RIP Pak Sujud “Kendhang” Sutrisno (1953-2018)

Hari ini pitung ndinane alias tujuh hari meninggalnya musisi nyentrik Sang Pengamen Agung the one and only Pak Sujud Kendhang, jadi seharian tadi saya sengaja memutar terus-terusan salah satu plat favorit saya sepanjang masa, Street Musicians of Yogyakarta (2011, keluaran label Amerika bernama Mississippi Records) yang memuat satu nomor Pak Sujud di side B track ke-2. Piringan hitam ini adalah reissue dari kaset kompilasi field-recording rilisan 1989, yang direkam di kawasan Jogjakarta dan sekitarnya oleh seorang etnomusikolog asal Selandia Baru pada akhir 1976 hingga awal 1978. Semua credit title penyanyi/musisi di format reissue plat itu ditulis sebagai “Unknown Artist” (selain keteledoran mungkin juga memang susah dilacak keberadaannya ketika akhirnya mau dirilis) kecuali track Pak Sujud ini, ditulis sebagai ‘Mas Sujud’. Lagu sepanjang empat menit itu dijuduli “Dangdut Medley”, yang kontennya nyaris tak ada bedanya dengan apa yang terus menerus Pak Sujud lantunkan (racaukan?) hingga bertahun-tahun kemudian. Signature-nya memang begitu-begitu saja, namun sekaligus karena itu malah sulit ditiru: oplosan lagu-lagu pop/tradisional yang pernah ada di pasaran dengan komposisi ciptaannya sendiri, pembentukan makna baru lewat lirik jenaka yang dia permainkan seenaknya dengan guyon Mataraman lewat attitude punk jalanan, DIY at its finest (pun intended!), cut-and-paste dan susun-ulang-jadi-puzzle-baru dengan peluang teka-teki yang puluhan kali lipat lebih mengagetkan, tema-tema nothingness (“..anak istri menjual sapu/ kalau mandi pake sepatu..”), dan tentu saja beat-beat kendang tunggalnya yang ikonik itu. Cara kerja Pak Sujud bahkan lebih effortlessly cool lagi ketimbang misalnya Doel Kamdi yang kebetulan juga seangkatan atau Igor Tamerlan di dekade selanjutnya. Estetika Sujud Kendang, selain praktik mashup yang disimplifikasi menjadi sekadar disebut “medley”, adalah intertextuality yang sengaja/tidak malah diambyarkan lagi (sebetulnya ini metode standar dia: mempermainkan ambang batas, mendorongnya lebih jauh lagi menuju teritori entah apa, maqam beliau jelas sudah dua-tiga langkah di seberang) menjadi semisal “Boi Boi Sariboi”—dari lagu “Sorry Boy”-nya Usman Bersaudara—yang di lidah Pak Sujud udah nggak semata-mata “Sori” apalagi “Sorry”, melainkan “Sari”(!) sehingga kedengarannya malah makin lucu lagi, mosok boy tapi Sari, atau Sari tapi kok boy, apakah ini anaknya Sari atau gimana, simboknya bernama Sari po piye, dsb., dst., with Pak Sujud you’ll never know! Selain itu dia juga visioner/profetik, setidaknya bagi khazanah brocabulary, jauh sebelum sapaan “bro” berkembang menjadi salah satu varian fonemiknya, “vro”, Pak Sujud sudah memulainya puluhan tahun silam lewat pelafalan tengil (yang bakal lebih bisa kedengeran jika Anda pakai earphone): “..boi boi sariboi/ AYE (((VELUM))) TAU…” Dan hanya Pak Sujud yang bisa membunyikan kalimat lucu yang bahkan lebih badass (vadass?) ketimbang The Doors di lagu “The End” (“…mother/ i want to f**k you…”) sekaligus bisa menjadi permutasi aneh atas dialog terakhir Anwar Sadat ke Margio di penghujung novel Lelaki Harimau, “…boi boi sariboi/ AYE CINTA MBOKMU…!” Juga bagaimana dia iseng mengganti jawaban “Apakah kerjamu?”, dari “Main!” di versi asli Us-Bros yang sok gagah/sok masteng/sok straatjongen/sok superior/sok bully menjadi wakwaw/twewewew “Tukang pijet…” saja, waaay before #thuglife lho ini! Bahkan Kasimex Houseband, unit kocak asal Suriname yang fasih berbahasa Jawa, ketika mengcover “Boi Boi” (videoklipnya sempat meledak di kalangan pengguna Multiply sekitar satu dekade yang lalu) juga lebih mengacu pada estetika mashup guyon Sujud ini—bahkan plek-plekan memasukkan “aku cinta mbokmu”—ketimbang bersetia pada versi aslinya Us-Bros. Tenyata selain lucu, Pak Sujud juga influential. Sugeng tindak, Pak Sujud. Surga di atas sana pasti jadi makin gayeng dengan hadirnya kendhang sakti panjenengan! Jadi makin, kalau pakai lingo pinjam-meminjam Pak Sujud, “asoooy—asik istilah kini…” Matur nuwun Pak!

________
“Dangdut Medley” (((streaming)))

Foto Pak Sujud saya pinjam dari web koran Bernas. Track lain di piringan hitam itu pernah saya bahas di sini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *