ceko, ca. ’85

paman dolit mulai sering terlihat nongkrong di pengkolan pamong praha bareng si petruk dan si gareng dan pernah pada suatu sesi mereka kehabisan bahan obrolan setelah berbusa-busa membahas buku lelaki harimau lewat pembacaan dekat yang terlalu dekat lalu entah dari siapa ide pertama terlontar mereka pun sepakat mengajak band dekil-nya si unyil yang sudah beranjak dewasa dan mulai bosan sama yang gitu-gitu aja di karang tarunanya untuk ngejam session bareng (yeaayyy) tapi kentang gini bro duh bener juga ya maka demi totalitas semu dunia fana diundanglah sebagai bintang-tamu-dari-ibukota di pentas tujuhbelasan ini paklik doel kamdi yang bukannya datang sendiri malah mengajak turut serta si orang gila “di mana anakku/ di mana istriku” tapi ya sud gpp lah ya toh ini buat yang paham-paham aja dan boro-boro sempet latihan dulu mereka pun langsung tu wa ga pat sikaatt dan di bawah sinar bulan petromaks terbayangkan di kepala masing-masing adalah musik seperti tanjidor + jathilan tapi lewat kode kedipan mata yuk kompakan mainnya di-staccato-in aja wah boljug tuh bro dan lewat penafsiran bebas individu jazz yang merdeka sekaligus terkekang muncullah semacam improvisasi (padahal mungkin bukan) variasi riff dari reog/reggae yo-man yo-man plak-ke-tumplak-tumplak di tengah tempo yang tak kunjung stabil atau itu justru stabilitas tersendiri (!) dan meski nyaris tak ada keplok apalagi rokok yang melayang ke atas panggung tapi dari kursi yang terlalu keras di sudut kiri depan alias barisan yang terdepan tampak pak kades mengangguk-angguk bijak sambil berbisik sopan ke istri pak raden, “barangkali ini bu, yang mereka sebut kemajuan swasembada punk-an.” siaaap.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *