Mengingat Yudi

November 11th, 2009 » 8

Tradtelefon

.
Saya punya teman SMP namanya Yudi. Orangnya kurus banget, sumpah kurus BANGET, kayak Aming tapi lebih tinggi, bahkan lebih tinggi dari saya. Rambutnya lurus tipis, jatuh, nutupin jidatnya yang jenong. Giginya tonggos tapi gak tonggos-tonggos amat. Anaknya sangat bersemangat. Rumahnya agak masuk ke pelosok desa, dan untuk sampai ke sekolah, dia harus naik sepeda sekitar 1 jam tiap paginya. Mungkin waktu saya baru bangun dan masih males-malesan di tempat tidur, si Yudi ini sudah harus mulai mengayuh sepedanya ke sekolah. Gokil, 2 jam bersepeda bolak-balik tiap harinya! Betis Yudi, meski kurus kering, tampak padat berisi. » Read the rest of this entry «

X dan/atau XXX…

November 10th, 2009 » 2

jenna

.
‘G’ means the hero gets the girl,
‘R’ means the villain gets the girl,
and ‘X’ means everyone gets the girl
.
—sebuah lelucon lama

Barangkali banyak di antara kita yang tak paham (dan tak peduli) apa bedanya rating G, PG-13, NC-17, R, dan sebagainya. Tapi rasanya kita punya bayangan serupa mengapa sebuah film dicap huruf X atau kelipatannya. Adegan polisi Detroit sekarat diberondong senapan penjahat atau Arnold Schwarzenegger kebingungan dikejar-kejar tentara di Planet Mars mungkin luput dari ingatan kita, tapi siapa yang bisa melupakan cara Sharon Stone menyilangkan kaki dan sekelebat kita tahu tak ada celana dalam di balik rok mininya? » Read the rest of this entry «

O Judge Dredd, Where Art Thou?

November 10th, 2009 » 4

.

komikmagnetik “They call him Judge, his last name is Dredd.
So break the law, and you wind up dead.”
(“I Am The Law” —Anthrax, dari album Among The Living, 1987)

Perkenalan serius saya dengan dunia komik tak lepas dari andil sepotong lagu metal, seorang hakim tua, dan anak laki-lakinya. Bukan, mereka bukan karakter komik. Mereka hidup di dunia nyata, yakni tetangga saya waktu kecil—rumahnya tepat di sebelah rumah saya. Meski mereka hanya tinggal berdua (di mana gerangan sang ibu berada, rasanya tak perlu diceritakan di sini karena terlalu sedih), namun di mata saya rumah itu sungguh seru, terutama karena hal-hal kontras selalu terjadi di sana. Rumah itu cenderung sunyi senyap, apalagi sang ayah (botak, usia 50-an) dan sang anak (gondrong, akhir 20-an) itu jarang saling bertegur sapa, dan saya hanya bisa menebak-nebak obrolan kaku macam apa yang terjadi di meja makan. Namun setiap pagi tiba, tepat setelah si ayah berangkat ngantor demi menjaga tegaknya hukum di negeri ini, keadaan berubah 180 derajat: rumah itu mendadak hingar bingar oleh udara kebebasan. Si anak, seorang pengangguran yang tertekan, langsung merasa merdeka dan menyetel tape keras-keras. “Life begins at six forty!” (merujuk jam keberangkatan ayahnya), maka dimulailah rutinitas sehari-hari si slacker: mendengarkan musik metal sambil jingkrak-jingkrak, dan mendekam di kamar sepanjang hari sambil membaca komik. Ya, selain metalhead, tetangga saya itu juga seorang kolektor komik. Dan koleksinya cukup mengagumkan. » Read the rest of this entry «

Hikayat Si Koin Bolong

November 2nd, 2009 » 2

.

yencoinbolongthere’s a hole in my soul that’s been killing me forever / it’s a place where a garden never grows / there’s a hole in my soul yeah, I should have known better /’cause your love’s like a thorn without a rose
—”Hole in My Soul”, Aerosmith di album Nine Lives, 1997

Dulu waktu di Shinjuku saya sempat bertanya-tanya dalam hati kenapa beberapa koin uang Yen punya lubang di tengahnya. Ketika saya bertanya pada orang Jepang langsung (saya sendiri sebenarnya tak begitu yakin mereka tahu), yakni salah satunya Ibu Yamada yang cantik dan baik hati itu, yang pernah tinggal di Solo beberapa tahun, bukannya menjawab, dia malah balik bertanya ke saya apakah penjual rujak di bilangan Sriwedari masih ada. Sebagai sesama penggemar rujak, saya jawab saja “Masih ada, Bu!”—ini persoalan etika menyenangkan orang seberang—sembari berjanji dalam hati: begitu nanti saya pulang ke Solo, saya akan segera ke sana untuk mengecek ulang, dan mencicipinya tentu saja. Rujak buah yang rahasia kelezatan sambalnya terletak di kencur itu memang juara, tapi soal wisata kuliner nanti saja membahasnya. Saya masih penasaran soal koin bolong itu. » Read the rest of this entry «

Apa yang Kau Cari, Antonioni?

July 30th, 2009 » 0

BlowUp

.
They don’t mean anything when I do them. Just a mess.
Afterwards, I find something to hang on to…
Then it sorts itself out and adds up.
It’s like finding a clue in a detective story
.”
—Bill (John Castle), tentang lukisan-lukisan abstraknya, di film Blow-Up (Michelangelo Antonioni, UK, 1966)

London, 1966. Sebuah taman, luas dan sepi. Hijau rumput terhampar, begitu syahdu, begitu damai. Seorang fotografer berambut kusut dengan sorot mata nyalang, melangkah gontai tanpa tujuan, menyisir tepi taman. Nun jauh di tengah sana, tampak sepasang manusia bermesraan. Naluri fotografer mengatakan: itu objek menarik, maka dipotretlah mereka. Merasa privasi dia dan pasangannya terganggu, sang perempuan berang, lalu berlari mengejar sang fotografer. Dimintanya roll film itu, tapi sang fotografer menolak. » Read the rest of this entry «

Kopi, TV, Popularitas

July 25th, 2009 » 1

coffeeandtvmilk2

.
“Y’know, one time coffee was believed to be the drink of the devil. When Pope Vincent III heard about this, he decided to taste the drink before banning it. In fact, he enjoyed coffee so much, he wound up baptising it, stating ‘coffee is so delicious, it would be a pity to let the infidels have exclusive use of it’. I also feel that way about coffee. And about TV. And … about Blur.

—Bob Dylan, memperkenalkan “Coffee & TV” di acara radionya pada tahun 2006

Sebuah kotak susu berjalan di tengah keramaian kota. Di badannya menempel selembar foto anak hilang. Susah payah ditembusnya segala rintangan perjalanan itu: jalan raya yang penuh mobil, orang-orang berlalu lalang, risiko terlindas dan terinjak. Bagaimanapun, si anak hilang harus segera ditemukan. Di rumahnya telah menunggu dengan cemas sepasang orang tua—muka mereka murung. » Read the rest of this entry «

[Cerpen Favorit] Chief Sitting Bull

December 15th, 2008 » 7

.
(cerita pendek oleh Umar Kayam)

carousel

.
Pagi itu tidak banyak orang yang berkerumun di sekitar carousel Central Park. Hanya ada beberapa orang anak kelihatan bertengger di atas kuda-kudaan, seperti biasa tidak sabar menunggu lonceng tanda carousel berjalan berbunyi. Di bangku-bangku sekitar carousel, ibu-ibu atau pengasuh anak-anak itu duduk mengobrol sambil sesekali mengawasi anaknya. Teng-teng-teng. Lonceng berbunyi, wajah anak-anak berseri-seri, dan carousel pun bergerak. Kuda-kuda mulai naik-turun diiringi musik waltz.

Dari arah kebun binatang kelihatan seorang kakek berlari tergopoh. Di tangannya dijinjingnya sebuah kantong. Waktu sampai di muka loket, dengan napas sengal-sengal diberikannya uang lima puluh sen kepada perempuan yang menjual karcis.

“Lima, seperti biasa, Charlie?” » Read the rest of this entry «

Stroszek

February 21st, 2008 » 0

stroszek!

.
Berbekal glockenspiel dan akordeon plus pengalaman dua tahun di penjara karena alkohol, seorang penyanyi jalanan Berlin yang eksentrik mengajak seorang pelacur meninggalkan negerinya yang kaku demi menuju tanah pengharapan, Amerika. » Read the rest of this entry «

Atas Nama Jalanan…

October 29th, 2007 » 2

breathless

.
“…the words of the prophets are written on the subway walls…

—Simon and Garfunkel, “The Sound of Silence”

Jalanan, apa boleh buat, adalah sebuah drama zaman kita. Dia bukan lagi sekadar penanda lokasi (“Kantornya di jalan apa tadi, Bos?” tanya si tukang ojek sebelum tancap gas), tapi sekaligus panggung tempat orang-orang berekspresi. Ketika ojek membawa kita ngebut, meliuk-liuk menerobos kemacetan jalan yang tak masuk akal, tikung sana-sini dan hampir nyerempet mobil, naik ke atas trotoar, kita deg-degan dan tukang ojek tetap cuek; sesungguhnya drama suspense sedang terjadi. » Read the rest of this entry «

Photocopies

August 17th, 2007 » 0

photocopies!.
Perihal ingatan selalu menduduki tempat istimewa dalam kerumitan peradaban manusia. Berbagai penemuan tercipta demi ‘menolak hilang ingatan’: jam pasir di era Mesir kuno hingga jam weker modern buatan Swiss; lukisan purba di gua prasejarah hingga tulisan blog di dunia maya; kamera pertama ciptaan Joseph Niépce hingga piranti tercanggih di katalog terbaru Canon. Semakin maju teknologi, semakin kompleks pula pemikiran manusia: ranah ingatan kemudian melebar dari ‘sekadar upaya mengawetkan’ menjadi ‘sekaligus media berekspresi’. » Read the rest of this entry «