Panda Beach – Last Days Ashore EP

PandaBeach_kaset

Kaset Hari Ini, Day #07
:
Panda Beach – Last Days Ashore EP
(Wil-Ru Records, 2011)

Saat hanya ada gitar kopong murahan dan alat perekam pas-pasan (okay, ponsel), percayalah, memang akan lebih seksi jika menyebutkan pengaruh Sibylle Baier ketimbang, katakanlah, Sharon Van Etten. Bahwa kemudian salah mengeja namanya (Sybille? oops) itu lain soal. Saya sempat mengenal perempuan Jakarta Selatan di balik moniker menyedihkan ini, yang disebut-sebut ‘misterius’ oleh beberapa ulasan di internet. Mungkin kata ‘kenal’ tidak terlalu tepat. Bisa jadi dia memang misterius dan semesterius itu, karena selama beberapa bulan kami kenal, dimana beberapa rahasia terbesarnya dia bagi ke saya, barulah saya sadar saya tidak pernah sungguh-sungguh mengenalnya, justru setelah semuanya berlalu begitu saja. Saya pernah harus pura-pura ketiduran hanya supaya dia berani memainkan sepotong lagu ciptaannya sendiri lewat gitar, dan itu beberapa detik yang mencengangkan. Meskipun kidal dia tetap memakai gitar kanan, sementara “Gravity”, satu-satunya lagu yang diiringi piano di EP lo-fi ini, ironisnya justru adalah track yang paling kuat. Pianonya pelan tapi pasti, seperti ada beban berat terakumulasi pada jari-jari kedua tangannya—atau dia sangat pandai berpura-pura—sehingga yang terdengar terasa jauh lebih menghunjam ketimbang semua isian gitar di lagu-lagu lainnya yang tak pernah benar-benar tuntas. Sementara suara vokalnya yang bergema-gema terdengar timbul tenggelam, seperti diserukan dari dalam sebuah sumur tua: gelap, berlumut, sendirian. Itu teriakan minta tolong, atau justru dia sedang menasbihkannya sebagai zona nyaman? Sikapnya yang membingungkan, kontradiktif, dan sulit dipahami memantul-mantul di sekujur rilisan ini. Suaranya berubah-ubah dari menyerupai “Song For Lovers”-nya The Do, hingga menjelma reinkarnasi “Lady”-nya The Battle of Land and Sea. Lagu penutup di Last Days Ashore EP ini, “I Will Not Pray”, diawali semacam penyesalan “…too many wasted days from behind…” yang kemudian disusul serentetan gumaman lainnya, sebelum akhirnya sampai pada sebaris reffrain yang menghantui itu, yang mengundang pertanyaan: petaka macam apa yang dialami seseorang sehingga bisa menulis kalimat dendam yang segeram ini, “…I will not pray/ I will not pray for you…“? Sementara sebelumnya di “Dying Snail Sings” justru ada pengakuan “…in the silent midnight/ I ran to you…” Saya tidak tahu apakah itu ditujukan untuk satu orang yang sama. Album pendek ini memang dibuka dengan lagu “Boom”, tema 17 tahun ke atas dengan vokal child-like berlirik nonsense “…waiting for love/ waiting for love/ I was making love like I was doomed…“, tapi kata-kata di “Gravity” bahkan lebih nonsense lagi: “…who needs reality/ and the sum of its pain?” Mungkin memang ada orang yang justru sengaja menjaga lukanya supaya tak pernah mengering, sebagai raison d’etre, yang bisa jadi sepanjang hayatnya hidup di Negeri Dongeng, bermimpi tentang kedatangan pangeran tampan berkuda putih di ujung jalan—semoga itu bukan Godot. Ini adalah kisah seseorang menyia-nyiakan bakatnya yang luar biasa. Makin singkat kisahnya, makin baik.

>>Streaming<<

[BW]
#KasetHariIni

One thought on “Panda Beach – Last Days Ashore EP

  1. mysterious

    Direct and critical. Ouch. The less you know, the better? I don’t think she lives in a fantasy no more. She will do a try out in the real world for sure. 🙂 Thank you mas budi.

    =====
    glad to hear that she’s doing well now. 🙂 so any chance we’re gonna see any new material on release soon? “chasing tail” and “never ugly” terlalu cool untuk nggak di-share. thank you dek. —BW

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *