Res volans ignota

Cerpen ke-12 di antologi Muslihat Musang Emas (2017), “Bangsawan Deli dan Delia”, menurut saya memang terlihat seperti mencampurkan ‘fakta’ dan fiksi, sebuah teknik kreasi yang tujuannya cukup benderang yakni membikin fiksi yang meyakinkan pembaca dan syukur-syukur berterima. Caranya antara lain dengan membubuhkan penanda waktu di awal cerpen, “—Jakarta, 1950”, lalu menjejalkan hal-hal ‘faktual’ di seputaran era itu, misalnya salah satu karakter digambarkan sedang mendengarkan lagu “Juwita Malam” di radio (yang di dunia nyata memang diciptakan Ismail Marzuki tak lama setelah perjanjian Renville 1948), atau si karakter lain yang berada di lokasi syuting film Inspektur Rahman (memang ada film berjudul itu di tahun 1950 dengan ejaan sedikit berbeda) bersama insan-insan perfilman yang betulan ada seperti Nawi Ismail, Moh Said H.J., dan Chatir Harro, meski beberapa posisi mereka seperti sengaja tidak ditukar-tukar. Perhatikan juga nama surat kabar di cerpen itu, Starship Weekly, yang tentu saja dipelesetkan dari Star Weekly. Hal-hal semacam ini memang mengasyikkan, namun sekaligus menuntut kecermatan. Oleh sebab itu, ketika di draft awal yang dikirim ke email saya oleh penulisnya, Yusi Avianto Pareanom, tampak termuat frasa “piring terbang”, saya pun langsung mengutarakan keraguan saya: benarkah sudah ada frasa itu di tahun 1950? Frasa itu diucapkan oleh Brigadir Yayat, seorang polisi yang digambarkan kurang cemerlang otaknya dan sering membuat gemas atasannya, Inspektur Hamid. Kalimat lengkapnya di situ adalah, “Jadi benar dong mereka mati ditelan siluman laut? Atau malah diserang piring terbang?”

Selain merasa bahwa penggunaan emotive particles khususnya ‘dong’ perlu diselidiki lebih lanjut apakah sudah lumrah digunakan di bahasa percakapan tahun segitu, saya juga berusaha mengingat-ingat kembali kapan istilah “piring terbang” mulai dikenal di ranah bahasa Indonesia. Para penghayat UFO tentu sudah hapal di luar kepala bahwa di Barat sono asal muasal istilah “piring terbang” (yakni “flying saucer” di bahasa Inggrisnya) pertama kali muncul pada sekitar pertengahan 1947, ketika seorang pengusaha sekaligus penerbang Amerika bernama Kenneth Arnold mengaku melihat benda-benda terbang tak dikenal yang berkilauan dan melesat sangat cepat di atas pegunungan Rainier di Washington. Surat kabar saat itu langsung memberitakan klaim menarik itu, dan koran Chicago Sun di edisi 26 Juni 1947 termasuk salah satu yang pertama kali mencetuskan istilah “flying saucers” lewat judul beritanya: “Supersonic Flying Saucers Sighted by Idaho Pilot”. Pertanyaannya kemudian, apakah berita tersebut sampai ke publik Indonesia, atau setidaknya ke para jurnalis Indonesia, pada saat itu juga? Dan jika iya, apakah padanannya dalam bahasa Indonesia saat itu sudah langsung “piring terbang”? Saya memeriksa beberapa koran dan majalah terbitan lokal Indonesia di kurun waktu 1947-1950, tentu hanya sebatas koleksi di arsip pribadi saya yang masih jauh dari lengkap, dan yang saya temukan malah frasa “piring-hitam” di caption foto iklan alat pemutar gramofon berkecepatan 78 rpm di majalah Mimbar Indonesia edisi pertengahan tahun 1948. (Sebagai perbandingan, majalah Hoakiao terbitan Soerabaia edisi Maret 1932 masih menyebut keping bundar gelap berisi rekaman musik analog berbahan shellac itu sebagai “plaat-gramofoon”.) Fenomena UFO di Barat kian populer ketika mulai banyak diangkat ke film seperti Flying Disc Man from Mars (1950), Flying Saucers (1950), The Day the Earth Stood Still (1951), Forbidden Planet (1956), dst., dsb. Apakah di masanya film-film tentang benda terbang tak dikenal itu sempat masuk ke bioskop Indonesia, itu juga perlu riset serius tersendiri. Saya pernah menemukan film tua The Day the Earth Stood Still versi 1951 tadi itu dalam format seluloid 8mm dari penjual barang loak di Garut, tapi saya tidak tahu apakah itu berarti sesuatu.

Sementara itu, buku legendaris Menjingkap Rahasia Piringterbang karya Jacob Salatun, seorang perwira AURI yang pernah sekolah di Amerika, yang di kemudian hari mendirikan LAPAN dan disebut-sebut sebagai Bapak UFO Indonesia, baru terbit pada tahun 1960. Buku setebal 350 halaman ini diterbitkan oleh Pustaka Rakjat, dengan tulisan di sampul belakang yang cukup percaya diri: “RAHASIA PIRINGTERBANG jang telah 14 tahun lamanja dipersoalkan dunia internasional achirnja tersingkap didalam buku ini, jang dengan demikian mendjadi buku jang pertama didalam bahasa apapun djuga, jang mendjawab pertanjaan2…” Blurb-nya pun tak kalah mentereng: ada petilan kata sambutan dari Ir. H. Djuanda, Jang Mulia Menteri Pertama Ketua Dewan Penerbangan, “….Djikalau ia telah terbukti, ia sudah pasti akan membawa konsekwensi2 jang djauh sekali!”, sementara Harian Rakjat menyebutnya “….mengindjak taraf internasional.” Di buku yang lumayan komprehensif ini diusulkan padanan istilah lokal untuk UFO, yaitu BETA (“Benda Terbang jang Aneh”). Tercatat di situ bahwa ketika usia Republik masih sangat muda sudah ada penampakan “piringterbang”, yakni selama 23 menit (!) di tanggal 19 Mei 1952 di Yogyakarta, beserta penuturan dari saksi-saksinya, namun tidak terlampau jelas juga apakah kalimat seorang saksi yang menyertakan frasa “piringterbang” itu benar-benar verbatim terucap di tahun 1952, atau baru setelahnya ketika buku itu sedang disusun selama lima tahun sebelum terbit pada 1960. Ada juga catatan dari masa pra-kemerdekaan, bahwa sudah ada penampakan BETA di Indonesia pada 1944, yakni di atas pabrik penyaring minyak di Palembang; ini menurut laporan seorang pilot tempur yang sedang menerbangkan pesawat pembom saat itu, namun kesaksian tersebut baru dibuka untuk umum pada 1960.

Kembali ke perbincangan Brigadir Yayat ke Inspektur Hamid di draft awal cerpen “Bangsawan Deli dan Delia”, memang mungkin-mungkin aja sih, frasa “piringterbang” itu ternyata sudah ada di percakapan bahasa Indonesia pada tahun 1950 (toh sesuatu yang tidak tercatat belum tentu berarti tidak ada, bukan?). Atau bahkan, siapa tahu, istilah itu justru muncul pertama kali di dunia nyata dari obrolan antara anak buah aparat dengan atasannya, pada tahun 1950 di sebuah kantor polisi di Jakarta, persis seperti di semesta cerpen Yusi, dan bukan di ruang-ruang akademik para intelektuil, lab-lab para ilmuwan, atau mesin-mesin tik para kuli tinta! Tapi sepanjang spekulasi itu belum bisa dibuktikan, dan istilah “piringterbang” jelas-jelas bertebaran di sebuah buku rilisan tahun 1960, sang cerpenis rupanya memilih mengikuti saran saya di balasan email yang saya tulis, dia menjawab pendek, “Kesuwun, soal UFO iso dipangkas.” Anda bisa cek hasil akhirnya di buku Muslihat Musang Emas, yang pada cetakan tahun 2017 kalimat Brigadir Yayat tersebut termuat di halaman 124.

Barusan saya terbangun tengah malam dan seperti biasa kantuk lenyap seketika. Saya sudah coba merem lagi, tapi yang berpendar-pendar di kepala saya justru permainan nama di judul cerpen “Bangsawan Deli dan Delia”, yang kini malah mengingatkan saya pada judul film Glen or Glenda (1953), karya sutradara favorit saya Ed Wood. Filmnya yang paling terkenal, Plan 9 from Outer Space, dibikin tahun 1959, barangkali berbarengan dengan Letkol. Udara J. Salatun sedang menyelesaikan buku Menjingkap Rahasia Piringterbang yang fenomenal itu sebelum dikirim ke mesin cetak. Sejarah sinema dunia kemudian mencatat Plan 9 from Outer Space sebagai film yang kerap disebut-sebut terburuk sepanjang masa; namun seperti kebanyakan B-movies lainnya, film ini justru punya basis penggemar fanatik yang luar biasa. Saya sendiri selalu menikmati setting pintu pesawat luar angkasa di film hitam-putih itu, yang lebih mirip tirai rumah nenek ketimbang elemen canggih dari sebuah benda terbang. Jangan-jangan untuk memancing kantuk datang lagi saya perlu menonton ulang film itu. Apalagi malam ini, wow, it’s Suro it’s good.

__
#nowplaying Daniel Johnston – “Space Ducks”

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *