu si kecil sudah merengek-rengek minta dibeliin stik es krim karena bapaknya sudah telanjur membual bisa bikin rumah-rumahan yang bagus dari situ. termakan janji-janji sendiri, akhirnya si bapak yang drop-out kuliah teknik sipil kelautan harus mulai membangun rumah, di daratan! si ibu yang lulusan arsitektur bukannya bantu desain malah asyik nanem kaktus di sebelah jemuran demi hunian yang lebih asri hihi. sementara si kecil sibuk jadi mandor, bolak-balik ngecek apakah stok lem masih cukup dan nanya kapan selesai setiap sepuluh detik. “nanti biar aku aja yang ngecat rumahnya, papaaa!” oh wow apakah aku berada di planet seni atau mereka mengundang warna-warni? mayan keringetan juga ternyata bikin rumah sederhana gini, padahal nggak perlu ngaduk semen menyusun bata. jari tangan belepotan uhu dan peluh berceceran, vita prêngus ars longa; tapi si mandor tampak puas dan cekrekk, ujung-ujungnya ke socmed juga. semoga nggak dark-dark amat!

* * *

rumah kosong
sudah lama ingin dihuni
adalah teman bicara; siapa saja atau apa
jendela, kursi
atau bunga di meja
sunyi, menyayat seperti belati
meminta darah yang mengalir dari mimpi

—“rindu”, puisi oleh subagio sastrowardoyo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *