.
‘G’ means the hero gets the girl,
‘R’ means the villain gets the girl,
and ‘X’ means everyone gets the girl.
—sebuah lelucon lama
Barangkali banyak di antara kita yang tak paham (dan tak peduli) apa bedanya rating G, PG-13, NC-17, R, dan sebagainya. Tapi rasanya kita punya bayangan serupa mengapa sebuah film dicap huruf X atau kelipatannya. Adegan polisi Detroit sekarat diberondong senapan penjahat atau Arnold Schwarzenegger kebingungan dikejar-kejar tentara di Planet Mars mungkin luput dari ingatan kita, tapi siapa yang bisa melupakan cara Sharon Stone menyilangkan kaki dan sekelebat kita tahu tak ada celana dalam di balik rok mininya? Sama-sama ditasbihkan lembaga rating MPAA sebagai ‘X-rated film’, aksi ranjang di Basic Instinct rasanya lebih sah di persepsi kita ketimbang aksi kekerasan di RoboCop atau Total Recall. » Read the rest of this entry «




Perihal ingatan selalu menduduki tempat istimewa dalam kerumitan peradaban manusia. Berbagai penemuan tercipta demi ‘menolak hilang ingatan’: jam pasir di era Mesir kuno hingga jam weker modern buatan Swiss; lukisan purba di gua prasejarah hingga tulisan blog di dunia maya; kamera pertama ciptaan Joseph Niépce hingga piranti tercanggih di katalog terbaru Canon. Semakin maju teknologi, semakin kompleks pula pemikiran manusia: ranah ingatan kemudian melebar dari ’sekadar upaya mengawetkan’ menjadi ’sekaligus media berekspresi’. 

Tentang sinema, Lauren Bacall, aktris film-noir tahun 1940-an, pernah berkata, “The industry is shit, it’s the medium that’s great.” Terdengar sedikit heroik memang, tapi apa boleh buat: dalam wacana sinema, persoalan medium selalu jadi perbincangan menarik. Setelah Louis dan Auguste Lumière menemukan kamera film pertama di dunia pada tahun 1895, sejarah sinema pun dimulai. Film Lumière et compagnie ini adalah proyek sinting tentang penghormatan pada keajaiban gambar-hidup. Untuk memperingati 100 tahun kelahiran sinema, 40 sutradara ternama dari berbagai belahan dunia ditantang membuat film pendek dengan kamera Cinematograph, yakni kamera sama yang juga dipakai Lumière Bersaudara pada tahun 1895. Ada 3 aturan ketat: durasi film tak boleh lebih dari 52 detik, synchronized sound tidak diperbolehkan, dan maksimal hanya 3 kali take. 