RIP Cok Rampal :(

Kabar duka yang mendadak itu masuk ke WhatsApp saya kemarin sore lewat seorang kawan, “Mas Bud, Cok Rampal meninggal.” Saya kaget dan sedih sekali. Mahakarya beliau, album satu-satunya INPRES I/V/’80 berjudul Eloi! Lama Sabactani (Musica, 1980) bagi saya jelas adalah salah satu album terbaik yang pernah dibuat sepanjang sejarah musik Indonesia. Warna musik (dan juga gaya lirik) mereka di situ bisa dibilang tidak mirip siapa pun di negeri ini. Beberapa beat terdengar aneh dengan pilihan mixing yang cukup trippy, sound vokal laki-perempuan sayup-sayup seperti direkam dari balik pintu kayu sebuah pondok terpencil di atas bukit dan saya bertanya-tanya ke mana perginya drum di sepanjang album itu. Pekan lalu entah atas dorongan apa saya tiba-tiba pengen mengeluarkan lagi platnya dari gudang, lalu menyetelnya keras-keras dan berulang-ulang untuk pengunjung toko selama beberapa hari terakhir ini. Saya masih saja merinding di bagian “…pada buasnya cacing tanah/ aku menyerah…” dan juga epilog semacam “…kini sosok tubuhmu tinggalkan semua duka/ harum dan bercahayalah tanah kuburnya…” Bahkan waktu itu saya sampai bilang ke Rani, “Kayaknya harus ada yang cepet-cepet nulis deh, atau bikin apa kek, tentang mereka. Ini album jenius, sementara waktu terus berlalu. Kita takkan pernah tahu..” Mungkin itu semacam firasat. Saya kemudian teringat dua tahun lalu, ketika saya sengaja naik kereta api pagi-pagi ke Jakarta untuk mendatangi sebuah diskusi yang menghadirkan Cok Rampal dan beberapa personel INPRES lainnya. Di akhir acara saya meminta tandatangan mereka di atas dua copies piringan hitam Eloi! Lama Sabactani! koleksi saya, lalu kami foto bersama. Sebelum pulang, saya sempatkan bertanya ke Pak Cok mengenai sebuah kaset kurang terkenal yang saat itu sengaja saya bawa di tas, karena saya mendapati ada nama Cok Rampal tertulis di production credit—saya tunjukkan kaset tersebut kepadanya. Mukanya tampak sedikit kaget. “Ah, kaset itu! Bambang Tondo (pimpinan Kharisma Alam) waktu itu bilang ke saya, ‘Ini adikku udah lama bikin album tapi nggak kelar-kelar. Tolonglah dibantuin..’ Akhirnya dengan bantuan saya, selesailah album itu.” Gila, trivia facts menarik semacam ini tidak bakal kita temukan di Google. Kebetulan saya suka sekali album Henny Ajie ini, musik pop elegan dimana di salah satu track dia membawakan cover version sebuah lagu Kharisma Alam ciptaan kakaknya dari album Generasi Penerus/Waltz Kaum Petani rilisan Naviri Records. Bahkan paduan suara Kharisma Alam turut menjadi backing vocal di album ini. Karena saya menyimpan beberapa copies, di kesempatan langka itu saya memberikan kaset Gerhana Sujud tersebut kepada Pak Cok Rampal. (Saya harus segera balik ke Bandung hari itu juga, dan terpaksa menolak ajakan seorang kawan untuk nongkrong bareng dan ngobrol-ngobrol bersama mereka di sebuah kafe setelah acara itu—satu hal yang amat saya sesali hingga kini.) Itu kali pertama, dan rupanya sekaligus yang terakhir, saya bertemu dengan Cok Rampal. Sugeng tindak, Pak. Matur suwun.

[Budi Warsito]

(((streaming))) ::: Track pertama INPRES I/V/’80 berjudul “Eloi! Lama Sabactani!”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *