Ndhasmu nang Aktuil

head_1970_vinyl

Ada satu ulasan singkat menarik yang saya temukan di majalah lama Aktuil edisi nomor 94, yang harga satu eksemplarnya Rp 90,- (!) saja. Tidak tercantum kapan tanggal persisnya edisi itu terbit, namun melihat logo majalahnya masih logo lawas, ukuran kertas sudah membesar, ejaan yang dipakai masih edjaan lama, juga memeriksa berita-berita di dalamnya, saya perkirakan nomor itu terbit paling lambat di semester pertama tahun 1972. Album yang diulas berjudul Head, sebuah album langka berisi karya electronic experimental akhir ’60an awal ’70an dari musisi obscure asal Amerika bernama Nik Raicevic yang kerap memakai moniker berbeda. Sampulnya bergambar bangunan (atau figur?) misterius dengan aura transendental yang sedikit mengingatkan saya pada sampul debut album Gombloh beberapa tahun setelahnya. Hanya ada 3 lagu di album Head ini, masing-masing berdurasi masya allah panjangnya, dan isinya teler semua. Tapi gaya telernya lumayan anggun, mirip begawan suci yang moksa di antara mega-mega, bukan teler brutal ala preman pasar yang mabok oplosan di dangdut tujuhbelasan lalu berakhir nyungsep di genteng poskamling. Judul-judul tracknya sendiri sangat blak-blakan, semua mengacu pada istilah-istilah yah tau sendiri lah. Di side A, cuma ada satu track, selama seperempat jam lebih kita dipaksa menyimak dengung sonik yang diulang-ulang sepanjang lagu mirip radio pemancar di luar angkasa, dengan tempo lamban yang sungguh menguji kesabaran: perlahan, sangat perlahan, sesekali ada bunyi tetesan air, yang jika didengarkan dalam kondisi tertentu pasti suara-suara sepele semacam itu bakal sangat menghunjam jiwa raga. Lucunya, ada bonus buku mewarnai di dalamnya plat ini. Bayangkan memutar album ini sambil menggoreskan pensil-pensil warna, rasanya seperti terombang-ambing di perjalanan galaksi seribu tahun cahaya, terlempar bolak-balik di langit tujuh lapis, meski sebenarnya kita tak pernah beranjak dari sudut lembab di loteng paman yang atapnya bocor: basahnya menyiksa, tapi kita tak bisa berbuat apa-apa selain lemesin aja. Side B pun tak banyak berbeda, tetap repetitif dan trippy, Nik masih mengeksplorasi modular Moog synthesizer-nya seperti si bocah asyik bermain lumpur di kala mamanya lengah. Pada track pertama di sisi kedua, kita disuguhi suara-suara hutan belantara beserta satwanya, yang bikin kita mikir jangan-jangan teori purba ini betul adanya: bahwa spesies manusia di bumi adalah hasil kawin silang para alien + kaum kera. Sementara track pamungkas berisi delapan menit perjalanan yang kembroh dengan momen Eureka elektronika: aku adalah Archimedes, aku adalah pionir, tetabuhan purbakala telah dilistrikkan! Jika Saudara beruntung menemukan piringan hitamnya, yang memang tidak dirilis dalam versi lain, asli bikinan 1970, bolehlah Saudara bersombong hati. Apalagi versi lebih awalnya, dicetak lain di sampul yang berbeda beberapa tahun sebelumnya, sekitar 1968, harganya pernah tembus hingga angka 500. Lima ratus ribu? Bukan. Lima ratus dollar. Saya menduga pengulasnya—tidak disebutkan kreditnya, tapi era itu nama Remy Sylado sudah bergabung di redaksi—mengacu pada versi 1970, sebab kalimat di liner notes plat itu “..an album that creates the ultimate environment for the smoke generation..” segendang sepenarian dengan kalimat review di Aktuil tersebut, “bagi para penghisap gandja demi untuk lebih menikmati sedapnja masa fly…” Git!ng tresna jalaran saka kulina. Kadang saya penasaran, siapa yang dulu iseng membawa plat absurd ini ke Djl. Lengkong Ketjil (kantor Aktuil), pusat persebaran spirit generasi bunga di Indonesia, dan menulis kalimat wejangan mengharukan di akhir ulasan. Tapi saya lebih penasaran lagi soal: apakah Saudara sepakat, bahwa garis di kolom review itu memang sedikit melengkung? Atau malah melengkung banget? Kadang sedikit, kadang banget. Akur? Acc?

[Budi Warsito]

>

>>

>>>

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *