Gang Filsuf-nya Harry Roesli, dkk.

Jika ditanya apa album Indonesia 1970an yang paling layak dirilis ulang piringan hitamnya sekarang ini, maka Philosophy Gang adalah jawaban termudah yang bisa disodorkan. Pertama kali dirilis label Singapore pada 1973, album ini terlampau cool di jamannya; Harry Roesli dkk gape betul mengocok folk-rock dengan bumbu-bumbu blues funk yang tak jarang juga beraroma jazzy, menjadi adonan musik yang kelewat segar di masanya, jika bukan malah hingga detik ini. “Don’t Talk About Freedom” misalnya, alih-alih bungkam tentu saja mereka malah menyuarakan dilema ‘kebebasan’ di tiap jengkal durasinya: sebuah komposisi panjang hampir sembilan menit yang sejatinya adalah kebut-kebutan elegan antara keyboard jago ngepot dan atraksi perkusi yang tak kalah gemulai, bertukar tangkap dengan instrumen petik dan harmonika dari para koboi setempat yang tak lupa ambil bagian penting. Mereka saling mengawal rapat-rapat racauan vokal yang bersahut-sahutan, dan semua itu diulang-ulang lewat permainan lembut-liar semalaman yang seolah tak sudi stop meski besok pagi malaikat maut bakal datang menjemput, sementara bahan pitching di akhirat belum juga disiapkan. Jelas itu satu ronde yang alot. Si bengal Harry Roesli terkenal getol mendekonstruksi hal-hal, meminjam kata-kata perupa Herry Dim, “..bahkan jauh sebelum istilah ‘dekonstruksi’ itu sendiri kita kenal atau barangkali pula masih sedang dituliskan oleh Derrida.” Trik serupa dipakai juga di “Borobudur”, yang termasuk lagu-lagu awal mereka yang dibawa ke studio rekaman di Musica, malah melibatkan sapuan magis klarinet (?) di sepertiga malam terakhir. Jangan lupa ironi cerdas ‘merak cantik’ sekaligus ‘anjing ngehe’ untuk wajah negeri yang munafik di “Peacock Dog” (tetap relevan hingga hari ini) dan “Malaria” yang maqam liriknya bahkan sudah di level meta. Lagu yang belakangan itu—yang oleh Ucok Homicide pernah dimasukkan ke daftar lagu protes terbaik negeri ini—konon bakal dibawakan live (!) oleh Harry Pochang dan Indra Rivai, dua personel asli The Gang of Harry Roesli yang masih hidup, hanya di panggung hajatan reissue album penting itu oleh LaMunai Records, Jumat nanti (17/03). Diam-diam saya berharap masih ada tempat untuk “Roda Angin” nomor tersyahdu dari sekujur album ini, yang saya yakin melodi dasarnya dicomot dari komposisi gitar klasik “Recuerdos de la Alhambra” karya Fransisco Tarrega, tapi di-twist lagi dengan imbuhan lirik magis filosofis (“…jika ‘ku bernyanyi untuk orang tuli…“) yang menantang penikmat seni untuk mempertanyakan kembali makna keberhasilan sebuah karya (“..apa kau gagal/ apa dia gagal/ apakah aku gagal?“); dan juga “Roses”, epilog manis madu dalam tempo hanya kurang dari dua menit. Astaga, itu besok! Jumpa di pengkolan Gang Filsuf, kita?

[Budi Warsito]

Postscriptum: Setelah diluncurkan di SAE Institute, Jakarta, piringan hitam Harry Roesli Gang – Philosophy Gang (LaMunai Records, gatefold, reissue 2017, vinyl 12”) bisa didapatkan salah satunya di Kineruku, Bandung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *